Kilas Balik Mengenal Musik Lokal Indie dengan Seruputan Kopi

indie-banget
Sumber: deathrockstar.club

Seruputan kopi di siang hari saat akhir pekan.  Biasanya dari hal ini munculah beberapa kebahagiaan sederhana. Sama seperti saat saya mendengarkan lagu-lagu indie lokal Indonesia, alunannya berbeda dari pasar yang ada. Menurut saya, mereka yang menyuarakan akan musik Indie adalah mereka yang berani berekspresi. Senang jikaa mendengarkan lagu baru musisi indie lokal yang musiknya sangat membuat saya ketagihan. Sama seperti kopi yang membuat saya ketagihan.

Balik ke masa dimana saya menjalani sekolah dasar, pada saat itu industri musik dipertengahan tahun 2000 didominasi musik-musik pop melayu bernuansa cinta-cintaan. Lalu saya tidak sengaja mendengarkan beberapa musik yang berbeda. Nuansa yang mereka hadirkan sangat beragam, kaya akan sentuhan suara-suara yang melegakan hati. Melegakan hati ini bisa diartikan sebagai menghilangkan gundah dari pasar musik saat itu.  Saat itu sedang ramai-ramainya film Janji Joni, terdengar juga musik dari soundtracknya. Dari situlah saya mengenal The Adams, White Shoes & The Couples Company. Lalu saya juga tidak sengaja mendengarkan The Upstairs, Goodnightelectric, di radio atau dari teman-teman yang memberitahu.Terlebih lagi, pada saat itu Fenomena raja pensi juga mendukung akan majunya band-band indie ini.

Tidak lama kemudian munculah Efek Rumah Kaca dengan lagu andalannnya “Lagu Cinta Melulu” yang menurut saya cukup menyadarkan kebanyakan orang akan musik Indie Lokal. Belum lagi Float yang muncul dengan aduhainya, Sore yang menggebrak kegelisahan melankolia, The Sigit yang membuat saya lompat-lompat, Mocca yang menunjukan kegemberiaan dari setiap alunannya. Semakin berjalannya waktu, semakin bermunculan band-band indie unik di tahun 2009an ke atas. Waktu itu saya ingat sekali diperkenalkan oleh teman saya sebuah band bernama The Trees & The Wild, Adhitia Sofyan, Endah & Rhesa, Tika & Dessidents, Seringai, Soulvibe, dan beberapa band lainnnya yang saya agak lupa (sebutkan di kolom comment kalau ada yang bisa menambahkan) yang mereka-mereka ini termasuk generasi musisi pensi pada zamannya. Tentu adanya regenerasi dari musisi indie lainnya dirasakan di tahun-tahun tersebut.

Namun jika melihat sejarahnya, saya baru menyadari bahwa suara-suara indie tersebut dimulai dari sebuah kampus seni. Kampus seni terkenal di Ibu Kota yaitu IKJ (Institut Kesenian Jakarta) tempat ini melahirkan beberapa musisi indie ternama. Seperti Jimi Multazam (Vokalis dari The Upstairs dan sekarang juga punya project bernama Morfem), Aprilia Apsari (Vokalis White Shoes & The Couples Company), Henry Foundation (dedengkot dari Goodnightelectric) dan ada beberapa orang lagi yang memang tergabung di musik projek yang sama, serta pendukung lainnya. Mereka-mereka ini yang menggebrak dengan musik nan menggairahkan pasar musik Indonesia. Salah satu dokumenter menarik bagi saya bisa dilihat di link dibawah ini. Salah satu dokumenter singkat produksi Pijaru ini membuka mata saya, jujur sejak muncul Sound From the Corner beberapa tahun lalu saya ingin membahas perkembangan musik Indie Lokal. Adanya dokumenter tersebut semakin menambah gairah untuk menulisnya sekarang.

Kisah pendek dalam mengenal musik indie saya berlanjut ketika saya melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Pada saat itu saya dikenalkan dengan salah satu seniman folk seperti Risky Summerbee & The Honeythief. Kala itu dikenalkan oleh teman yang ternyata vokalis dari band tersebut adalah salah satu dosen saya. Berlanjut menjelajah saya mengenal Frau, Stars & Rabbit, FSTVLST, Tik Tok, dan masih ada beberapa band indie lainnya. Sangat berkesan ketika mengenal musik-musik mereka yang ternyata membuat saya betah dengan Yogyakarta. Saya mengenal sisi lain musik dari kota kelahiran Sheila On 7 ini.

