Shophaus Menteng, Satu Paket Enak di Akhir Pekan

img-20170108-wa0017-01
potret dari luar

Akhir pekan, dimana waktu untuk cheating atau istilah istirahat untuk bagi orang-orang yang menjalani diet, tentu tidak ada salahnya dilakukan. Seperti biasanya, bacakopi ingin membahas tempat ngopi akhir pekan. Kalau kali ini rekomendasi tempat khusus untuk cheating day nya yang sedang diet. Berawal dari diajak salah satu temannya teman saya. Akhirnya saya dan 2 teman saya menuju ke daerah Menteng. Lalu kami mengunjungi Shophaus. Tempatnya cukup strategis, tengah kota dan ditemani pemandangan hiruk pikuknya.

“A collaboration space joint is one of the newest place model that attract so many visitors lately, bringing such a fresh concept where we can find easily several brands being in one place at the same time.” – (Kutipan dari Foodirectory.blogspot.id )

img_20170107_111238-01
Waffle Ice Cream dan Secangkir Kopi (Magic)

Bisa dibilang tempat yang satu ini menawarkan sebuah paket akhir pekan yang lengkap. Bersantai dengan ice cream, atau ingin menikmati secangkir kopi enak, atau pun kita juga bisa menikmati makanan enak lainnya. Pilihan Ice cream dengan rasa bervariasi sangat cocok untuk penghilang panas di akhir pekan, siang bolong dengan obrolan-obrolan, icip makanan sana-sini, sesekali tak apa jika awal bulan tiba.  Kopinya tidak kalah enak, saya memesan menu bernama “Magic” dengan pilihan biji kopi Panama, sesekali menikmati biji kopi dari luar Indonesia. Tempat nan santai serta sejuk, tidak kalah menariknya jika ingin mengabadikan momen bersama sahabat dan keluarga. Beberapa produk seperti Pigeonhole Coffee, Berrywell, Gelato Secrets, Mockingbird and Namelaka Patisserie  bisa dinikmat di satu tempat.

img_20170107_105218-01
Ruang bagian coffe shop

Banyak menu yang cukup enak, terutama kopi dan ice creamnya yang saya dan teman saya coba. Budget untuk 2 sekitar 150 ribu, maka anda bisa menikmati berbagai makanan dan minuman yang ditawarkan. Tidak bisa diragukan lagi bahwa tempat ini juga menjadi tujuan banyak muda-mudi untuk mengambil potret, menambah update-an di sosial media. Untuk tempat yang satu ini saya akan kembali lagi, sambil menikmati suasananya dan menikmati menu yang belum saya coba.

Filosofi Proses Santan

(sumber foto: Supermetroemall)

Seperti biasa, sore hari dengan kopi hangat nan harum. Saat itu juga saya sedang memulai percakapan via social media dengan salah satu sahabat. Dia berpesan kepada saya untuk datang di wisudanya bulan Febuari nanti. Tentu saya akan usahakan, dan percakapan berlanjut tentang apa saja yang telah terjadi tahun-tahun kemarin. Kita sama-sama setuju kalau 2 tahun belakangan ini menjadi tahun yang membuat diri kiita sama-sama berubah. berubah dalam arti lebih banyak akan merenung tentang kehidupan. Terlebih lagi saya, yang merasakan bahwa 2 tahun ini sangat banyak perubahan dalam lingkungan maupun individu.

Alih-alih saya kembali mengingat apa saja yang terjadi selama 2 tahun belakangan ini, ternyata memang banyak sekali kejadian. Kejadian tersebut memang banyak membuat saya berpikir ulang untuk melangkah, tidak sembarang melangkah. Diuji memang, sang pencipta memberi banyak kejadian untuk saya tetap merasa bersyukur.

Awal tahun kerap menjadi kebiasaan untuk diri merenung. Mendengarkan lagu, atau membaca buku baru dan menonton film-film baru selalu saya sempatkan. Jika ada rizki yang lebih, saya juga memilih untuk pergi ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi.Tujuannya agar bisa mendapatkan inspirasi baru dan tentu semangat baru, tidak sekedar menambkan perenungan di awal tahun.

Sambil membuka layar laptop, saya melihat video dari teman di Yogya yang ia share. Terselip kata-kata dari sosok laki-laki yang menjadi pembicara di video tersebut….

“Jika hidup anda belum ada cobaan maka anda seharunya bersedih.”

