http://muhfebriramadhan.blogspot.co.id/2015/11/wiji-thukul-sang-pahlawan-reformasi.html
(Ilustrasi Wiji Thukul)

Secangkir Kopi malam itu menjadi sebuah renungan, renungan akan sesuatu hal yang tentunya tak bisa dilupakan, tentang beberapa hal yang aku ingin bahas dan menjadikannya sebagai puisi, atau sajak, atau entah. Terlebih sehabis melihat beberapa tulisan akan sebuah penolakan. “Menolak Lupa” terdengar seperti itu ditelinga, dan juga malamnya beberapa lagu dari Efek Rumah Kaca pun menemani dan jadilah hasil tulisan ini.

   Kehilangan Tidak di Lupa

Ada kunci di sebuah Gudang Tua.
Ruang hampanya terdengar suara,
suara dari mereka yang menggebu.
Ada sapaan berbentuk sajak mereka.

Gerakan lama dengan nyawanya.
Sekumpulan satria pemegang tinta.
Bergerak dengan nyali yang mengaum.
Kebeneran pun sejadinya ditikam.

Aku melihat kehilangan,
kehilangan dengan duka dirobek.
Jejak tak terlihat, telinga ditutup,
lalu pikirannya dihapus dengan pisau bedah.

Gagak hitam enggan memberi pertanda.
Banyaknya mereka hilang apakah terlupa.
Sajak Wiji Thukul adalah pengingatnya,
pengingat akan kaum pemberani.

#Istirahatlahkatakata

(Sajak: Hanif Iqbal)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s