Apa Masih Bisa disebut Rumah?

 

Balik dari tempat perantauan, tentunya aku pulang ke rumah. Rumah dimana aku tinggal dan sudah dari semasa kecil pula. Sudah dua tahun ini aku merasa bahwa rumah yang selama ini aku tinggali sudah bukan seperti merasa rumah yang aku sebut rumah. Kisahnya telah berubah, suasananya sedikit berubah. Karena aku merasa tempat aku pulang adalah tempat aku belajar selama tiga tahun ini. Setibanya di tempat yang aku sebut rumah hanya ada gambaran dari kenyataan, suara dari doa-doa yang belum terjawab mungkin, serta sapaan lama dari beberapa kegelisahan. Aku jalan di dari depan gerbang pintu hanya ada kelesuhan dan lelah akan beratnya sesuatu haal yang harus aku terima sekarang.

Karena semua ini harus aku sebut rumah sementara untuk sekarang, dan berbekal keyakinan yang ada, bahwa sebentar lagi aku harus meninggalkan apa yang disebut rumah. Merasa bahwa rumah yang dulu aku tinggali ternyata sudah ditinggali juga oleh keramaian yang lama-kelamaan meredup. Antara benci dan sedih, namun aku tidak boleh terasuk oleh semua itu, maka nihil maknanya dan ucapanku dari hati, ditambah bisa kosong surganya bila aku terlalu dilarut kegelapan. Semoga masih ada cinta yang bersemayam dalam tanah-tanahnya, dalam kesabaran dalam doa yang pasti terjawab dikala waktunya tepat.

” Will it ends?
When will it be
We will get the house we’ve seen “

 Penggalan lirik lagu dari duo folks Stars and Rabbit yang berjudul ” The House”mengingatkanku pada artinya, bahwa ada rumah yang ternyata bisa dibilang sudah bisa disebut rumah.

 Masih bingung, namun masih ada yang bisa ku syukuri untuk sedikit cerita, keheningan di rumah ini membuatku selalu berpikir dalam cemas, semangat, ataupun bimbang karena beberapa pilihan. Ditambah rumah ini sudah tidak bisa aku sebut rumah lagi. Gitar listrik yang terletak di ujung ruangan santai saja sudah tidak ada senarnya lagi, sudah berkarat namun masih layak pakai untuk nantinya bila aku bisa membawanya ke tempat bengkel gitar. Pahit juga rasanya, bahkan lebih pahit dari secangkir Kopi pagiku. Mungkin benar bila aku harus mencari rumah yang bisa aku sebut rumah, jujur bila aku masih rindu akan kota istimewa itu, dan ingin aku sebut rumah nantinya, rumah dimana aku selalu nyaman untuk pulang dan melakukan banyak hal.

 

Memuisikan Sebuah Alunan Lagu (Sudah Dua Hari Ini Mendung)

 

Perjalananku dihiasi dengan kisah romansa,

romansa dengan perempuan idaman.

Terikat namun terasa jauh.

Indah dengan damai sampai relung.

Jika salahku menuntut mesra, maka bilanglah tampa ragu.

Ucapan manismu selalu diikuti suara itu,

hati hanya mengingat, pikiran hanya merasa,

sejadinya terbalik seperti itu karena cinta.

Terasa senang bisa melihatmu tersenyum,

tampa harus mendengar suara, hanya dalam pesan.

Imaji melambung tinggi,

tinggi tampa sadar bahwa hati yang mendamba bisa retak kapan saja.

Rindu dalam doa,

pengharapan terdalam digulung dan ditutup rapih.

Sekarang adalah waktu aku bisa bahagia,

bahagia mendengar ia dengan lelaki yang lebih baik dalam segi apapun.

Sudah mendung tapi tak kunjung hujan,

apa asa yang tertinggal masih ada?

