Malam hari dan bukan malam minggu, aku dan sahabatku berkunjung ke salah satu Kedai Kopi yang memang punya nama di seantero belahan dunia. Kedai tersebut selalu ramai di tiap harinya, terletak di salah satu plaza dan mempunyai banyak cabang, sudah tidak diragukan lagi kalau Kedai ini menjadi salah satu favorit kaum pekerja dan anak kuliahan, maupun seniman dan penulis. Malam itu saya memesan segelas Americano hangat. Kita yang saling tukar ide dan cerita memang mempunyai tujuan yang sama, intinya sama-sama ingin terjun di dunia industri kreatif.

Lalu lalang dan keramaian kedai waktu itu mengiringi obrolan kita. Antrian yang semakin panjang juga membuat kita tetap sabar untuk mendapatkan segelas Kopi untuk tetap terjaga.

“Aku sangat bersyukur bahwa malam itu masih bisa menghirup aroma Kopi dan mendengar suara khas mesin Kopi, lalu menyeruputnya dengan syahdu.”

Pada hari itu, kita sama-sama menghabiskan obrolan sampai segelasnya habis. Ditutup dengan sebuah doa serta harapan bahwa apa yang kita ingin wujudkan bisa terealisasikan. Hari itu sedih hilang dengan seduhan secangkirnya, kadang sepi melanda namun terusir dengan lampu-lampu malam Kota, hilang di sudut-sudut jalanan, serta tersapu oleh pekerja penyapu jalanan kala dini hari menjelang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s