Kutipan dari Blog, Renungan, dan Tidur Nyenyak

 

” Aku merasa aku tak dimengerti. Aku menghadapi banyak kepergian dan ditinggalkan lalu aku masih dituntut untuk mengerti? Aku saat itu  merasa muak menjadi orang yang mengambil peranan ‘mengerti’. ”

Kutipan dari blog-nya mbak Win, atau yang biasa dipanggil mbak W. Pernah mengikuti salah satu kelas nulis di writingtable, ternyata membuat aku lebih kepo sama ilmu-ilmu nulisnya mbak W. Singkat cerita mengikuti blognya, dan menemukan tulisan yang berjudul ‘menangis’.

Kutipan tersebut cukup menyadarkan saya, akan beberapa renungan. Terkadang akhir pekan, tepatnya malam minggu, saya lebih sering pakai waktu itu untuk merenung di kala malam. Tapi, kadang juga aku lakukan dengan berkumpul bersama teman, dan mengerjakan pekerjaan tambahan, ataupun sekedar bersantai di akhir pekan. Maklum, kekasih saja tak punya, karena bukaan saatnya untuk memikirkan hal satu itu.

Sesekali menulis lanjutan cerita, dan kadang berujung ide yang tumpul.  Seharusnya naskah yang saya tulis memang seajadinya diselesaikan tahun ini, namun aku ngaret. Rampungnya lama, saya agak membenci komitmen, maka tak ada waktu yang ditargetkan untuk yang satu ini. Sebuah tuntutan kehilangan ternyata banyak merubah diri saya. Terlebih lagi, masalah mencari kekasih. Rasanya ingin sekali keluh kesah ini berujung penantian yang pantas, tapi entah…. mungkin Tuhan sedang baik-baiknya dengan saya.

“Sesak sudah relung diikat, diikatnya dengan beberapa masalah, terasa bukan masalah, namun hanya jejak busuk.”

Itu pikir saya, relung otak ini adalah lautan penuh sesak, tak ada oksigen, dan bahkan saya saja harus meninggalkan kepribadian yang lalu. Ada renungan yang mengalun, apa daya seperti semua-semua yang baik ternyata satu persatu diambil Tuhan yang Maha Kuasa. Dari kejadian bertubi-tubi kehilangan, lalu berujung ditinggal meninggalnya sang bapak,

“Pas sekali, tepat hari ini hujan datang dikala malam.”

Waktu terus bergulir, berlari tanpa mengenal kompromi. Terlebih, hidup memang harus berjalan apa adanya, bukan mempasrahi semua ini hanya untuk dunia semata. Apa ada yang salah, atau ada apa dibalik kisah sebelum-sebelumnya.

“Merupakan tanda tanya besar, jikalau memang masa sekarang membawaku ke doa yang tak kunjung turun.”

Hari demi hari membawa saya kembali ke ruang resah, sehingga tulisan demi tulisan hanya berisi sajak keluh. Saya bingung, namun tetap harus mengerti. Saya harus memulai kembali, memulai sesuatu yang harus dibangunkan dari tidur. Terasa sudah, tulisan mbak W menyentil sekali. Sudah malam, sudah lanjutkan dengan tidur yang nyenyak. Cukup satir, dari apa yang ada di buah pikiran, sehendaknya saya tulis, biar  tidak saya pendam. Walaupun dari paragraf ke paragraf tak ada pun menyambungnya, tapi kalau mau membacanya silakan dibaca.

 

 

Advertisements

Kopimana27, Tempat Ngopi Sepulang Kantor

Foto: Ihanifiqbal (instagram)
Foto: Ihanifiqbal (instagram)

Bacakopi bakalan ngebahas salah satu Coffee Shop yang baru didatengin, dan langsung bikin betah. Kali ini mau negbahas Kopimana27 yang berada di Jl. Prof. DR. Supomo No. 45 BZ, Kota Jakarta Selatan. Pertama tau sedari teman, yang waktu itu memang lagi terjebak macetnya Ibu Kota di jalan, alih-alih ditunjukin lalu saya berencana mencari hari untukmengajak teman mengunjungi tempat yang satu ini.

Tempatnya simpel, enak dan nyaman, mushola ada, toilet, wi-fi, dan satu lagi adalah konsep yang ditawarkannya unik.Playlist lagu di sini juga menawarkan lagu-lagu yang akrab dinikmati menurut saya.

Sudah bisa satu paket  buat berlama-lama ngobrol, nulis nyari inspirasi, atau ngisi waktu luang menikmati secangkir Kopi setelah pulang Kantor. Tapi sejadinya pulang kantor, malah saya bisa mengunjunginya lagi di akhir pekan bersama kawan perkopian. Harga berkisar 20 ribu-30, tersedia Coffee Latte, manual brewing dengan pilihan biji Kopi lokal, dan bagi yang tidak terlalu fanatik dengan Kopi di Kopimana juga menyediakan red velvet, green tea latte dan juga taro, dan beberapa menu unik seperti Kopi buatan istri.

Foto: ihanifiqbal
Foto: ihanifiqbal

Ada beberapa kutipan di Coffee Shop ini, seperti “Kenapa Kopi Hitam? Karena Abu-Abu itu Rawan Kelabu” atau saya masih penasaran kenapa “Selayaknya Istri Kopi adalah titipan” (Itu bunyinya yang terakhir kayak gitu).

 “Lain waktu, mungkin saya akan berlama-lama di Coffee Shop yang satu ini untuk berbincang dengan sosok perempuan, entah siapa, tapi pingin saja” – Kutipan dari sang penulis blog yang sangat menggilai Kopi.

 Untuk yang mencari tempat ngopi atau sekedar suasana Coffee Shop bisa mengunjungi tempat yang satu ini, merapat bersama banyak kawan, sendiri juga tidak masalah. Selamat menyeduh!