Dreezel Coffee Bandung, Kopi Nikmat Sebagai Teman

IMG_4840
Kopi yang saya pesan

Berunjung ke Kota Bandung bukanlah sekedar menikmati suasananya, menurut saya mengunjungi kota kembang itu juga melakukan coffee shop trip mencari secangkir kehangatan dari sebuah Kopi di beberapa Kedai Kopi di Bandung. Seperti kunjungan saya ke salah satu Kedai Kopi di Jalan Cisangkuy, kedai sederhana ini bernama Dreezel Coffee. Tempatnya memang amat sederhana, nyamannya tempat membuat obrolan dengan beberapa sahabat semakin asyik saat malam tiba. Tempatnya unik dan menarik saya untuk melihat-lihat Dreezel coffee dari dekat, seperti post satpam yang disulap menjadi Kedai Kopi, namun dibalik itu Kedai ini menyajikan suasana serta Kopi yang nikmat untuk dinikmati bersama kawan dan sanak saudara.

IMG_4815
Suasana Dreezel Coffee saat malam

Dreezel Coffee menyediakan menu Kopi yang enak, bagi anda yang kurang suka Kopi bisa menikmati secangkir coklatnya yang sangat rekomendasi bagi yang sangat menyukai secangkir cokelat sebagai teman obrolannya. Menu Kopi andalan yang ditawarkan memang fokus pada Manual Brewwing, dengan aneka biji Kopi asli Nusantara. Pilihan biji Kopi yang ada membuat pembeli bisa memilih pilihan tersebut untuk disajikan dengan beberapa metode penyajian secangkir Kopi. Harga yang ditawarkan pun tidak begitu mahal untuk mendapatkan Kopi yang nikmat. Maka tidak heran kalau tiap harinya tempat ini kerap menjadi tempat favorit penikmat Kopi di Bandung.

 “Tempat yang cocok sekali untuk berbincang serta menikmati secangkir Kopi di Bandung.”

 Buat anda yang sedang menikmato kota Bandung jangan lupa untuk mampir untuk ngopi sejenak di Dreezel Coffee, sensasi ngopi beramai-ramai dengan sahabat di sini membuat saya akan berkunjung lagi ke sini jika melakukan kunjungan ke Kota Bandung.

 

Selamat Merindu di Akhir Pekan

 ” Kalau saja rindu berbentuk bangunan, pastilah aku bukan ahlinya untuk membangunnya.”

 Beberapa hari ini aku kurang secangkir Kopi untuk sekedar dinikmati di sore hari atau pagi. Kurangnya Kopi malah membuatku lebih sering mengingat orang-orang yang ku rindu, rindunya tak bertuan dan bahkan tak berujung. Karena ada saja orang yang ku rindu memang sudah tidak ada lagi di dunia. Ada juga yang dirindu dipisahkan oleh jarak, rasa gengsi, serta masa lalu yang masam, yang membuat rindu ini hanya bisa disimpan dan diterbangkan lewat alunan gitar serta tulisan-tulisan tak jelas yang ku buat.

 Banyak yang rindu namun sedikit yang bisa diselesaikan, yang tak ada ragu mengumpul, serta bisa terealisasikan walau hanya dengan doa. Setidaknya aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk menghilangkan rindu yang meradang. Bukan sedih karena rindunya, namun ada saja sedih yang menyelinap karena beberapa penyesalan. Sudah terlambat, sudah juga terjadi semuanya, tidak ada yang bisa disesali banyak-banyak. Karena yang sudah terjadi cuma bisa menjadi sebuah cerita yang dirindu dengan secangkir Kopi, lalu diceritakan kepada apa saja yang lewat, siapa tau cerita rindunya bisa didengar oleh kucing-kucing yang suka meminta makanan di teras rumah, burung gereja yang kerap istirahat di pohon, atau bahkan angin sejuk di kala siang.

” Entah kenapa belakangan ini panas serta hujan tak menentu datang di tiap harinya, sepertinya cuaca ekstrim membuat kondisi tiap harinya enggan menentu, seperti rindu yang menyerang tiba-tiba saja.”

 Tulisan ini juga ditulis dengan iringan sebuah lagu kok, tenang saja buat siapa yang membacanya setidaknya bisa dengan mendengar lirik dan suara-suara yang meramaikan kesendirian yang membacanya. Selamat merindu di akhir pekan.

Kopi Selasar (Bandung dan Secangkir Kopi Tidak bisa Dipisahkan)

IMG_4858

Kalau bicara tentang kuliner di kota Bandung memang tidak akan ada habisnya, terutama cafe untuk menikmati suasana kota Bandung yang sejuk dengan udaranya. Menyapa sekujur tubuh, sejuknya membuat ingin menikmati secangkir Kopi di Kota ini. Mengunjungi salah satu cafe yang menyediakan secangkir Kopi yang enak dengan suasana syahdu, bukan dengan kebisingan kota, sentuhan alam yang terasa, dan dengan unsur seni yang tidak kalah terasa, dirasa membuat hari itu sungguh ditutup dengan salah satu surganya dunia.

