Catatan: Malam, Lupa Pagi, dan Ceritanya

 

” Bintang yang sendiri
Datang malam ini
Biar tak sendiri
Tak cemas karena pagi “

Beberapa minggu ini sempat menjadi manusia malam, ditumpuk oleh rasa malas makin menjadi-jadi sudah, ada-ada saja revisi dari tugas akhir. Aku yang menyala pada malam hari ini sangatlah susah tidur, susah terbuai pula oleh gelapnya malam dan hampir-hampir aku lupa akan berkahnya pagi, akan hangatnya matahari pagi, serta angin pagi yang dingin nan sejuk berbeda. Otak ini bekerja cukup malam, mencari arti demi arti dari aksara serta bahasa asing, lelahnya mata diberi asupan cucian muka, serta makanan dan minuman khas anak kota pelajar yang dibeli di warung makan yang buka hingga sangat larut.

 Sudah lama tidak merasakan pagi yang mataharinya masih menyambut dengan hangat, karena sebangunnya aku dari tidur maka aku selalu bertemu teriknya matahari yang membakar disiangnya. Sudah lama juga aku tidak menyapa pagi dengan lari atau sekedar jalan-jalan berkeliling tempat favorit. Mata masih tidak terpejam, terpejamnya hanya saat adzan subuh sudah selesai berkumandang dan aku telah melakukan sembayang serta doa, baru mata ini ingin terpejam sejenak melupakan indahnya pagi. Namun, dari semua itu aku jadi lebih menghargai akan senja, akan dinginnya malam, hingga ada saja suasana malam yang bercerita dan berbicara kepadaku, kepada teman-temanku dan bahkan kepada sudut-sudut kesepian.

Menjadi lebih sering untuk melihat kehidupan malam di kota istimewa ini maka aku lebih sering juga melihat banyak hal sederhana yang mempunyai arti dan makna yang berarti. Ditiup indahnya sepi di malam hari, disapa hangatnya kata-kata dari goresan tinta, ditambah harapku masih ada tentang cerita indah suatu saat nanti.

Advertisements

Puisi: Resah dan Melankolia di Sudut Kota

Suatu malam dengan bulan benderang

hilanglah beberapa kesenangan

terenggut sudah disudut senang

berlari-lari tanpa ada ketenangan

Kepala diisi dengan cerita-cerita malam

larutnya membuat mimpi semakin lelah,

bahasa dan visual porno menghiasi kelam.

Terulang dan tak ada salah.

Teror penyayatan berujung korban,

terornya tersebar dibeberapa sudut kota

alih-alih mencari incaran dengan salah makan

terbungkam ada menahan kata

Resah dengan gumaman mereka

jantung terasa menyerah

didengar dan ditelan semua isapan belaka

bukan dengan amarah.

Melankolis dan apatis

nikmati gundahnya hingga letih.

Mata terlihat akan sinis

 sinis terbebani dan tertindih

 Sajak dengan buah pikiran dari banyaknya informasi-informasi yang dijejali nan membuat resah kota-kota besar. Banyak unsur-unsur intrinsik dalam sebuah hitamnya kota dan kehidupan baru-baru ini. Adanya resah dan gelisah hanya terbendung dalam pikiran, hati hanya menafsir dan bekerjasama dengan otak, menyampaikan yang sudah ada dan sudah terjadi. Bersajak dan bersajak, menyuarakan dan menghilangkan gelisah dalam sisi gelapnya saya, sisi gelapnya saya yang masih terpendam.

Catatan Penikmat Kopi & Lagu Indienya: Sendu Melagu yang Jujur

” Semua yang kau rindu

Semua menjadi abu

Langkahmu tak berkawan

Kau telah sia siakan

Waktu yang kau tahu

Waktu yang berlalu

Ingatmu kau merayu

Ingatnya kau berlalu

Sendu melagu “

 Pertama kali denger lagu ini yang ada hanyalah diulang-ulang, mencoba menghayati, lompat-lompat sambil gaya megang gitar Fender Telecaster dan ngisi dibagian melody lagu, ditambah nyanyi sambil ngajak audience buat ikutan nyanyi, itu adalah salah satu keinginan untuk manggung entah kapan tapi dengan karya ciptaan sendiri. Mungkin nggak segila itu banget untuk pertama kali denger lagunya, cuma pertama itu bikin jatuh cinta sama band yang nyiptain lagu yang berjudul ” Sendiu melagu ” yaitu Barasuara. Setelah berkali-kali denger lagu ini ngebuat saya mikir kalau….

