Pergi dengan menunggu

berlari dengan yakin.

Sanubari melekat dalam diri,

berkali-kali bahkan terlena di hati.

Iring-iringan dalam menggantungkan tanya,

jawabnya seyakin-yakinnya dengan nanti.

Lalai menjadi peranan sementara,

yang selalu bisa disalahkan.

Musik dari langit menjadi teman,

teman disaat mereka yang selalu ada kadang hilang.

Buku juga menjadi jeda dari yang tertunda,

terunda dengan banyak pertanyaan.

Coba memberi teman pada kata tertunda.

Baik atau buruk, selalu ada di yang tertunda.

Hiasan dalam awal kata hanya menjadi ketenangan,

ketenangan dalam penantian.

Kalau saja ada yang bisa tertunda,

pikirku pun hanya ingin meminta beberapa saja.

Tertundanya waktu saat melihat mata sang juwita,

tertundanya pesan kematian sang Ayah,

dan juga tertundanya malam yang cepat berlalu.

  Sajak berjudul ” Tertunda ” ini saya buat karena ada saja yang dirasa ditunda, lalu menimbulkan banyak pertanyaan. Ada yang tertunda lalu berujung penyesalan, namun ada juga yang ditunda yang berbentuk sesuatu hal yang diberikan pada tuhan. Memang banyak yang ditunda karena mungkin kita sebagai manusia belum siap menerimanya, dan yang tertunda adalah kita sebagai manusia yang melakukan sesuatu hal acap kali dengan sifat meremahkan dan berkata…

 “Masih ada hari esok, atau nanti kan bisa, atau bahkan kayaknya besok aja.”

 Antara yang diberikan kesempatan lain kali dan melakukan hal dengan niatan lain kali keduanya sama-sama mempunyai jawaban tersendiri. Sekedar ingin menulis karena gundah bersarang, dan menulis sebagai pendamping secangkir Kopi di jam 3 Pagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s