Fillmore Coffee, Coffee Shop Nyempil Penghilang Penat di Selatan Jakarta

(Sumber Photo: @ihanifiqbal)
(Sumber Photo: @ihanifiqbal)

 

Para pecinta dan pembaca kopi yang budiman, akhirnya saya balik lagi dan membahas salah satu coffee shop yang rekomendasi sekali di Ibu Kota Jakarta ini, tepatnya di daerah Selatan Jakarta. Tempat ini memang sudah cukup lama saya dengar tapi baru ada kesempatan ke sini untuk khusus nyoba menu kopinya. Nama tempatnya adalah Fillmore Coffee, tepatnya di daerah Setiabudi Jl. H. Sidik, atau Kuningan sebelumnya Ambassador mall. Coffee shop yang satu ini cocok untuk bersantai sejenak, atau bagi kalian yang ingin menikmati suasana ngopi di akhir pekan di tempat yang agak berbeda. Tempatnya agak terpencil, namun tidak begitu sulit untuk mencari tempatnya. Menurut saya konsep tempat sangat unik, design bangunannya membuat saya cukup betah untuk sekedar membaca atau mengerjakan project-project yang ada. Minimalis, serta dibalut dengan unsur warna cokelat natural atau bahkan ada unsur hijau daun dibagian depan bangunan. Mengingatkan saya dengan salah satu coffee shop di Jepang yang pernah saya lihat di sosial media.

“Bisa saya bilang nemuin coffee shop ini kayak nemuin harta karun di hutan rimba, karena kayak serasa nemu tempat ngopi enak yang gak disangka-sangka ada di tengah hiruk pikuk kota.”

Untuk menu yang ditawarkan sangat bervariasi terutama makanannya, karena saya penggemar kopi seduh dengan metode V60, maka saya mencoba bean luar Panam Geisha yang ditawarkan. Untuk Harga bervariasi mulai dari Rp. 50.000 – Rp. 100.000 ++ untuk dua orangnya. Nyesel saya tidak beli menu makanan yang terpajang, terlihat menawan nan menggoda, seperti jenis roti maupun cake, atau juga ada smoothie bowl yang cukup lagi ngehits beberapa tahun ini. Rasa kopinya yang diolah pake metode V60 sangat cocok buat saya, dan juga iced honey latte juga tidak kalah enak.

 

“Catatannya adalah saya gak cukup sekali ke sini”

Fillmore Coffee buka dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam kalau weekend, kalau hari biasa bisa lebih pagi lagi, dari jam 7 sampai jam 8 malam tutupnya. Bagi yang mau menikmat secangkir kopi enak ditambah suasana yang agak berbeda ditengah kota nan macet ini, Fillmore coffee sangat cocok untuk tempat rehat sejena sehabis berkegiatan. Berikut review singkat dari salah satu coffee shop di Jakarta. Jangan lupa ngopi!

 

 

Ibarat Biji Kopi yang Dirawat hingga Tumbuh, Itulah Film Filosofi Kopi 2 Ben & Jody

 

 

(Sumber foto layar.id)

“Setiap hal yang punya rasa, selalu punya nyawa”

 

Kata-kata ini yang terngiang dari film bagian 2 dari sekuel Filosofi Kopi. Benar adanya bahwa setiap yang punya rasa adalah dari yang punya nyawa, adalah yang bukan sia-sia, dan membuat kita yang melihat sebuah kopi bukan cuma minuman yang diminum, tapi dinikmati. Sama seperti memaknai kehidupan yang kita rasakan.

