1/15 Coffee Shop, Suguhan Coffee Shop Nyaman, Serta Pas Untuk Meeting

(Sumber Foto: ihanifiqbal)

Hai para pembaca bacakopi, akhirnya baca kopi balik lagi membahas coffee shop. Untuk kali ini bacakopi ingin membahas salah satu coffee shop yang berada di daerah Menteng. Tempatnya yaitu 1/15 coffee shop, nyaman dan berkelas, begitulah kesan pertama bagi saya. Sebenarnya saya ke tempat ini karena tidak sengaja, itu juga karena diajak meeting oleh salah satu teman. Alih-alih belum pernah mengunjungi jadilah langsung meluncur ke tempat tersebut.

Saat itu saya juga membawa 2 orang teman lama, niatan kita sehabis dari kota tua adalah ingin mengerjakan kerjaan. Singkat cerita saya bawa lah ke coffee shop dimana saya ingin meeting, saat tiba di tempat tersebut ternyata cukup ramai. Mungkin karena akhir pekan, jadilah kami waiting list, menunggu tempat yang sekiranya sudah kosong.

“Tempatnya nyaman untuk meeting kerjaan. Saya juga melihat beberapa orang di sini khusyuk dengan meeting, namun diselingi obrolan santai. Terus apa lagi kalau bawa orang yang bikin nyaman, yaa.. itu kalau ada, yaudah meeting kerjaan saja, nanti kapan-kapan bawa pasangan yang bikin nyamannya” – Penulis Bacakopi

Deskripsi tempat dulu yang saya akan bahas, pertama tempatnya sangatlah nyaman. Entah kenapa walaupun ramai namun vibe yang disuguhkan sangat friendly dalam mengajak teman untuk berbincang, untuk meeting, serta membawa kekasih (jikalau punya) karena memang coffee shop mempunyai bangunan yang mungkin dulunya adalah rumah jaman lama namun disulap sedemikan rupa hingga menjadi lebih bagus. Namun yang kurang adalah colokan untuk menge-charge, harus ada sedikit tambahan, karena colokan yang disediakan terkadang tidak sesuai dengan semua gadget atau barang elektronik lainnya.

Fotografer: Hanif Iqbal
Fotografer: Hanif Iqbal
(Fotografer : Nisa Aqila)
(Fotografer : Nisa Aqila)

Menu yang ditawarkan sangat menggugah selera, saya mememsan long black, dan dua teman saya adalah coffee with ice, yang satu dengan ginger yang satu lagi mocha, dan voila! Untuk taste-nya diluar ekskpekktasi, ini long black terenak yang pernah saya coba di beberapa coffee shop di Jakarta. Asap dan pahitnya pas, tidak begitu asam pula, sangat cocok bagi saya. Serta ginger milk coffe dan ice mocha yang mempunyai rasa enak dan porsi yang pas. Di susu setelah itu, teman meeting saya memesan secangkir matcha latte. Harga untuk satu orang bisa menghabiskan kocek antara 40 ribu-100 ribu lebih, tergantung menu yang diorder. Beberapa menu kuenya juga terlihat enak (saya belum sempat mencobanya karena kondisi sudah sangat kenyang, mungkin next akan dibahas lagi di instagram saya)

Satu lagi, di 1/15 ini tempatnya juga sangat foto-able ya, teruntuk anak zaman now yang bukan cuma sekedar ingin ngopi tapi ingin mengabadikannya sekaligus di sini sangat mendukung. Tapi pokoknya kalau bisa ngopi ya nikmati kopi dan obrolannya, satu lagi nih foto sama beberapa teman dan difotoin gitu tapi siorangnya lesu keknya belum makan abis meeting.

fotografer: hanif iqbal
fotografer: hanif iqbal (Komuk ngantuk ape gimana?)
Fotografer: Nisa Aqila
Fotografer: Nisa Aqila (Edisi Muka lelah)

Untuk yang ingin meeting di sini tempatnya sangat strategis, ditengah kota serta cukup mudah ditemukan. Jika Anda ingin melipir untuk menghindari macet tengah kota, coffee shop yang satu ini sangat cocok. Namun memang harus sedikit sabar jika sedang penuh. Anda bisa memilih ingin menikmati kopi di dalam ruangan atau di luar, dua-duanya sangat nyaman menurut saya. Jangan lupa ngopi, dan mampir ke coffee shop yang satu ini, untuk kopinya bagi penggemar kopi semoga bisa cocok. Selamat ngopi! Selamat menjalankan hari!

