Klinik Kopi dan Berbagi Tentang Kopi

 

Kopi Di Klinik Kopi

Kopi Di Klinik Kopi

Kunjungan saya kali ini adalah ke Kedai Kopi yang memang sudah ke dua kalinya saya kunjungi, namun baru kali ini bisa dibahas di blog bacakopi. Tempat ini sudah sangat ramai dibincangkan oleh para pecinta Kopi, sempat menjadi tempat syuting film AADC 2 ( Ada Apa Dengan Cinta) dan juga kerap menjadi Kedai Kopi yang dikunjungi turis dalam negri maupun luar negri. Pertama-tama saya sampai di lokasi, dan disambut dengan tukang parkir yang sangat ramah, suasana ramai pun sudah mulai terasa, Kedai ini baru buka memang sore jam 4 sampai malam. Antrian yang cukup panjang pun saya tunggu, dengan obrolan saya dengan teman serta suasana Kedai yang sangat rumahan. Suasana khas disini memang berbeda dari kebanyakan Kedai Kopi lainnya, tapi sangatlah asyik jika harus berlama-lama di tempatnya. Bisa santai dengan  beberapa bacaan, menikmati malam dan dinginnya daerah Kaliurang Yogyakarta bisa menambah hikmatnya obrolan kala itu. Saya dan teman saya pun diberi nomor antrian, sambil menunggu dan berbincang ternyata tidak terasa nomor antrian pun dipanggil.

“Dan tahap itulah, sang pencerita Kopi sekaligus pemilik Kedai, sang brewer Kopi yaitu Mas Pepeng mulai beraksi.”

 Kedai ini menyajikan Kopi asli Tanpa Susu, dengan berbagai macam biji Kopi pilihan yang bisa dipilih. Bukan cuma itu saja, sang pembuat Kopi pun menceritakan tiap biji Kopi yang akan disajikan. Saya yang pecinta Kopi yang baru belajar tentunya bisa mencari ilmu dan mendengarkan cerita-cerita dari mas Pepeng.   Tiap Biji Kopi yang dipilih selalu ada cerita untuk mengenal secangkir Kopi asli Indonesia lebih baik. Tidak main-main, Mas Pepeng dan beberapa temannya pun mencari biji Kopi memang sambil keliling Indonesia untuk disajikan ke pecinta Kopi, serta untuk memperkenalkan Kopi asli Indonesia yang menjadi harta karun yang ternyata sangat berharga.

Foto bersama Mas Pepeng Owner Klinik Kopi

Foto bersama Mas Pepeng Owner Klinik Kopi

   “Saya lupa akan nama biji Kopi yang telah diolahnya, mungkin lain kali saya harus mampir lagi ke Kedai yang satu ini.”

 Kunjungan di Klinik Kopi ini menjadi sangat berkesan untuk ke dua kalinya. Bagi para pecinta Kopi sangat yang sedang atau ingin berlibur ke Yogyakarta, jangan lupa berkunjung ke Klinik Kopi untuk menikmati secangkir Kopi sambil mengajak sanak saudara serta sahabat.

Lagu Sheila On 7 dan Cerita di Yogyakarta

 

  Kemarin aku mencoba berjalan santai, setapaku ini melewati tempat-tempat yang mempunyai cerita. Cerita yang memang tidak bisa dilupakan selama aku menuntut ilmu di Kota pelajar yang sangat istimewa ini. Hanya bisa tersenyum haru sambil menggumam kepada hati. Jadi terpikir membuat beberapa sajak mungkin seperti ini;

Kemarin terpikir dari sebuah buku lama,

buku berisi catatan.

Dibuka bukunya sambil berjalan,

berjalan dengan tersenyum haru.

Kota pelajar di daerah istimewa ini selalu punya cerita.

Setiap melangkah ke kota lain,

dirasa selalu rindu untuk pulang,

pulang ke Kota ini.

Lagu Sheila On 7 berjudul sebuah kisah klasik,

selalu terdengar jika mengingat setiap ceritanya.

Memori demi memori terkenang syahdu.

Syahdunya memikat hati.

Ada hari dimana aku mengucapkan selamat tinggal,

sampai nanti, berharap kita akan bertemu lagi.

Bertemu kembali  dengan suasana yang baru,

certia tentang kalian, dan Yogyakarta.