Balik ke pembahasan Film Filosofi Kopi, bagi saya menonton film Filosofi kopi 1 dan ke 2 seperti melihat proses atau perjalanan biji kopi yang ditanam lalu hingga ke secangkirnya untuk dinikmati. Selalu ada proses yang khidmat dalam ceritanya. Perubahan demi perubahan bisa dilihat, tokoh Ben & Jody semakin tumbuh dengan hasil pencarian yang mereka temukan. Tidak usah diragukan lagi chemistry dua sahabat ini sangat luar biasa, sangat mumpuni ketika generasi yang akan datang mengetahui dua tokoh sahabat ini sebagai legenda dunia perkopian serta perfilman. Konflik yang hadir dalam cerita mampu membawa naik turun hati saya sebagai penonton.  Ditambah music scoring yang hadir mampu menawarkan sensasi yang apik dalam menikmati sebuah film. Menurut saya di awal bagian film memang akan terasa seperti cerita berjalan begitu adanya, tanpa ada bumbu-bumbu tambahan, sampai tiba dibagian tengah sampai akhir adalah bagian yang tidak diduga-duga dan membuat saya sangat terbawa atau bisa dibilang greget sendiri. Tokoh baru seperti Tara yang diperankan ole Luna Maya dan Brie yang diperankan oleh Nadine Alexandra dapat membawa pemanis dan menambah sebuah kejutan (Tadinya pingin spoiler, tapi kasian yang belum nonton mending nonton dah buran mumpung masih ada, atau di daerahnya tidak difilmkan nih satu film bisa langsung ke instagram @filkopmovie Ben&Jody, karena nanti akan ada buka layar buat nonton rame2 #KopiinIndonesia) .

Salut juga sama film filosofi kopi, mereka menerjemahkan sebuah kopi bukan sekedar di coffee shop yaitu  ditangan barista, namun lebih dari itu. Kopi yang nikmat dan mempunyai filosofi adalah yang berawal dari kebun, dijaga lalu dirawat seperti merawat anak sendiri. Di film yang ke 2 ini juga lebih menunjukan Indonesia yang kaya akan sejarah dunia perkopian. Selalu ada hal yang bisa dipelajari dan dilihat sisi baiknya di film ini. Belum lagi soundtrack film ini selalu selaras dan sejiwa, sangat pas dan epic!

“Sangat berterimakasih kepada sutradara Angga Sasongko karena telah membawa Filosofi Kopi lebih dari sekedar Kopi”

Dari film ini saya juga melihat beberapa sisi lain tempat ngopi, bahwa kopi enak memang berawal dari sebuah kesederhanaan, tak selalu yang ada di coffee shop yang mewah. Saya juga banyak belajar dari film yang satu ini. Belajar tentang persahabatan, kekompakan dan kerja dengan hati, cinta yang diperjuangkan, serta meredam ego dalam sebuah kelompok. Tidak cukup nonton 1 kali!

 

 

 

 

Edisi Cicip-Cicip Kopi

Akhirnya saya menulis tentang kopi juga, setelah sekian lama vakum karena kerjaan. Jadi untuk review kali ini saya membahas tentang “Bean” kopi yang sedang saya coba beberapa hari ini. Namun, saya akan mengawali dengan pembahasan manfaat menikmati kopi asli bukan yang sachet.

Para pembaca yang budiman mulai dari sekarang terapkanlah minum kopi namun tidak mengkonsumsi kopi sachet atau jenis kopi instan lainnya. FYI, kopi sachet/instan adalah kopi yang kurang berfaedah karena kandungannya pun tidak 100% kopi asli. Campuran jagung atau pahkan perasa Karena meminumnya pun bisa mempengaruhi kesehatan kita. Selain itu, kopi instan pun tidak mengandung anti-oksidan yang dibutuhkan oleh tubuh, dan juga Anda sebagai peminum kopi kurang bisa ber-eksperimen dengan rasa kopi yang enak.

“Biji Kopi atau bubuk kopi enak kan mahal…”

Mungkin banyak yang beranggapan seperti itu, tapi coba Anda cek kembali kedai-kedai kopi lokal yang menjual biji berkualitas atau toko-toko biji kopi di beberapa pasar seperti di Pasar Tanah Abang, atau bisa saja cek ke toko-toko online. Memang sudah cukup banyak yang menjual, tinggal di pilih sesuai yang diinginkan. Untuk harga bervariasi, jadi tinggal dipilih dan dicoba.

“Yuk cobain Kopinya!”