Advertisements

Le Travail, Coffee Shop Teruntuk yang Pingin Menyendiri

(Photo by @ihanifqbal)
(Photo by @ihanifqbal)

Akhirnya saya berkunjung sejenak ke Yogyakarta, walaupun cuma mampir sehari tapi saya mencoba mencari coffee shop di Yogyakarta yang belum pernah saya kunjungi. Modal iseng-iseng nyari rekomendasi di Instagram, saya menemukan sebuah coffee shop bernama Le Travail Coffee, terlebih dekat dengan lokasi saya ingin bertemu dengan teman. Saya langsung menuju ke daerah Seturan dekat dengan kampus UPN.

“Pertama kali sampai saat itu jam 11 siang, lalu melihat bagian depannya sangat sepi dan cukup tenang untuk mengerjakan kerjaan dan membaca buku yang belum selesai dibaca”

Suasana sepi membuat saya berbincang dengan satu barista yang sedang jaga. Tertulis dibagian sudut coffee shop bahwa tempat ini buka 24 jam. Ada dua bagian tempat duduk, yang satu di luar dan yang satu lagi dibagian dalam dengan kursi empuk serta kesepian yang syahdu, belum lagi playlist lagunya yang cukup enak (Oasis dan lagu-lagu tahun 90an) mengiringi khusyuk dalam membaca atau sekedar menikmati suasana. Pada jam segitu eskpektasi saya coffee shop tersebut akan ramai, ternyata tidak, mungkin karena kampus yang ada dekat sana masih dalam libur panjang. Sambil menunggu teman yang datang saya menghabiskan dengan bacaan buku dan memotret beberapa gambar untuk nantinya dishare-ing. Kisaran menu yang tersedia terbilang murah, apa lagi sangat cocok untuk kantong mahasiswa. Harga menu yang ada berkisar dari 10 ribu-29 ribu. Jika Anda berkunjung ke sin Anda sudah dapat 2 kenyamanan, pertama dompet nyaman, serta suasana mengopi pun juga dapat nyamannya.

(Photo: ihanifiqbal)
(Photo: Ihanifiqbal)

“Untuk yang suka menyendiri saat sedang mengerjakan tugas atau ingin mecari suasana tenang”

Saya cukup merasa nyaman dalam tenang, menikmati segelas kopi vietnam drip serta sepiring kentang goreng. Unik dan baru merasakan metode vietnam drip dipadu dengan bean dari flores (pilihan saya) yang menggunakan susu kental manis, rasanya enak dan cocok untuk siang hari itu. Beberapa teman saya yang datang mencoba memesan minuman non coffee, ada lychee iced tea dan mereka bilang sangat enak dan cocok untuk kondisi Yogya yang waktu itu cukup panas. Kalau boleh dibilang coffee shop yang satu ini salah satu tempat yang enak untuk khusyuk ngebaca dan mengerjakan tugas. Rasa-rasanya bikin betah jikalau menjelang siang ke sini. Terlebih lagi, tempat ini cukup banyak menyediakan spot foto yang sangat “Instagram-able” atau foto untuk mengisi konten untuk tugas (kreatif) dan project-project yang sedang Anda buat.

(Photo from Instagram by @ihanifiqbal)

Berikut review singkat coffee shop di Yogyakarta, selamat mencoba dan selamat mengopi, jangan lupa ngopi bersama yang terkasih, sahabat, keluarga dan kawan lama. Siapa tau ada inspirasi.

