Bisikan Hati Minor

 

Dingin malamnya,

nyenyak lelap ini,

membuat kamu menjadi mimpi utama,

menjadi sajak dalam lamunan diri.

Hari itu terpikir,

dengan teman alunan gitar bersuara minor.

Kamu bukanlah yang selalu menjadi kekhawatiranku,

menjadi gusar berbuah gundah.

Lara berbisik, sukma serasa bergetar.

Bisa saja kamu bukanlah yang datang dengan arti jodoh.

Karena jodoh bisa saja kematian,

itu tertulis di ujung cerita setiap insan.

Dekat datang dengan pasti.

Jauh mendampingi dengan khidmat,

yang jauh hanyalah masa lalu.

Tak terhenti berdampingan akan ujungnya.

Advertisements

Catatan Pecinta Kopi: Hari ini dengan Angin Sejuk

Yogyakarta hari ini rasa puncak, angin sejuk menemaniku dengan mendungnya yang khas, yang membawa dingin tanpa panas yang terik seperti biasanya. Seharian ini aku juga tidak keluar rumah, menikmati tugas akhir, dan menyantap alunan lagu country dan bahkan memainkannya sesekali untuk menghibur sepi. Sepi di hati mungkin tidak terlalu membebani. Porsi sepi yang diberikan ini cukup aku syukuri, barangkali aku harus lebih fokus kepada tugas akhir agar kelar lebih cepat dan bisa melanjutkan apa yang ahrus aku lanjutkan keesokannya.

“Cause when you’re done with this world
You know the next is up to you”

 Lirik lagu dari penyair dengan alunan gitarnya yang datang dari negeri Paman Sam ini sering aku dengar, namun aku baru menyadari ada lirik dari salah satu lagunya yang berjudul ““Walt Grace’s Submarine Test, January 1967” liriknya mengingatkan aku tentang beberapa minggu ini yang gundah akan langkah di dunia yang sebenarnya baru akan datang setelah aku menyelesaikan studi ku di Yogyakarta. Seraya menyeruput Kopi di kala siang nan sejuk. Dunia cepat berubahnya, begitu juga dengan segala kondisi yang ada, selesainya aku dengan perjalanan di dunia pendidikan maka sehabisnyalah jalan mempunyai beribu permulaan, berjuta jalanan yang berkelok untuk mencapai tujuan yang sebenarnya.

 Masilah panjang perjalanan ini, bukan saatnya untuk berkeluh kesah, benar jika memang semua hal yang dituju tidaklah ada mudahnya, jika ingin mudah maka tidak ada sebuah cerita dalam perjalanan yang harus aku tulis nantinya. Selamat menjalani kehidupan yang nantinya akan lebih menyenangkan, jangan lupa bekali hati dengan keyakinan, doa, serta asupan pikiran positif.

Teruntuk Saya, 7 Juni 1995

Sendu dari Kisah (Nanti)

 

Kisah dari seorang lelaki di Selatan Pulau Jawa

lelaki yang mengingat hatinya terpaut jauh terbawa,

dan dilanda rindu yang menggebu,

dan melagu teringat akan nyatanya.

Sia-sia saja dalam merenung,

renungannya selalu membalik,

balik akan rindu yang berpulang,

berpulang tanpa kawan.

Mencintanya tak akan terjadi

mengingat adanya jeda dan gengsi,

terpisah oleh nyata dan tawa,

lalu terpisah juga oleh dekat dan harapan.

Rasa-rasanya hukum dekat tak berlaku,

ia memilih menyimpan,

dan terjatuh di palung yang membiru,

sudah terjatuh tersimpan pula di peti.

Petinya akan terbuka bila kisahnya nyata

Bukan berlebih dalam diam,

jarak hanya penghias,

namun yang tersurat adalah jawabannya nanti.

Pagi Tanpa Secangkir Kopi

 

Hari itu bangun pagi terasa asing, rasanya ingin sekali untuk tidur kembali. Lamunan dan diam menjadi selingan beberapa bulan ini, resah menjadi kudapan di siangnya, lalu malamnya menjadikan mata selalu terjaga oleh beberapa kerta dan pena yang belum kunjung berakhir.