Balik lagi nih ke biji kopi yang saya cobain, jadi saya nyobain biji kopi yang saya titip dari teman saya yang pulang kampung ke Yogyakarta. Belinya di salah satu coffee shop andalan saat saya masih kuliah di Yogya, yaitu dari Studio Kopi. Mereka salah satu kedai kopi yang menyediakan biji kopi pilihan di Yogya dengan berbagai macam jenisnya.  Saya pake grinder manual (Sudah banyak tersedia kok) demi menikmati kopi lebih baik, dan saya minum kopinya bersama kakak sepupu saya untuk mengetest rasa dan meracik kalau-kalau nanti mau buka kedai kopi nan sederhana. Jenis yang saya beli adalah dari Bali, yaitu Bali Belantih Wash (Single Origin) dan ada beberapa oleh-oleh lagi dari teman saya yang juga penikmati kopi. Biji kopi tambahan dari teman saya merupakan biji yang sudah digrinder, lalu dari daerah Jawa Barat dengan nama Manglayang dan Puntung. 3 kopi tersebut saya coba awalnya dengan metode Manual Brewing.

Untuk rasanya, dua kopi dari Jawa Barat cenderung lebih asam, dan dari Bali in cukup unik lebih ke pahit dan asamnya ada dibagian terakhir. Kalau kata kakak saya begini…

“Untuk bean Bali belantih ini memang agak terlalu spesifik, bisa dibilang untuk orang yang tidak coffee snob/pecinta kopi banget pasti kurang suka, berbeda dengan yang dari Jawa Barat, rasanya lebih bisa diterima oleh semua kalangan.”

Celetuknya begitu.  Ya…gimana lagi mungkin pendapat tiap orang agak berbeda-beda, tapi ini yang kadang bikin seru, saya jadi ada teman debat maupun bertukar pikiran saat icip-icip kopi.

Berikut sesi icip-icip kopi lokal, saya kurang potret gambar sepertinya nih, saya sangat butuh saran dan komen untuk sesi cicip kopi selanjutnya. Bisa share artikel ini dan like, dan juga komen, terimakasih pembaca nan budiman, jangan lupa juga ngopi!

 

Critical Eleven dan Berdamai Dengan Pahit

Sumber Foto: Youtube
Sumber Foto: Youtube

Pertama-tama saya lagi jarang ke coffee shop, jadi malah bahas film dan cerita-cerita lainnya dulu. Secepatnya nanti akan ngebahas coffee shop dan hal-hal yang berbau kopi kok. Anyway, kali ini mau sedikit cerita tentang film yang saya baru tonton, film ini diangkat dari novel best seller. Yaitu “Critical Eleven” sebuah kisah romansa yang ternyata cukup membawa hati seperti naik roller coaster. Saya sebagai penonton rasanya terbawa oleh chemistry dari Ale dan Anya yang dibintangi oleh Reza Rahardian dan Adinia Wirasty.

“Sebenernya bukan karena saya baperan banget”

Tapi memang filmya mampu membawa masuk ke suasana, ditambah soundtracknya pula (Saya tidak mau spoiler lebih lanjut, bagi yang belum nonton sila ditonton!) Saya jadi ingat, di hari itu memang sepulang kantor saya menonton filmnya. Maka saya membutuhkan kopi di sore hari, rasa penasaran tentang filmnya sangat menjadi-jadi di dalam diri. Tentunya saya tidak ingin menikmati fillmnya sambil terkantuk. Maka dari itu segelas kopi pastilah ampun menghilangkan mengantuk. Di satu sisi, jadilah tercetus ide membahas film ini denga apa yang telah saya rasakan Tentunya ada sedikit hal yag berbau kopi, ya… dari prespektif berbeda.

Bisa dikatakan cerita ini mengingatkan saya akan salah satu cerita yang pernah saya buat untuk naskah yag sedang digodok. Di cerita ini menceritakan sebuah kisah sepasang suami istri yang diuji akan kekuatan cinta. Bukannya sok tau nih, tapi memang terlihat kalau cerita cinta saat setelah menikah akan benar-benar terasa diuji dibandingkan putus cinta saat pacaran. Menurut saya, putus cinta saat pacaran masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan patah hatinya cerita Ale dan Anya. Patah hati karena kisah cinta terlihat “almost perfect”  yang ternyata ada badainya, ada ujian yang begitu besar.