Seperti itulah potongan kata-kata mas-mas pembicara yang ada dalam videonya. Laki-laki ini bercerita tentang proses santan saat dibuat, yang dalam ceritanya seperti separuh melawak. Tapi sangat menyentilku, tak heran benar jika ia berkata dengan greget  dan bersemangat. Bisa saya bilang bahwa ini adalah filosofi Proses Santan yang ternyata bisa menjadi sebuah pelajaran dan renungan hidup.

“Aku sudah jatuh dari tempat yang tinggi, kenapa harus dicabik-cabik lagi dengan golok? Dan aku kira hidupku sudah selesai, ternyata masih dibelah, diparut, disiram dengan air panas, lalu diperas, tahapan selanjutnya aku dimasak (menjadi gulai kambing, atau empal gentong, dan masakan lainnya)”

Begitulah seingatku kata-katanya, sang mas-mas pembicara menggambarkan bagaimana jikalau buah kelapa bisa berbicara, maka ia akan menangis dan berkata seperti itu. Namun ditambahkan percakapan dari Tuhan, yang berbunyi seperti ini…

“Aku ingin sesuatu yang paling baik dalam dirimu keluar hai kelapa, yaitu Santan!”

Sejenak menelaah arti perjalanan santan, untuk menjadi sesuatu yang luar biasa kadang memang kita harus melewati perjalanan yang menyakitkan. Hal itu agar apa yang ada dalam diri ini bisa jadi sesuatu yang baik. Karena setelah melewati 2 tahun yang cukup berat, Sang Pencipta memang ingin diri saya ini menjadi sesuatu yang baik, luar biasa, ia bukan marah tapi menguji agar saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

“Jangan goyah, Sang Pencipta memang ingin kamu menang, sabar, jangan kerap mengeluh, jadilah manusia yang banyak bermanfaat, buktikan bahwa kamu tidak bisa lagi dipandang sebelah mata” – Hanif Iqbal

Saya berkata dalam diri sendiri, sekedar menyadarkan akan apa yang telah terjadi juga. Seraya menyeruput tetes kopi terakhir saya melanjutkan membuka blog dan membagi tulisan ini, semoga bisa bermanfaat saat dibagi.

Proyek “Kala Gundah”

 

Memulai tahun 2017 dengan ide-ide serta cerita yang lama terpendam. Di tahun ini saya dan satu teman saya bernama Frutti akan mengadakan project kolaborasi jarak jauh, rencana akan diadakan tiap bulan. Berawal dari percakapan yang tidak sengaja terjadi. Frutti ini adalah stage photographer  (atau tukang potret musisi yang sedang berlaga di panggung)  dari salah satu musisi indie lokal di Yogyakarta. Memang kita dari satu kampus dan fakultas yang sama, tapi berbeda program studi. Isi percakapan dimulai tentang band-band indie Indonesia, lalu malah tercipta pencetusan tentang proyek ini. Saya pikir kenapa tidak untuk dimulai, karena dari pada tidak sama sekali, toh teman saya ini juga yang pertama kali mengajak kolaborasi.

Mungkin proyek ini nantinya ada sebagai eksplorasi kita terhadap sebuah karya. Nantinya, sebuah karya ini ada dalam bentuk potret, lalu dikombinasikan dengan sentuhan sastra. Entah karena cuma iseng belaka atau memang karena ingin melatih diri, jadilah hal ini akan dilakukan tiap bulan. Jika berjalan dengan lancar, dari hal ini nantinya akan menjadi hal yang tidak biasa, yang para penikmat seni fotografi dan sastra berhak mempunyai opini masing-masing setelah melihatnya (Oo.. itu jelas).

“Kalau kita gak mulai berkarya, kelak kita akan selamanya jadi pasar” – Pandji Pragiwaksono

 Entah kenapa saya mengingat kata-kata itu, syukur-syukur bisa menghasilkan sesuatu yang nantinya menjadi pasar tersendiri. Mungkin proyek ini belum tentu menghasilkan atau bahkan menciptakan pasar yang ada, tapi yang kita ingin coba hanyalah “dicoba” dan disiplin dengan komitmen. Walaupun memang hal serupa seperti ini sebelumnya sudah ada. Dan setidaknya kita atau saya dan teman saya ini ingin mengekspresikan sesuatu hal dalam bentuk karya. Tentunya dari isi dan tampilan akan berbeda dari karya yang sudah ada dan lebih terkenal. Optimis dengan proyek atau bisa disebut karya kolaborasi dari jarak jauh. Berharap suatu saat ini akan jadi hal yang bisa dipamerkan sepertinya.