 

 

 

Fillmore Coffee, Coffee Shop Nyempil Penghilang Penat di Selatan Jakarta

(Sumber Photo: @ihanifiqbal)
(Sumber Photo: @ihanifiqbal)

 

Para pecinta dan pembaca kopi yang budiman, akhirnya saya balik lagi dan membahas salah satu coffee shop yang rekomendasi sekali di Ibu Kota Jakarta ini, tepatnya di daerah Selatan Jakarta. Tempat ini memang sudah cukup lama saya dengar tapi baru ada kesempatan ke sini untuk khusus nyoba menu kopinya. Nama tempatnya adalah Fillmore Coffee, tepatnya di daerah Setiabudi Jl. H. Sidik, atau Kuningan sebelumnya Ambassador mall. Coffee shop yang satu ini cocok untuk bersantai sejenak, atau bagi kalian yang ingin menikmati suasana ngopi di akhir pekan di tempat yang agak berbeda. Tempatnya agak terpencil, namun tidak begitu sulit untuk mencari tempatnya. Menurut saya konsep tempat sangat unik, design bangunannya membuat saya cukup betah untuk sekedar membaca atau mengerjakan project-project yang ada. Minimalis, serta dibalut dengan unsur warna cokelat natural atau bahkan ada unsur hijau daun dibagian depan bangunan. Mengingatkan saya dengan salah satu coffee shop di Jepang yang pernah saya lihat di sosial media.

“Bisa saya bilang nemuin coffee shop ini kayak nemuin harta karun di hutan rimba, karena kayak serasa nemu tempat ngopi enak yang gak disangka-sangka ada di tengah hiruk pikuk kota.”

Untuk menu yang ditawarkan sangat bervariasi terutama makanannya, karena saya penggemar kopi seduh dengan metode V60, maka saya mencoba bean luar Panam Geisha yang ditawarkan. Untuk Harga bervariasi mulai dari Rp. 50.000 – Rp. 100.000 ++ untuk dua orangnya. Nyesel saya tidak beli menu makanan yang terpajang, terlihat menawan nan menggoda, seperti jenis roti maupun cake, atau juga ada smoothie bowl yang cukup lagi ngehits beberapa tahun ini. Rasa kopinya yang diolah pake metode V60 sangat cocok buat saya, dan juga iced honey latte juga tidak kalah enak.

 

“Catatannya adalah saya gak cukup sekali ke sini”

Fillmore Coffee buka dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam kalau weekend, kalau hari biasa bisa lebih pagi lagi, dari jam 7 sampai jam 8 malam tutupnya. Bagi yang mau menikmat secangkir kopi enak ditambah suasana yang agak berbeda ditengah kota nan macet ini, Fillmore coffee sangat cocok untuk tempat rehat sejena sehabis berkegiatan. Berikut review singkat dari salah satu coffee shop di Jakarta. Jangan lupa ngopi!

 

 

Ibarat Biji Kopi yang Dirawat hingga Tumbuh, Itulah Film Filosofi Kopi 2 Ben & Jody

 

 

(Sumber foto layar.id)

“Setiap hal yang punya rasa, selalu punya nyawa”

 

Kata-kata ini yang terngiang dari film bagian 2 dari sekuel Filosofi Kopi. Benar adanya bahwa setiap yang punya rasa adalah dari yang punya nyawa, adalah yang bukan sia-sia, dan membuat kita yang melihat sebuah kopi bukan cuma minuman yang diminum, tapi dinikmati. Sama seperti memaknai kehidupan yang kita rasakan.

Balik ke pembahasan Film Filosofi Kopi, bagi saya menonton film Filosofi kopi 1 dan ke 2 seperti melihat proses atau perjalanan biji kopi yang ditanam lalu hingga ke secangkirnya untuk dinikmati. Selalu ada proses yang khidmat dalam ceritanya. Perubahan demi perubahan bisa dilihat, tokoh Ben & Jody semakin tumbuh dengan hasil pencarian yang mereka temukan. Tidak usah diragukan lagi chemistry dua sahabat ini sangat luar biasa, sangat mumpuni ketika generasi yang akan datang mengetahui dua tokoh sahabat ini sebagai legenda dunia perkopian serta perfilman. Konflik yang hadir dalam cerita mampu membawa naik turun hati saya sebagai penonton.  Ditambah music scoring yang hadir mampu menawarkan sensasi yang apik dalam menikmati sebuah film. Menurut saya di awal bagian film memang akan terasa seperti cerita berjalan begitu adanya, tanpa ada bumbu-bumbu tambahan, sampai tiba dibagian tengah sampai akhir adalah bagian yang tidak diduga-duga dan membuat saya sangat terbawa atau bisa dibilang greget sendiri. Tokoh baru seperti Tara yang diperankan ole Luna Maya dan Brie yang diperankan oleh Nadine Alexandra dapat membawa pemanis dan menambah sebuah kejutan (Tadinya pingin spoiler, tapi kasian yang belum nonton mending nonton dah buran mumpung masih ada, atau di daerahnya tidak difilmkan nih satu film bisa langsung ke instagram @filkopmovie Ben&Jody, karena nanti akan ada buka layar buat nonton rame2 #KopiinIndonesia) .