“Mirip-mirip rasa pahit kopi, namun entah yang lebih pahit yang mana.”

Film ini juga mengingatkan saya dengan belajar menikmati kepahitan, karena tidak semua pahit(atau jelmaan badai serta masalah yang ada) itu tidak kita rangkul. Belajar berdamai dengan diri sendiri atau dengan problema yang telah dilewati itu ternyata penting. Memang tidak mudah rasanya. Namun seiring berjalannya kehidupan ada saja fase bahwa “Kita tidak baik-baik saja” dan setiap individu punya cara masing-masing untuk menyelesaikannya. Kalau saya sendiri, memfilosofikan sebuah kopi bukan sekedar minuman pahit, mungkin itu adalah salah satu cara saya berdamai dengan sesuatu hal yang memang belum tentu sejalan dengan harapan. Semoga Anda punya cara tersendiri, yang jelas harus positif agar hidup lebih bermakna.

Dan satu hal lagi, namanya juga komitmen dalam menjali kasih, sebesar apapun badainya haruslah diperjuangkan. Atau memang kekuatan cinta yang ada pada kedua insan dalam cerita tersebut sangat kuat. Entahlah….. jadi sok tau gini tentang cinta, padahal juga jomblo saya. Dari pada saya spoler lagi mending dicoba tonton saja film Critical Eleven! Selamat menonton!

Anime, Cerita Tentang Harapan, dan Coffee Latte

(Sumber Foto: walldevil)

Untuk kalian generasi 90an, tentu masa mudanya kerap dihabiskan dengan banyak kartun bukan? Salah satu kebiasaan saya pun juga dulu adalah menonton, membaca komik, ataupun mengoleksi mainan dan barang yang berbau tokoh kartun kesukaan. Saya pun sebagai generasi yang cukup mengenal kartun-kartun yang berjaya pada masanya, tentu masih mengikuti. Walaupun tidak sesering dulu. Dimulai dari membaca komik, terutama kartun dan tokoh komik dari Jepang. Kebiasaan ini berlanjut, tapi berhenti ketika saya masuk kuliah. Karena memang sudah disibukan dengan banyak kegiatan dan tugas yang menumpuk.

Namun sekarang saya lebih bisa mempunyai waktu untuk membaca, dan mengerjakan pekerjaan. Mungkin karena di satu sisi hp sepi (Jomblo) jadi masih ada kegiatan bermanfaat lainnya. Akhirnya saya mencoba lagi mengikuti komik Jepang. Awalnya memang karena ingin mengenang masa-masa berjaya dengan sebuah komik, tapi lama kelamaan ada sisi lain dari membaca komik Jepang.

“Ketika diri ini sedang jatuh-jatuhnya karena kenyataan dunia yang sebenarnya, saya memilih mencari harapan di cerita dalam komik Anime Jepang”

 Entah kenapa mereka-mereka yang menciptakan komik adalah seseorang maestro bagi saya. Mereka yang punya mimpi besar. Mereka yang membuat khayalan namun membawa inspirasi kepada banyak insan. Sangat amat salut, mereka yang bekerja membuat karya seperti ini patut diapresiasikan. Terlebih mereka membuat karya yang memberi semangat. Saat saya terjebak dan benar-benar jatuh dengan suatu keadaan, dengan membaca atau menonton Animasi Jepang tertentu, saya bisa semangat lagi. Bukan hanya refreshing sejenak dari kegiatan yang ada. Namun menyegarkan lagi akan sebuah harapan, bahwa cerita-cerita mereka bisa memberikan kesan yang positif, bisa membuat penikmatnya tersihir.

“Jika memang ada kesungguhan, maka disitulah akan ada harapan, dan kejadian yang bisa diimpikan akan jadi kenyataan.”