 “Saya iri, saya takjub, iri bahwa lagu ini dateng dari salah satu insan dan seniman yang sudah bertahun-tahun melalang buana dan bukan dari saya yang tentunya hanya seniman yang masih belajar, takjub karena susunan nada yang cukup menyayat ini berhasil menyihir seluruh badan dan indera saya saat mendengerkannya memakai headset dalam diam dan berpikir”

 Yang terpikir saat mendengarkan lagu ini yaitu seperti pernah  merasa berbulan-bulan jalan dengan kesendirian, bahkan sedari lahir pun memang sudah sendiri, keluarga hanyalah penghias akan rasa syukur yang luar biasa, akan arti bahagia yang terdalam. Sisanya memang ditemani dengan dengam hujatan, celaan, harapan yang sudah terpuruk akan sapanya terhadap seseorang, serta sahabat atau teman yang sudah tidak sevisi dan semisi ada namun  hanya jadi cerita dongeng, serta banyak lagi hal yang membuat jatuh. Namun, bait-bait terakhirnya menjadi tendangan akan hidup yang cukup galak ini. Sendunya bukan sembarang sendu , karena sendunya tercipta dari lubuk hati dan jujur. Berjuang dalam hidup lalu disampaikan melalui sebuah lagu andalah cara paling bijak dalam bersyukur, itu menurut saya. Dan terbukti salah satu seniman yang satu ini berhasil mewujudkannya dalam jatuh bangunnya dalam berkarya di kancah musik Indonesia.

Teruntuk Iga Massardi yang menciptakan lagu-lagu di Barasuara saya amat sangat berterimakasih, karena karyamu membanggakan dan semoga bisa menjadi tautan akan karya-karya yang saya ciptakan nantinya.

Kutipan dari Buku dan Kelebihan Kafein di Akhir Pekan

   “Tidak ada campur tangan gender yang mengategorikan laki-laki sebagai orang yang selalu menyakiti dan  perempuan selalu menjadi korbannya”

 Kutipan diatas berasal dari salah satu novel karya temanku yang berjudul 00.00 yang sedang aku tuntaskan beberapa hari ini. Kutipannya cukup membekas, karena memang benar adanya. Terjadi sudah karena adanya karma, bukan tuntutan harus saling membalas sakit hatinya. Mungkin ada maksut tertentu dibalik semua sakit hati, yang terjadi juga bukan selalu pihak lelaki yang katanya selalu dibilang brengsek ataupun kurang ajar atau yang hal jelek lainnya. Pembelaan benar adanya, namun tidak sesekali aku membahas kutipan diatas dengan perempuan sekitar.

 Kadang sudah terlanjur tidak adil, terlanjur sakit hati, dan serba terlanjur tidak enak lainnya. Tapi balik lagi, bahwa setiap individu bisa merasakannya, bisa melewatinya, dan bukan berakhir atas kecewa yang amat dalam dan harus membenci yang sudah terjadi. Karena seperti sekarang aku bisa melewatinya dengan senyum yang tersirat dan hal baik lainnya. Mungkin ia yang sekarang sejatinya sudah berbeda, dan aku juga sudah berbeda, kita dipertemukan atas dasar saling mengecewakan dan berakhir diam tanpa ingin tau hidup masing-masing, tanpa ada hal sok asik dan sok saling sapa lainnya.

 “Aku berharap bahwa ia pantas mendapatkan hal yang lebih baik, hal yang lebih pantas serta hal yang bisa lebih membahagiakannya’

 Terdengar klise memang, namun demi kebaikan (sangat klise sekali). Tapi yasudahlah…. toh semua ada maksut tertentu dan hikmah dan berujung dengan tujuan yang bisa merubah agar lebih dewasa dan blablabla lainnya.

 “Aku baru ingat bahwa hari ini aku kelebihan cafein”

 Saran: Jangan lupa , jangan lupa habiskan secangkir kopimu hari ini.

Terjadi, Harapan, Kurang Cafein

Banyak yang berubah, berubahnya terlalu cepat dan teramat cepat. Perubahan dalam hidup sejalan dengan apa yang namanya perjalanan nan panjang. Aku baru benar-benar sadar bahwa Tuhan Allah maha baik yang selalu punya rencana, rencana untuk umatnya agar selalu bisa punya cerita untuk dibagi.