Cafe yang bernama “Kopi Selasar” ini terletak di daerah Dago Pakar, selain Cafe di tampat ini juga bisa dilihat sebuah karya seni yang tidak kalah menariknya. Karya seni yang dikelola oleh Selasar Sunaryo ini menjadi sebuah ciri khas yang tidak bisa saya lupakan. Secangkir Kopi sore itu dinikmati dengan ketenangan dan juga sejuknya angin Bandung, pemandangan yang memanjakan mata, serta dibuat betah dengan obrolan saya dengan sahabat. Menu yang disediakan cukup bervariasi. Tempatnya sangat nyaman untuk anda yang ingin membaca buku, ataupu  menulis tugas dan mengerjakan kerjaan yang mungkin sedang menumpuk. Suasana seperti ini tidak bisa saya dapatkan di tengah kota tentunya.

IMG_4872
Salah satu potret Selasar Sunaryo

Cafe ini mempunya sentuhan seni serta suasana sejuk yang dibentuk juga didukung oleh tatanan ruang yang menyenangkan untuk diri saya. Segelas Kopi Tubruk yang saya pilih tersebut juga disambut hangat oleh senja yang datang pada hari itu. Obrolan saya dengan sahabat berujung sebuah ide, ide yang memang terbentuk karena ketenangan sore itu.

               “Secangkir Kopi, Bandung, dan Menulis ide.”

Hawa sejuk selalu mendamba Kota Kembang itu, selalu menyapa orang-orang yang mengunjunginya dengan niatan ingin mencari ketenangan tertentu. Bahwa saya menyadari hari itu, kalau saja Bandung san secangkir Kopi memang tidak bisa dipisahkan.

Walking Drums, Cafe Unik di Pojok Jakarta Selatan

 

2 Cangkir Coffee latte

Berawal dari hanya melewati daerah Pati Unus Raya kala sore hujan, saya dan sahabat saya terpanah oleh sebuah bangunan unik yang terletak di Lapangan Tenis Brata Bhakti. Bangunan tersebut sepertinya hasil pembangunan ulang sebuah container dan terkesan unik lalu sentuhan minimalis yang ditawarkan nyatanya cukup unik. Lalu, beberapa hari kemudian saya dan sahabat saya ingin mengerjakan tugas kuliaha, mencari tempat nyaman, ada wi-fi, secangkir kopi yang enak, lalu cukup tenang untuk sekedar berbincang, dan menulis. Teringat akan bangunan unik di dekat Lapangan Tenis tersebut kita langsung tidak ragu untuk mengunjungi tempat tersebut.

Cafe bernama Walking Drums ini menyediakan spot favorit untuk saya mengerjakan tugas kalau saja sedang berkunjung ke daerah Jakarta Selatan. Ada dua pilihan tempat, bisa di dalam dengan beberapa sofa dan meja jika ingin menikmati suasana ruangan yang nyaman untuk berbincang dan bersantai, ataupun jika ingin merokok bisa memilih di luar, tidak kalah menariknya di luar dengan sentuhan taman dan ornamen kayu-kayu semakin menambah nyaman sebuah cafe kecil, setidaknya nyamannya bisa menghilangkan penat dari ramainya kota dan kemacetan. Ditemani secangkir Kopi semakin menambah fokus mengerjakan tugas ataupun menemani curhatan kami. Saya dan sahabat saya memilih untuk duduk di luar, menikmati angin yang kala itu berhembus dengan santai, membawa alunan damai, dan pemandangan pun tidak didukung dengan kemacetan yang ada.

Untuk para penggemar Kopi maupun yang ingin menyantap hidangan atau sekedar bersantai di Cafe, jika ingin berkunjung ke cafe dengan suasana berbeda di daerah Jakarta Selatan, saya rasa tempat ini cocok.

Catatan di Kedai Kopi Tengah Kota

 

Malam hari dan bukan malam minggu, aku dan sahabatku berkunjung ke salah satu Kedai Kopi yang memang punya nama di seantero belahan dunia. Kedai tersebut selalu ramai di tiap harinya, terletak di salah satu plaza dan mempunyai banyak cabang, sudah tidak diragukan lagi kalau Kedai ini menjadi salah satu favorit kaum pekerja dan anak kuliahan, maupun seniman dan penulis. Malam itu saya memesan segelas Americano hangat. Kita yang saling tukar ide dan cerita memang mempunyai tujuan yang sama, intinya sama-sama ingin terjun di dunia industri kreatif.

Lalu lalang dan keramaian kedai waktu itu mengiringi obrolan kita. Antrian yang semakin panjang juga membuat kita tetap sabar untuk mendapatkan segelas Kopi untuk tetap terjaga.

“Aku sangat bersyukur bahwa malam itu masih bisa menghirup aroma Kopi dan mendengar suara khas mesin Kopi, lalu menyeruputnya dengan syahdu.”

Pada hari itu, kita sama-sama menghabiskan obrolan sampai segelasnya habis. Ditutup dengan sebuah doa serta harapan bahwa apa yang kita ingin wujudkan bisa terealisasikan. Hari itu sedih hilang dengan seduhan secangkirnya, kadang sepi melanda namun terusir dengan lampu-lampu malam Kota, hilang di sudut-sudut jalanan, serta tersapu oleh pekerja penyapu jalanan kala dini hari menjelang.