Banyak dari beberapa komik membawa pesan itu. Seperti komik yang saya baca dan mengikuti animasinya adalah Doraemon, Naruto, Bleach, One Piece, Anime-anime dari Ghibli Studio, Hunter X Hunter, Captain Tsubasa,Kimi No Na Wa dan film atau komik Anime lainnya. Menikmati bacaan dan film kartun asal negeri Jepang ini bagi saya adalah teman yang cocok untuk menikmati Coffee latte atau pun Cappucino. Hal tersebut karena saya lebih memilih sesuatu hal yang manis dan penuh rasa lain selain rasa pahit yang berlebihan, mengingatkan akan hari esok selalu ada harapan. Sama seperti cerita-cerita dengan gambar, memberi sentuhan kalau kehidupan kita bukan hanya mimpi belaka. Semua pastilah ada jalannya.

“Itulah yang saya suka dari cerita-cerita Anime Jepang, mereka membawa pesan kehidupan lain agar kita nikmati, ambil hikmahnya, dan tetap tidak menyerah dengan apa yang kita jalani.”

 

 

Catatan Resah, Iklan, dan Kopi Hitam

Ilustrasi (foto ihanifiqbal)

“I have many sleepless nights, gue khawatir terhadap mimpi-mimpi gue sendiri, mimpi-mimpi yang terlalu besar, terlalu ambisius.”

Kutipan tersebut saya dengar dari salah satu iklan kreatif, dibintangi oleh satu anak muda kreatif yang Indonesia punya. Catatan saya beberapa bulan setelah kelulusan kuliah adalah hal ini. Yang kerap terjadi pada diri saya, dan selalu terpikir di malam hari saat ada deadline kerjaan ataupun hanya ditemani musik. Belum lagi, seruputan kopi hitam pada sore hari menambah tak bisa tidur akan malamnya.

Masih muda dan bergejolaknya idealisme dalam diri, obsesi yang melambung tinggi menjadi pendukung dari keyakinan tersebut. Saya terus berjalan tanpa, tanpa menghiraukan bahwa yang terjadi ke depan terkadang tidak selalu bisa membuat semua yang diinginkan pasti berjalan dengan lancar. Jatuh bangun memang membuat saya kerap masih berpikir panjang untuk berjalan lagi, karena adanya pihak yang tak terduga misalkan. Mereka yang tidak terduga datang menampar bahwa akan realita yang ada. Banyak yang menjatuhkan namun tidak sedikit juga yang membantu. Di era sekarang, menurut saya adalah era dimana saya harus terus bertahan tanpa harus berlama-lama akan malas dari melangkah karena habis terjatuh.

“Banyak jalan menuju Roma”

Sering terdengar akan kutipan tersebut, kutipan entah dari mana pastinya. Tapi memang bisa jadi benar selama kita mau terus melangkah dan tidak lupa dengan sang pencipta. Jangan mulai berjalan jangan dengan sombong, selalu ingat dengan yang menciptakan dunia ini, itulah yang selalu ditanamkan orang tua saya. Hal ini menjadi salah satu pacuan untuk tidak mau menyerah dengan kondisi yang ada. Satu hal lagi yang bisa membuat rasa khawatir akan mimpi-mimpi besar saya hilang.Yaitu adalah saat saya bangun tidur, mengawalinya dengan pagi hari, selalu ada banyak hal sederhana yang bisa membaut saya bersyukur. Tenang dan tidak panik, lalu siap menjalani setiap harinya dengan doa.

Menerima banyak saran serta kritikan adalah hal yang bisa menjadi cambuk bagi diri. Setiap saya membuat sesuatu yang menginspirasi, setiap itu juga saya harus menampung ide dan masukan dari banyak pihak. Tentu tujuannya adalah untuk menjadikan sesuatu yang kita buat, nantinya akan menjadi lebih baik. Banyaknya tantangan juga membuat saya terus berpikir untuk berinovasi, menjadi copy writer iklan seperti yang saya jalani sekarang memang tidak mudah. Tapi dari pekerjaan itu saya terus belajar untuk mengolah, untuk melatih kepekaan terhadap banyak hal.

