Sudah tidak terasa memasuk akhir tahun, dan akan berganti ke tahun yang baru. Melihat ke belakang sejenak merupakan kebiasaanku di setiap akhir tahun. Hal itu berfungsi untuk membuatku lebih bersyukur, karena hidup selalu punya kejutan di setiap saat. Aku membuka beberapa catatan, dan melihat cerita yang terkumpul. Aku punya catatan bahwa pertengahan  kemarin aku sempat marah kepada Tuhan, bertubi-tubi diberi keadaan yang membuatku jatuh, terpuruk tanpa melihat lagi apakah esok masih ada harapan untuk manusia sepertiku. Mungkin terlalu drama, tapi percayalah bahwa beberapa bulan kemarin cukup sulit dilanda keluarga kecilku ini.

Tapi setelah banyaknya cobaan yang ada, aku tetap saja selalu termenung akan apa yang terjadi, tepatnya setelah hari ulang tahunku yang diperingati oleh kesialan terbesar. Hati ini selalu diundang sesal, apa lagi sejak saat bapak belum mengucapkan apa-apa kepadaku, sampai nafas terakhirnya berhembus. Namun, di perjalananku waktu itu di pesawat, selalu saja muncul pertanyaan bahwa apa yang telah aku lakukan sebelumnya, atau memang Tuhan hanya ingin menguji keimanan. Memang sejatinya, sekenarionya lah yang maha luar biasa, dinanti walaupun harus aku konsumsi kesabaran yang berlebih.

“Hari itu tepatnya di bulan pertama puasa menjelang, aku sampai-sampai tidak nafsu makan seharian.”

Sampai dititik itu belum selesai, ada lagi perjuangan yang tidak berjalan lancar. Resah campur aduk menjadi gumpalan ketidakyakinan. Detik demi detik membunuh dengan pasti, waktu tak ubahnya maju dan tak bisa mundur, dan aku masih saja menyisakan sesal di lemari kecil di kamar. Hari terus berjalan, sedikit demi sedikit sahabat serta keluarga membantuku dengan uluran berupa cerita, senyum, serta banyak hal. Aku beruntung masih mempunyai sedikit sahabat yang Tuhan kirimkan untuk mengubah pandangan terhadap dunia ini. Rasa sesal lama kelamaan juga terkikis, untuk apa menyesali yang sudah terjadi, apa lagi ditanam dalam-dalam. Sedikit yang bisa diajak cerita, namun sedikit itulah yang berarti.

Akhirnya menginjak bulan Desember, dimana akhir tahun sudah mau habis. Tak disangka catatan ini masih banyak perlu ditulis lagi. Dari hal itu, aku bersyukur, memang benar adanya kalau saja Tuhan masih memberikan apa yang aku butuhkan. Bahwa beberapa bulan ini aku lebih melihat hal sederhana sebagai hal yang sangat luar biasa. Tuhan masih benar-benar baik, tak sepantasnya aku marah kepadanya. Buktinya ia masih memberi sebutir nasi, memberikan gula di secangkir kopiku yang pahit. Belum lagi, masih ada senyum di wajah ibuku. Begitulah Tuhan memberikan banyak hal yang aku bisa petik, dan sejatinya aku tulis.

Dengan adanya catatan ini, aku masih ingin melanjutkannya tahun demi tahun, agar kelak aku bisa melihat bahwa yang terjadi dengan diri ini terbilang sebuah cerita yang luar biasa. Catatan akhir tahun ini merangkum beberapa penyesalan yang dibalut dengan mimpi di masa depan, lalu disponsori oleh lagu Coldplay yang berjudul “Fix You” yang terdengar di radio dikala sangat malam, saat penyiarnya pun sudah tidak siaran. Masih ada cita-cita, maka aku harus hilang sesal, dan membuka cerita baru di tahun berikutnya. Sang Khalik tidak akan tidur, maka aku terus meminta agar pintanya datang, lalu diberi jawaban atas segalanya.

Advertisements

2 thoughts on “Catatan Akhir Tahun dan Lagu Coldplay yang Berjudul Fix You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s