Salut juga sama film filosofi kopi, mereka menerjemahkan sebuah kopi bukan sekedar di coffee shop yaitu  ditangan barista, namun lebih dari itu. Kopi yang nikmat dan mempunyai filosofi adalah yang berawal dari kebun, dijaga lalu dirawat seperti merawat anak sendiri. Di film yang ke 2 ini juga lebih menunjukan Indonesia yang kaya akan sejarah dunia perkopian. Selalu ada hal yang bisa dipelajari dan dilihat sisi baiknya di film ini. Belum lagi soundtrack film ini selalu selaras dan sejiwa, sangat pas dan epic!

“Sangat berterimakasih kepada sutradara Angga Sasongko karena telah membawa Filosofi Kopi lebih dari sekedar Kopi”

Dari film ini saya juga melihat beberapa sisi lain tempat ngopi, bahwa kopi enak memang berawal dari sebuah kesederhanaan, tak selalu yang ada di coffee shop yang mewah. Saya juga banyak belajar dari film yang satu ini. Belajar tentang persahabatan, kekompakan dan kerja dengan hati, cinta yang diperjuangkan, serta meredam ego dalam sebuah kelompok. Tidak cukup nonton 1 kali!

 

 

 

 

Edisi Cicip-Cicip Kopi

Akhirnya saya menulis tentang kopi juga, setelah sekian lama vakum karena kerjaan. Jadi untuk review kali ini saya membahas tentang “Bean” kopi yang sedang saya coba beberapa hari ini. Namun, saya akan mengawali dengan pembahasan manfaat menikmati kopi asli bukan yang sachet.

Para pembaca yang budiman mulai dari sekarang terapkanlah minum kopi namun tidak mengkonsumsi kopi sachet atau jenis kopi instan lainnya. FYI, kopi sachet/instan adalah kopi yang kurang berfaedah karena kandungannya pun tidak 100% kopi asli. Campuran jagung atau pahkan perasa Karena meminumnya pun bisa mempengaruhi kesehatan kita. Selain itu, kopi instan pun tidak mengandung anti-oksidan yang dibutuhkan oleh tubuh, dan juga Anda sebagai peminum kopi kurang bisa ber-eksperimen dengan rasa kopi yang enak.

“Biji Kopi atau bubuk kopi enak kan mahal…”

Mungkin banyak yang beranggapan seperti itu, tapi coba Anda cek kembali kedai-kedai kopi lokal yang menjual biji berkualitas atau toko-toko biji kopi di beberapa pasar seperti di Pasar Tanah Abang, atau bisa saja cek ke toko-toko online. Memang sudah cukup banyak yang menjual, tinggal di pilih sesuai yang diinginkan. Untuk harga bervariasi, jadi tinggal dipilih dan dicoba.

“Yuk cobain Kopinya!”

Balik lagi nih ke biji kopi yang saya cobain, jadi saya nyobain biji kopi yang saya titip dari teman saya yang pulang kampung ke Yogyakarta. Belinya di salah satu coffee shop andalan saat saya masih kuliah di Yogya, yaitu dari Studio Kopi. Mereka salah satu kedai kopi yang menyediakan biji kopi pilihan di Yogya dengan berbagai macam jenisnya.  Saya pake grinder manual (Sudah banyak tersedia kok) demi menikmati kopi lebih baik, dan saya minum kopinya bersama kakak sepupu saya untuk mengetest rasa dan meracik kalau-kalau nanti mau buka kedai kopi nan sederhana. Jenis yang saya beli adalah dari Bali, yaitu Bali Belantih Wash (Single Origin) dan ada beberapa oleh-oleh lagi dari teman saya yang juga penikmati kopi. Biji kopi tambahan dari teman saya merupakan biji yang sudah digrinder, lalu dari daerah Jawa Barat dengan nama Manglayang dan Puntung. 3 kopi tersebut saya coba awalnya dengan metode Manual Brewing.

