Secangkir kopi pagi di hari itu dirasa tidak biasa,

tidak biasanya karena rasanya manis.

Aku sudah terbiasa meminum kopi hitam pekat tampa gula.

Meneguk yang manis terasa berbeda.

Hari itu juga aku kembali menyapamu.

Terasa asing dan tidak biasa.

Sepertinya aku sudah tenggelam dalam lupamu,

lupa yang ditanam di benak.

Sadarku butuh tersadar,

tersadar oleh rasa kopi yang pahit.

Persetan sudah dengan hadirmu,

hadir yang membekas hanya berujung sesal.

Sesal dirasa berbuah, muncul tak bertuan.

Wujud buahnya dinamakan hikmah.

Terpalung rindu dan tak ada ruang,

maka hikmahnya dirasa diterima dengan senyum.

  Setiap sajak atau cerita yang saya buat punya inspirasi. Maka sajak ini terinspirasi oleh lagi Danilla berjudul “Terpaut Oleh Waktu” dan secangkir Kopi, serta file-file lama yang sudah harus dihapus dalam memori.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s