Sore itu saya tiba di Ibu Kota, balik dari pembelajaran di Jogjakarta yang saya tempuh selama beberapa tahun ini. Balik karena memang saya harus balik untuk beberapa hal, pertama saya harus melanjutkan hidup, kedua saya harus terjun ke dunia yang seungguhnya setelah kuliah ini, ketiga saya harus lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibu, keempat saya harus berkarya, dan kelima adalah saya harus mencari perempuan yang sekiranya mungkin bisa diajak ke jenjang yang lebih serius lagi. Namun, karena beberapa keresehan yang saya rasakan, ajdilah beberapa sajak untuk hari itu.

 

Tiba di Jatinegara dan Malam

Langkah tiba di Stasiun Jatinegara,

senyum lepas menerpa gundah sesaaat.

Berkala pikiran mulai bekerja pada porosnya,

poros yang teramat rumit.

Senja di Jakarta membawaku ke berbagai pengalaman sang teman.

Keras memang keadaan sekarang,

bukan tuk terlena dengan permatanya.

Fana memang jikalau dirasa.

Di ujung gedung itu, ada sosok laki-laki tidur diemperannya.

Alasanya hanya plastik dan ditemani angin malam.

Terasa sedih jika melihatnya dengan perasa,

namun terlihat memang begitu adanya.

Malam berlanjut dengan perbincangan,

lampu dengan gemerlap malam,

lagu elektronik di radio mobil,

serta bayangan akan  cerita yang akan datang.

Lengkapnya malam itu ada Kopinya.

Tawaan akan candaan masa kelam.

Terbawa akan harusnya pautan waktu.

Sepi mungkin akan mengguyur sukma.

Jakarta, 1 September 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s