Untuk rasanya, dua kopi dari Jawa Barat cenderung lebih asam, dan dari Bali in cukup unik lebih ke pahit dan asamnya ada dibagian terakhir. Kalau kata kakak saya begini…

“Untuk bean Bali belantih ini memang agak terlalu spesifik, bisa dibilang untuk orang yang tidak coffee snob/pecinta kopi banget pasti kurang suka, berbeda dengan yang dari Jawa Barat, rasanya lebih bisa diterima oleh semua kalangan.”

Celetuknya begitu.  Ya…gimana lagi mungkin pendapat tiap orang agak berbeda-beda, tapi ini yang kadang bikin seru, saya jadi ada teman debat maupun bertukar pikiran saat icip-icip kopi.

Berikut sesi icip-icip kopi lokal, saya kurang potret gambar sepertinya nih, saya sangat butuh saran dan komen untuk sesi cicip kopi selanjutnya. Bisa share artikel ini dan like, dan juga komen, terimakasih pembaca nan budiman, jangan lupa juga ngopi!

 

Critical Eleven dan Berdamai Dengan Pahit

Sumber Foto: Youtube
Sumber Foto: Youtube

Pertama-tama saya lagi jarang ke coffee shop, jadi malah bahas film dan cerita-cerita lainnya dulu. Secepatnya nanti akan ngebahas coffee shop dan hal-hal yang berbau kopi kok. Anyway, kali ini mau sedikit cerita tentang film yang saya baru tonton, film ini diangkat dari novel best seller. Yaitu “Critical Eleven” sebuah kisah romansa yang ternyata cukup membawa hati seperti naik roller coaster. Saya sebagai penonton rasanya terbawa oleh chemistry dari Ale dan Anya yang dibintangi oleh Reza Rahardian dan Adinia Wirasty.

“Sebenernya bukan karena saya baperan banget”

Tapi memang filmya mampu membawa masuk ke suasana, ditambah soundtracknya pula (Saya tidak mau spoiler lebih lanjut, bagi yang belum nonton sila ditonton!) Saya jadi ingat, di hari itu memang sepulang kantor saya menonton filmnya. Maka saya membutuhkan kopi di sore hari, rasa penasaran tentang filmnya sangat menjadi-jadi di dalam diri. Tentunya saya tidak ingin menikmati fillmnya sambil terkantuk. Maka dari itu segelas kopi pastilah ampun menghilangkan mengantuk. Di satu sisi, jadilah tercetus ide membahas film ini denga apa yang telah saya rasakan Tentunya ada sedikit hal yag berbau kopi, ya… dari prespektif berbeda.

Bisa dikatakan cerita ini mengingatkan saya akan salah satu cerita yang pernah saya buat untuk naskah yag sedang digodok. Di cerita ini menceritakan sebuah kisah sepasang suami istri yang diuji akan kekuatan cinta. Bukannya sok tau nih, tapi memang terlihat kalau cerita cinta saat setelah menikah akan benar-benar terasa diuji dibandingkan putus cinta saat pacaran. Menurut saya, putus cinta saat pacaran masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan patah hatinya cerita Ale dan Anya. Patah hati karena kisah cinta terlihat “almost perfect”  yang ternyata ada badainya, ada ujian yang begitu besar.

“Mirip-mirip rasa pahit kopi, namun entah yang lebih pahit yang mana.”

Film ini juga mengingatkan saya dengan belajar menikmati kepahitan, karena tidak semua pahit(atau jelmaan badai serta masalah yang ada) itu tidak kita rangkul. Belajar berdamai dengan diri sendiri atau dengan problema yang telah dilewati itu ternyata penting. Memang tidak mudah rasanya. Namun seiring berjalannya kehidupan ada saja fase bahwa “Kita tidak baik-baik saja” dan setiap individu punya cara masing-masing untuk menyelesaikannya. Kalau saya sendiri, memfilosofikan sebuah kopi bukan sekedar minuman pahit, mungkin itu adalah salah satu cara saya berdamai dengan sesuatu hal yang memang belum tentu sejalan dengan harapan. Semoga Anda punya cara tersendiri, yang jelas harus positif agar hidup lebih bermakna.

