(sumber foto: Supermetroemall)

Seperti biasa, sore hari dengan kopi hangat nan harum. Saat itu juga saya sedang memulai percakapan via social media dengan salah satu sahabat. Dia berpesan kepada saya untuk datang di wisudanya bulan Febuari nanti. Tentu saya akan usahakan, dan percakapan berlanjut tentang apa saja yang telah terjadi tahun-tahun kemarin. Kita sama-sama setuju kalau 2 tahun belakangan ini menjadi tahun yang membuat diri kiita sama-sama berubah. berubah dalam arti lebih banyak akan merenung tentang kehidupan. Terlebih lagi saya, yang merasakan bahwa 2 tahun ini sangat banyak perubahan dalam lingkungan maupun individu.

Alih-alih saya kembali mengingat apa saja yang terjadi selama 2 tahun belakangan ini, ternyata memang banyak sekali kejadian. Kejadian tersebut memang banyak membuat saya berpikir ulang untuk melangkah, tidak sembarang melangkah. Diuji memang, sang pencipta memberi banyak kejadian untuk saya tetap merasa bersyukur.

Awal tahun kerap menjadi kebiasaan untuk diri merenung. Mendengarkan lagu, atau membaca buku baru dan menonton film-film baru selalu saya sempatkan. Jika ada rizki yang lebih, saya juga memilih untuk pergi ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi.Tujuannya agar bisa mendapatkan inspirasi baru dan tentu semangat baru, tidak sekedar menambkan perenungan di awal tahun.

Sambil membuka layar laptop, saya melihat video dari teman di Yogya yang ia share. Terselip kata-kata dari sosok laki-laki yang menjadi pembicara di video tersebut….

“Jika hidup anda belum ada cobaan maka anda seharunya bersedih.”

Seperti itulah potongan kata-kata mas-mas pembicara yang ada dalam videonya. Laki-laki ini bercerita tentang proses santan saat dibuat, yang dalam ceritanya seperti separuh melawak. Tapi sangat menyentilku, tak heran benar jika ia berkata dengan greget  dan bersemangat. Bisa saya bilang bahwa ini adalah filosofi Proses Santan yang ternyata bisa menjadi sebuah pelajaran dan renungan hidup.

“Aku sudah jatuh dari tempat yang tinggi, kenapa harus dicabik-cabik lagi dengan golok? Dan aku kira hidupku sudah selesai, ternyata masih dibelah, diparut, disiram dengan air panas, lalu diperas, tahapan selanjutnya aku dimasak (menjadi gulai kambing, atau empal gentong, dan masakan lainnya)”

Begitulah seingatku kata-katanya, sang mas-mas pembicara menggambarkan bagaimana jikalau buah kelapa bisa berbicara, maka ia akan menangis dan berkata seperti itu. Namun ditambahkan percakapan dari Tuhan, yang berbunyi seperti ini…

“Aku ingin sesuatu yang paling baik dalam dirimu keluar hai kelapa, yaitu Santan!”

Sejenak menelaah arti perjalanan santan, untuk menjadi sesuatu yang luar biasa kadang memang kita harus melewati perjalanan yang menyakitkan. Hal itu agar apa yang ada dalam diri ini bisa jadi sesuatu yang baik. Karena setelah melewati 2 tahun yang cukup berat, Sang Pencipta memang ingin diri saya ini menjadi sesuatu yang baik, luar biasa, ia bukan marah tapi menguji agar saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

“Jangan goyah, Sang Pencipta memang ingin kamu menang, sabar, jangan kerap mengeluh, jadilah manusia yang banyak bermanfaat, buktikan bahwa kamu tidak bisa lagi dipandang sebelah mata” – Hanif Iqbal

Saya berkata dalam diri sendiri, sekedar menyadarkan akan apa yang telah terjadi juga. Seraya menyeruput tetes kopi terakhir saya melanjutkan membuka blog dan membagi tulisan ini, semoga bisa bermanfaat saat dibagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s