“Apa yang harus merubahku? dan adakah momen dimana aku tidak lagi menunguu jawaban”

Seorang laki-laki yang memandang keluar jendala kamarnya selalu terpikir kata-kata itu, kata-kata yang selalu mengganggu sukmanya. Beberapa hari menikmati kopi pahit untuk sejenak hilang dari rutinitasnya ternyata tidak membuaty resahnya hilang. Sampai hari itu tiba dan datang kembali saat pamannya berkata di waktu itu di paginya, berkata bahwa hari ini bisa berbeda dari hari kemarin, bahwa hari ini bisa terjadi dan bukan menjadi cobaan yang harus diratapi. Teman-temannya berkata bahwa semua bisa dilewati…

“Dekati saja yang ounya hajat, dekati saja Tuhan Allah Maha Suci yang cuma Satu, yang punya segalanya dan bisa merubah segalanya. Dekati ia dan kamu akan menerima kebaikannya perlahan tapi pasti”

Laki-laki ini terlalu asyik dengan cerita temannya dan lupa bahwa ia punya cerita yang ia harus lanjutkan, namun dari cerita temannya laki-laki ini terbujuk untuk sadar. Tidak ada secangkir Kopi di pagi hari waktu itu, maka syahdunya  angin pagi membujuk mata untuk ekmbali terlelap dan melanjutkan hari-harinya ya itu menjalani kehidupan nocturnal. Berbeda dari biasanya mata itu tetap terjaga tanpa harus mengikuti angin pagi yang membujuk relung untuk kembali bermimpi dalam tidur, hari itu ia kembali menulis beberapa isi hati, menulis kejadian, dan cerita pendek dari sudut kamar di lantai dua. Dan di hari itu nada-nada dari gitar akustiknya sedang tidak ada, ia sengaja meminjamkan gitar kesayanganya pada salah satu temannya agar gitarnya tidak mengganggu ia untuk melanjutkan beberapa hasil tugas dari kerta dan pena yang belum kunjung usai.

Mempuisikan Sebuah Lagu: Lagu Tentang Seseorang

Dalam malas ada saja gumaman tentang bayangan seseorang

 bayangan tanda kelu kesah tentang impian negri dongeng

 semuanya hanya mengasap dan terbang tak berbentuk

hanya menjadi kehidupan yang sudah mati.

Lagu tentang seseorang diputar dalam kamar kosong

seraya memutar kembali foto lama yang belum terjawab

tercinta hanya ada disebuah tanya,

tanyanya belum dicari lagi.

Tentang ia yang hanya hadir tanpa tau arti takdir,

tentang seseorang yang menghadirkan cinta

cintanya seperti secangkir kopi yang pertama kali aku minum,

yaitu membuat jantung berdebar lebih cepat.

Lagu Lain Waktu Dari Abenk Alter Untuk Awali Pagi

 

 

Hari ini cukup beruntung untuk bisa bangun pagi dengan bersyukur akan rasanya angin pagi, walaupun cukup mendung, paginya aku habiskan dengan sebuah dendang yang amat sangat positif dan artinya patah hati dan juga melihat pandangan hidup dari sisi yang berbeda. Begini bunyi liriknya…

kau meragu saat aku memintamu tuk bersamaku
aku tahu kamu tak sendiri
ada dia yang di sana menunggu dirimu juga
namun bila aku bukan pilihanmu, dinda

cinta memang tak selalu memiliki
bukan aku tak mengapa bila kau pergi huuu
namun ku percaya kan ada saatnya di lain waktu
di lain waktu, bila engkau untukku kita kan bertemu huuu

cobalah dengar hatimu bicara
namun bila aku bukan pilihanmu, dinda hoooo

(cinta memang) cinta (tak selalu memiliki) tak selalu memiliki
(bukan aku tak mengapa) bila kau pergi woo huuu
namun ku percaya kan ada saatnya

(cinta memang) cinta memang (tak selalu) tak selalu (memiliki) memiliki
(bukan aku tak mengapa bila kau pergi) tak mengapa bila kau pergi
namun ku percaya kan ada saatnya di lain waktu
di lain waktu, bila engkau untukku kita kan bertemu huuu

 Sebuah paduan antar lirik dan lagunya mengantarkanku pada sebuah cerita lama, cerita tentang hati yang belum tersampaikan, cerita tentang patah hati yang disapa oleh angan semu, oleh beberapa senyuman yang hanya bisa disimpan. Namun, semua itu berbuah hikmah dan masih ada dibenak bahwa keyakinan akan hati pasti bertemu dengan hati yang baik untuk membangun cerita.