Sajak ini sangat sederhana, teruntuk kalian yang mengisi cerita-certia saya di Yogyakarta, untuk keluarga, sahabat, guru-guru, alamnya, penjaga angkringan, abdi dalem Keraton yang saya ajak berbinjang waktu itu, dan banyak lagi… oh iya untuk satu lagi, untuk mantan kekasih mungkin….

Yogyakarta, 24 Agustus, 2016

Sejadinya Lupa Iman

 

Hati sempat buta, buta karena sombong,

terjerembab dalam sisi musuh.

Terjadi akibat dengan mata, matanya seakan berhenti.

Jadilah aku melihat dengan samar-samar.

Duka melepuh menjadi dosa.

Terkadang ingat iman dan tidak.

Ibarat sekujur tubuh diperitahkan Tuhan untuk istirahat.

Mata benar-benar meneteskan air mata sampai tidur.

Sebab terjadi mungkin karena sempat lupa.

Sempat lupa akan rasanya sedih, karena sempat mati sisi hati.

Jadi lupa iman, jadi dihukum diri dengan gambaran.

gambaran akan kematian.

Coffee Smith Jakarta dan Ngopi Sore Untuk Hilangkan Penat

 

 

Coffee Shop yang satu ini memang sudah sangat lama saya ingin datangi. Sekedar berkunjung karena penasaran, karena saya dulu pernah mengikuti salah satu kelas barista oleh Muhammad Aga, Aga adalah  owner dari Coffee Smith yang memang sudah lama berkecimpung di dunia perkopian dan barista. Dengan banyak pengalamn yang bisa ia bagi membuat saya semakin tertarik akan Kopi.

Saat berkunjung dan memasuki Coffee Smith yang terletak di daerah Duren Tiga Mampang jakarta Selatan ini dan  menemukan sebuah ruang kaca kecil yang berisi sebuah mesin roasting biji Kopi. Suasana khas kedai kopi ini sangat terasa dari ruangannya yang sederhana namun begitu nyaman untuk sekedar berbincang atau mengerjakan tugas yang ada. Saya memutuskan untuk memesan segelas Long Black dan teman saya memesan sama namun bedanya ia menggunakan es dan saya yang panas. Ada perbincangan menarik dari obgrolan saya dengan teman saya di kedai ini, saaat ia meminum gelas pertama Long Blacknya.

    “Wah ini Kopi Yesterday nih kalau kata eyang gue, asem soalnya”

 Mungkin gara-gara asam yang diberikan oleh rasa Kopi hitam, makanya bisa dibilang ada saja istilah kopi kemarin, atau Kopinya sudah lama. Padahal bukan karena hal itu rasa asamnya ada pada Kopi. Memang wajar kalau misalkan anda menikmati Kopi hitam ada saja rasa asam pada Kopi (Bisa dilihat artikel rasa asam pada Kopi di majalah.ottencoffe.co.id) dan perbincangan kita pun berlanjut sembari menunggu teman saya yang lain datang. Harga yang ditawarkan tidak begitu mahal untuk kualitas Kopi yang enak. Tersedia juga menu-menu lainnya yang tidak kalah enak dan menarik.

Untuk kali ini saya lupa memotret mesin roastingnya yang sedang digunakan oleh si owner, karena pada sore hari itu ia sangat sibuk dengan mesin roasting Kopi yang ada. Lain kali saya pasti akan balik lagi untuk menikmati Kopi di Coffee Smith.

Ruang Seduh Jogja dan Belajar Tentang Kopi

(Maaf burem fotonya)

(Maaf burem fotonya)

Bukan cuma beberapa tahun ini saya pribadi tertarik dengan yang namanya Kopi, bahkan sudah sedari jaman sekolah dasar sudah membuat minuman Kopi sendiri di kala sore hari, namun baru ada kesempatan untuk lebih mengenal secangkir Kopi pada tiga tahun belakangan ini. Berkuliah di Yogyakarta menjadi salah satu keberuntungan tertentu untuk mengenal secangkir Kopi lebih dalam. Mencoba kesana kemari untuk berkeliling mencari tempat ngopi sambil belajar pelan-pelan tentang Kopi. Karena menurut saya secangkir Kopi bukan cuma sekedar minuman yang pahit yang bisa dinikmati.