Dan satu hal lagi, namanya juga komitmen dalam menjali kasih, sebesar apapun badainya haruslah diperjuangkan. Atau memang kekuatan cinta yang ada pada kedua insan dalam cerita tersebut sangat kuat. Entahlah….. jadi sok tau gini tentang cinta, padahal juga jomblo saya. Dari pada saya spoler lagi mending dicoba tonton saja film Critical Eleven! Selamat menonton!

Anime, Cerita Tentang Harapan, dan Coffee Latte

(Sumber Foto: walldevil)

Untuk kalian generasi 90an, tentu masa mudanya kerap dihabiskan dengan banyak kartun bukan? Salah satu kebiasaan saya pun juga dulu adalah menonton, membaca komik, ataupun mengoleksi mainan dan barang yang berbau tokoh kartun kesukaan. Saya pun sebagai generasi yang cukup mengenal kartun-kartun yang berjaya pada masanya, tentu masih mengikuti. Walaupun tidak sesering dulu. Dimulai dari membaca komik, terutama kartun dan tokoh komik dari Jepang. Kebiasaan ini berlanjut, tapi berhenti ketika saya masuk kuliah. Karena memang sudah disibukan dengan banyak kegiatan dan tugas yang menumpuk.

Namun sekarang saya lebih bisa mempunyai waktu untuk membaca, dan mengerjakan pekerjaan. Mungkin karena di satu sisi hp sepi (Jomblo) jadi masih ada kegiatan bermanfaat lainnya. Akhirnya saya mencoba lagi mengikuti komik Jepang. Awalnya memang karena ingin mengenang masa-masa berjaya dengan sebuah komik, tapi lama kelamaan ada sisi lain dari membaca komik Jepang.

“Ketika diri ini sedang jatuh-jatuhnya karena kenyataan dunia yang sebenarnya, saya memilih mencari harapan di cerita dalam komik Anime Jepang”

 Entah kenapa mereka-mereka yang menciptakan komik adalah seseorang maestro bagi saya. Mereka yang punya mimpi besar. Mereka yang membuat khayalan namun membawa inspirasi kepada banyak insan. Sangat amat salut, mereka yang bekerja membuat karya seperti ini patut diapresiasikan. Terlebih mereka membuat karya yang memberi semangat. Saat saya terjebak dan benar-benar jatuh dengan suatu keadaan, dengan membaca atau menonton Animasi Jepang tertentu, saya bisa semangat lagi. Bukan hanya refreshing sejenak dari kegiatan yang ada. Namun menyegarkan lagi akan sebuah harapan, bahwa cerita-cerita mereka bisa memberikan kesan yang positif, bisa membuat penikmatnya tersihir.

“Jika memang ada kesungguhan, maka disitulah akan ada harapan, dan kejadian yang bisa diimpikan akan jadi kenyataan.”

Banyak dari beberapa komik membawa pesan itu. Seperti komik yang saya baca dan mengikuti animasinya adalah Doraemon, Naruto, Bleach, One Piece, Anime-anime dari Ghibli Studio, Hunter X Hunter, Captain Tsubasa,Kimi No Na Wa dan film atau komik Anime lainnya. Menikmati bacaan dan film kartun asal negeri Jepang ini bagi saya adalah teman yang cocok untuk menikmati Coffee latte atau pun Cappucino. Hal tersebut karena saya lebih memilih sesuatu hal yang manis dan penuh rasa lain selain rasa pahit yang berlebihan, mengingatkan akan hari esok selalu ada harapan. Sama seperti cerita-cerita dengan gambar, memberi sentuhan kalau kehidupan kita bukan hanya mimpi belaka. Semua pastilah ada jalannya.

“Itulah yang saya suka dari cerita-cerita Anime Jepang, mereka membawa pesan kehidupan lain agar kita nikmati, ambil hikmahnya, dan tetap tidak menyerah dengan apa yang kita jalani.”