Hanya sajak klise yang saya buat berdasarkan langit yang mendung, yang saya rasa bukan gundah yang membekas, apa lagi harus memikirkan sosok wanitanya. Hanya ingin menyampaikan apa yang disampaikan, tampa perlu wanita itu tau. Memuisikan sebuah alunan musik dari Gardika Gigih Pradipta yang berjudul “Sudah dua hari ini mendung,”  ini ide yang terbesit dari buah pikiran dalam relung. Alunan yang ia buat serasa benar-benar tulus, senang bisa membuat hal ini, bukan maksud hati merusak sebuah karya orang lain namun saya hanya penasaran dan ingin mencoba bila sebuah musik bisa di-translate menjadi sebuah aksara.  Banyak bertele-tele dirasa saya egois, tapi maaf, saya hanya ingin berkarya karena ingin berkarya.

Catatan bacakopi: Teman Minum Secangkir Kopi

coffe&BREAD

 Apa yang ada dibenak seseorang jika harus menjawab pertanyaan “Teman minum secangkir Kopi? ” atau “Cemilan saat minum Kopi? ” dibenakku hanya ada beberapa kudapan seperti Singkong goreng dan Roti. Untuk yang satu ini aku lebih memilih Roti, Roti dengan aroma kayu manis, Roti dengan cream atau Roti bulan sabit yang biasa banyak orang kenal dengan nama Croissant. Mencari kudapan untuk teman minum Kopi memang tidak semua orang akan sama, rasa yang tiap individu memang berbeda-beda namun tetap mempunyai kudapan andalan. Terkadang aku bisa menemukan surga dunia jika harus menikmati secangkir Kopi ditambah kudapan khas daerah tempat aku menikmati Kopinya atau harus ditemani dengan Roti.

 Roti dan secangkir Kopi adalah hal yang tidak bisa dipisahkan disetiap paginya, atau waktu senggangku. Bukan merasa berkelas alih-alih anti kudapan lainnya, tapi ada suasana berbeda bagiku. Karena Roti dan secangkir Kopi mengingatkan aku kembali kepada memori lama, memori saat aku kecil. Banyak hal sederhana seperti ini yang aku bisa nikmati dan berbagi, berbagi dengan selembar kertas untuk ditulis dan pulpen yang akan menuangkan inspirasi yang tentunya dari cara menikmati Kopi. Ibarat menemukan jodoh atau teman hidup, teman minum Kopi pun bisa setara dengan hal tadi. Serasanya cocok dan nyaman maka akan menciptakan hal baru dan hal yang membuat kita tidak terpikirkan sebelumnya.

Kopi Manis, Sapaan, Hitam

Secangkir kopi pagi di hari itu dirasa tidak biasa,

tidak biasanya karena rasanya manis.

Aku sudah terbiasa meminum kopi hitam pekat tampa gula.

Meneguk yang manis terasa berbeda.

Hari itu juga aku kembali menyapamu.

Terasa asing dan tidak biasa.

Sepertinya aku sudah tenggelam dalam lupamu,

lupa yang ditanam di benak.

Sadarku butuh tersadar,

tersadar oleh rasa kopi yang pahit.

Persetan sudah dengan hadirmu,

hadir yang membekas hanya berujung sesal.

Sesal dirasa berbuah, muncul tak bertuan.

Wujud buahnya dinamakan hikmah.

Terpalung rindu dan tak ada ruang,

maka hikmahnya dirasa diterima dengan senyum.

  Setiap sajak atau cerita yang saya buat punya inspirasi. Maka sajak ini terinspirasi oleh lagi Danilla berjudul “Terpaut Oleh Waktu” dan secangkir Kopi, serta file-file lama yang sudah harus dihapus dalam memori.

Alam Selalu Menjadi Inspirasi (Lagu dari Sabda Laut Selatan)

 

Processed with VSCOcam with c1 preset

Alam dan Beberapa nada yang menjadi lagu

lagu yang belum jadi dengan sempurna.

Aku yang rindu dengan suasana Laut Selatan,

terbawa sudah sore itu teringat dengan suara ombak.

Berkat gitar kecil, tercipta sudah sebuah nada sederhana,

sesederhana senyuman mereka, mereka yang ikut.

Ikutnya bersama semua ketenangan.

Tenang dan tak hilang dalam ingatan.

Sabda Laut Selatan diterima dengan rindu,

bahwa rindu di sore itu akan selalu terbawa angin.

Bersaksi dengan senja, terucap dengan canda.

Bahwa kita semua akan berjalan lagi….. kawan