Berkunjung ke Coffee Shop yang satu ini cukup membuka saya pada pasar Kopi di Indonesia. Berada di Jalan Tirtodipuran tempat banyak wisatawan mondar-mandir di Yogyakarta ini tempat ngopi yang cukup sederhana namun menarik ini bernama Ruang Seduh. Belajar membuat Kopi sendiri terutama dengan metode Manual Brewing yang bertujuan untuk mendapatkan aroma dan cita rasa Kopi yang baik untuk dinikmati. Diawali dengan memilih Biji Kopi yang sudah disediakan, saya memilih Biji Kopi dari Jawa Barat bernama Papandawan. Dengan belajar tentang cara menyiapkan dengan benar serta suhu yang harus diterapkan agar mendapat cita rasa yang baik maka saya diajarkan oleh salah satu Barista di sana. Bagi anda yang ingin belajar membuat Kopi sendiri di sini jangan takut, akan ada barista yang mengajarkan anda. Proses demi proses akan didampingi demi mendapatkan cita rasa Kopi yang terbaik, maka bagi yang pertama kali membuat Kopi dengan cara Manual Brewing cukup dicoba dan dinikmati secangkir buatan sendirinya.

(Suasana Coffee Shop)

(Suasana Coffee Shop)

Tempat yang sederhana namun sangat berkenan di hati ini cukup tenang jika di hari-hari tertentu dan jam-jam yang tepat jika memang anda ingin mencari ketenangan sambil menikmati Kopi. Suara mesin Kopi dan alunan lagu yang diputar biasanya membawa secangkir Kopi lebih nikmat dengan perbicangan saya dengan barista soal Kopi dan bisnisnya yang sedang berkembang pesat. Syahdu di tempat ini membuat saya ingin balik lagi ke tempat ini untuk belajar tentang Kopi di Ruang Seduh Jogja. Bagi saya penikamt Kopi, belajar tentang berbagai macam hal yang berbau  Kopi amatlah senang, terutama jika bisa dibagi dengan banyak orang.

 

Sajak Tak Bisa Tidur Semalaman

 

 Dini hari yang dingin.

Berharap esoknya akan ada kabar baik.

Baik dalam banyak hal,

hal yang didamba.

Takut akan memejamkan mata,

bisa-bisa esok telat tertinggal kereta.

Gelap yang dinanti karena lelah,

sejadinya malah jadi terang benderang.

Nama terngiang, diketik di layar monitarnya.

Banyak yang berubah, banyak yang berbeda.

Dicari dengan perlahan,

seluk beluk dalam malam dan hari yang berbeda.

Persetan dengan hal tidak enakan,

bahwa yang sudah terjadi ada saja alasannya.

Berpura-pura melupakan ingatan,

biar semua jadi kenangan baik.

Tertunda

Pergi dengan menunggu

berlari dengan yakin.

Sanubari melekat dalam diri,

berkali-kali bahkan terlena di hati.

Iring-iringan dalam menggantungkan tanya,

jawabnya seyakin-yakinnya dengan nanti.

Lalai menjadi peranan sementara,

yang selalu bisa disalahkan.

Musik dari langit menjadi teman,

teman disaat mereka yang selalu ada kadang hilang.

Buku juga menjadi jeda dari yang tertunda,

terunda dengan banyak pertanyaan.

Coba memberi teman pada kata tertunda.

Baik atau buruk, selalu ada di yang tertunda.

Hiasan dalam awal kata hanya menjadi ketenangan,

ketenangan dalam penantian.

Kalau saja ada yang bisa tertunda,

pikirku pun hanya ingin meminta beberapa saja.

Tertundanya waktu saat melihat mata sang juwita,

tertundanya pesan kematian sang Ayah,

dan juga tertundanya malam yang cepat berlalu.

  Sajak berjudul ” Tertunda ” ini saya buat karena ada saja yang dirasa ditunda, lalu menimbulkan banyak pertanyaan. Ada yang tertunda lalu berujung penyesalan, namun ada juga yang ditunda yang berbentuk sesuatu hal yang diberikan pada tuhan. Memang banyak yang ditunda karena mungkin kita sebagai manusia belum siap menerimanya, dan yang tertunda adalah kita sebagai manusia yang melakukan sesuatu hal acap kali dengan sifat meremahkan dan berkata…

 “Masih ada hari esok, atau nanti kan bisa, atau bahkan kayaknya besok aja.”

 Antara yang diberikan kesempatan lain kali dan melakukan hal dengan niatan lain kali keduanya sama-sama mempunyai jawaban tersendiri. Sekedar ingin menulis karena gundah bersarang, dan menulis sebagai pendamping secangkir Kopi di jam 3 Pagi.