Adapun sebuah kutipan di atas saya dapat dari iseng-isengnya mencari iklan yang menginspirasi. Jadilah saya menemukan iklan ini. Cukup menampar, namun membuat saya terhipnotis dengan keadaan sekarang. Keadaan dimana saya harus bangun dari tidur, melupakan lara yang membekas, keadaan dimana saya harus terus berkarya dengan passion, keadaan dimana saya harus membuktikan bahwa mimpi saya adalah mimpi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.  Hidup cuma sekali, saya harus memanfaatkan waktu yang ada, harus berselaras dengan tantangan. Toh tantangan yang ada adalah yang diberikan dan bisa diselesaikan.

“Dan satu lagi, terselip akan mimpi saya bisa bertemu dan berjalan dengan perempuan yang sedari sudah lama saya impikan, pokoknya adalah… saya tidak harus menyebutkan nama,lokasi, dan lain-lain, cukup dalam doa.”

Video Content, Coffee Shop Di Bekasi dan Cerita Mengenal Kopi

 

Beberapa minggu yang lalu saya membantu membuat sebuah konten. Konten di youtube ini berisikan tentang orang-orang yang sedang belajar dengan passionnya atau hobi. Bisa dibilang konten ini buat yang mau sharing hal yang disukainnya. Dari situ, saya mengunjungi coffee shop di daerah Bekasi untuk mengambil gambar, menikmati komennya, dan serta menjawab beberapa pertanyaan yang ada.

Sumber: Kopi baris.blogspot)

Kopi Baris namanya, salah satu tempat ngopi di daerah Bekasi. Tempat ngopi enak di bekasi ini lokasinya di sebrang SMAN 1 Bekasi, di Jalan KH Agus Salim. Tempat ini Cukup nyaman, harga juga sangat bersahabat, dan yang terpenting signature coffee juga punya rasa yang tidak kalah enak. Berbincang dengan barista saat membuat kopi ternyata memang mempunyai pengalaman berbeda, sambil meracik, sambil memahami secangkir kopi yang akan dinikmati. Coffee shop ini cocok untuk berbincang atau sekedar berkumpul-kumpul dengan kawan di malam minggu. Harga yang ditawarkan juga berkawan dengan dompet, di sininkamu bisa menikmati kopi enak dan juga cemilan atau makanan lainnya. Dengan kocek 50 ribu lebih, kamu sudah menikmati penghilang haus yang enak, dan makanannya.

Saya memilih salah satu kopi dengan metode manual brewing, sambil menikmati kopi saya pun bercerita tentang mengapa saya punya ketertarikan lebih akan secangkir kepahitan ini. Memori  kilas balik akan pengenalan kopi dalam pikiran saya terulang. Memang dari kecil suka minum kopi di saat sore hari, saat itu pagi saya belum pernah tersentuh akan secangkir kopi kecuali sore hari. Tidak seperti sekarang, lebih suka ngopi pagi karena kebutuhan.

Banyak yang saya masih harus pelajari, tidak cuma sekedar mekmati kopi. Bukannya sok akan perfeksionis terhadap secangkir kenikmatan dunia yang satu ini, tapi karena kegilaan saya akan kopi jadilah harus banyak memperhatikan berbagai macam hal akan kopi. Kalaupun ada yang mau share-ing tentang kopi kita bisa ngobrol-ngobrol dan saling mendengar kok, bisa langsung komen di blog atau email atau juga follow Instagram saya ihanifiqbal #ngarep

“Kopi tuh punya rasa sendiri-sendiri di tiap daerahnya, punya karakter, itu yang ngebuat gue penasaran sama kopi”

Kata-kata itu teringat, sebuah kata-kata dari salah satu teman kantor yang memang dia penikmat kopi juga. Ia mengatakannta saat kiat berkunjung ke salah satu festival kopi nasional di Kuningan City. Memang benar adanya, bagi kita penggila kopi ini, kopi bukan sekedar minuman pahit namun mempunyai karakter dan cerita tersendiri.