“Makin kesini, makin ada saja yang terjadi, bahwa aku mulai disadari pelan-pelan kalau memang harapan akan selalu ada bagi yang berdoa dengan segenap hati”

Hidup memang akan selalu indah, bila nyatanya mengertinya bukan cuma saja dipikir namun direaspi hingga ada kata syukur nan hikmat memasuki relung. Selalu ada senyum yang tak disangka, selalu ada sedih yang datang tanpa permisi, itu memang benar adanya. Maka sekarang waktunya berlaku sewajarnya dan tetap dijalan yang benar. Beberapa minggu ini cukup dibuat tersenyum ditambah aku juga kurang minum cafein, antara susah tidur karena kekurangan cafein itu agak aneh. Mungkin esok bisa ditutup dengan secangkir kopi hitam nan pahit, dengan ditemani tumpukan hasil observasiku.

Catatan Pecinta Kopi: Kehilangan Dan Hal yang Bisa Disyukuri

 

Rasa-rasanya hari ini seperti minum alkohol, campur aduk terasa namun berujung memilukan. Namun, semua memang terjadi karena ada alasannya. Aku selalu percaya Tuhan Allah yang maha baik sedang memberi cobaan agar umatnya bisa lebih kuat. Datang memang tidak diduga, ibarat petir menyambar memang sudah direncanakan sang khalik bahwa hari itu tertulis aku dan temanku mengalami kehilangan. Mencobab bersyukur untuk lebih menghargai hidup ini mungkin sedang diuji.

“Untung yang kehilangan hanya harta”

Harta dunia semata memang tidak bisa menjadi patokan kebahagiaan. Kehilangan sebuah telfon genggam mungkin adalah tamparan yang cukup keras bagiku.  Karena ini pertama kalinya kehilangan dalam bentuk pencurian tanpa jejak. Semua terjadi karena aku dituntut untuk harus lebih bersyukur, ikhlas, serta tidak sombong menghadapi dunia ini. Terdiam hampir seharian, namun banyak buah pikiran tercipta. Ada beberapa hal yang aku syukuri di hari kehilangan itu, pertama aku tidak kehilangan hal lain yang lebih berharga, kedua aku masih bisa menikmati secangkir kopi di pagi hari dan buang air besar dengan lancar, yang ketiga adalah aku masih bisa menyapa orang tersayang, bercanda dan bercengkrama dengan beberapa sahabat, keempat aku masih bisa bernafas dan mendengarkan alunan musik, serta kelima aku masih bisa menulis blog dan mkenceritakan kejadian hari itu.

“Selalu ada hal yang disyukuri, karena sesal terus tiada arti, dan hati meratap pun juga tidak membangunkan dari mimpi”

Selalu ada kata terimakasih buat hari ini kepada sang pencipta, karena dengan keteguhan kepadanya aku yakin bahwa akan ada hal yang lebih baik nantinya jika waktunya tepat.

Sajak Problema Pengemis Cinta Di Era Sekarang (Aplikasi)

 

Malam sepi menyerang, menyerangnya sampai lubuk.

Di tempat yang banyak hati sepi ternyata ada sudut sendu.

Tak berbahasa namun jenaka terpikir,

problema jomblowan ngenes.

Satu hati disandung dengan aplikasi.

Dicari namun dengan sekali ketik,

ketik didukung sinyal mencari.

Niatan lucu terbesit.

Era sekarang sangatlah mudah mencari yang hilang,

hilangnya ditemukan dengan tak terduga,

seolah jodoh ada namun hanya bayang.

Bayangnya jenaka namun nyata.

Pandang hanya pandang, tak dibahas namun lucu nyatanya.

Romansa era sekarang dengan aplikasi,

tak biasa namun hanya membuat tertawa.

Jauh dari nyata yang terasa.

Bisa bisanya saat malam datang,

malamnya ditemani dengan buah pikiran jenaka.

Tetap lucu dan hanya hiburan,

hiburan pada hati yang lesu.

Bermodal canda sendu lewat ketikan.

Jadinya sebuah susunan kata nan ceria,

cerianya tidak menggoda.

Tau rasa, jaga hati, dan tetap hati-hati.

 Sajak yang tidak sengaja terpikir karena yang membuat baru mendownload aplikasi Tinder (bisa search di google). Entah sangking jonesnya atau emang karena bisikan teman, hal positifnya apikasi ini ada di era sekarang untuk mempermudah manusia kesepian menjadi terasa ramai, bisa buat jualan, bisa buat bisnis MLM #lah, bermacam ria adanya. Hiburan semata buat para pengemis cinta. Disela-sela tugas akhir yang membuat pusing, ternyata hiburannya dirasa digunakan dengan menggunakan aplikasi “Tinder” dan digunakan sewajarnya. Tapi sejatinya mata jadi terbuka, terbuka akan nyata problema di era sekarang, nyata akan manusia di era sekarang, dan nyata akan lingkungan di era sekarang banyak yang mengubah tiap individu.