Bisa dibilang musik indie lokal semakin bersuara, berkualitas dengan karyanya, dan juga tidak main-main dengan prestasinya. Salah satu cita-cita saya bisa dibilang ingin sekali masuk dalam pasar indie dalam berkarya, entah dengan musik, karya sastra, dan karya seni lainnya. Setidaknya mereka-mereka yang telah memulai berkarya dan telah membuktikannya adalah mereka yang sekarang menjadi penyemangat. Bahwa mereka telah membuktikan dengan karyanya yang dapat menciptakan pasar tersendiri bagi penikmatnya.

Catatan: Hanif Iqbal

 

Antara Cerita Bung Karno, Celetukan Tentang Cinta, dan Lagu Jazz

“Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” (Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno).

 Pagi itu secangkir kopi tubruk menemani saya, lalu sambil menikmati alunan lagu lama. Menikmati hujan yang beberapa hari ini sering mengguyur Jabodetabek. Membaca beberapa email, dan juga menikmati kata-kata yang saya cari untuk bahan tulisan. Lalu menemukan sebuah kata-kata lama dari Presiden Indonesia terdahulu, yaitu Bapak Dr.Ir. H. Soekarno atau lebih dikenal dengan nama Bung Karno.

Benar adanya jika Bung Karno adalah sosok wibawa dengan pembawaannya, ia dapat memikat banyak kaum hawa pada saat itu jatuh cinta. Cerita cintanya pun menjadi salah satu kisah tersohor. Sambil melihat foto Bung Karno yang berada di ruang tamu dengan tanda tangannya, saya menanyakan kepada ibu. Foto itu ada karena dulu kakek saya adalah seorang wartawan, ia kerap mengikuti beberapa acara dengan Bung Karno. Jadilah ia diberi kenang-kenangan berupa sebingkai fotonya. Dari banyak kisah, saya tahu bahwa beliau sangat romantis namun tetap bijaksana, bukan sekedar gombal biasa, itulah yang dilihat dari beberapa pujangganya tentang cinta. Banyak beberapa memoar tentang ceritanya dan beberapa istrinya. Cerita tersebut bisa dilihat di buku yang berjudul Bunga-Bunga di Taman Hati Soekarno, Kisah Cinta Bung Karno Dengan 9 Istrinya yang ditulis penulis Haris Priyatna, dan Total Bung Karno karya Roso Daras.

Memang sudah porsinya berarti, pastilah ada sulit untuk dirasakan. Bagi saya, cinta adalah sesuatu yang membuat kepayang, bingung bila dirasakan terlalu dalam. Kadang tidak mudah ditebak, firasat pun jadi teman pendukungnya. Memang tidak datang dengan mudah, namun bisa saja pergi dengan mudah. Bagi yang sedah jatuh-jatuhnya sama cinta, tetaplah mawas diri, namun bersungguh-sungguh untuk saling mendukung juga. Seperti sayap yang bisa membuat terbang.

“Tahu apa kamu tentang cinta?”

Sebenarnya tahu karena pernah merasakan beberapa cerita, tapi dibilang sangat mengerti juga tidak. Tulisan ini hanya ocehan yang ingin dibicarakan saja, karena memendam tidaklah seenak yang dipikirkan. Setelah membaca tulisan ini coba kamu klik link lagu yang berada di atas, lagu favorit dari salah satu penyanyi Youtube. Ikuti beberapa instruksinya, pejamkan mata, dan bayangkan bahwa kamu bisa sekedar melihat mata orang yang disuka.

Apasih Coffee Snob itu?

2017-02-05-14_58_11-capture
(Sumber: Coffeesmithjkt)

Di kesempatan kali ini saya ingin membahas sesuatu yang beberapa tahun belakangan ini lagi hype, yaitu pecinta kopi, atau biasanya kalangan orang-orang perkopian menyebutnya dengan coffee snob. Pecinta kopi memang bermunculan lebih menjamur, dari yang mulai mencap dirinya pecinta kopi di sosial media,sampai yang mulai menjelma karena ikut-ikutan, atau yang dengan ilmu seadanya menjelaskan perkopian yang ada. Ada juga yang sudah melalang buana demi secangkir kopi dan terbukti sangat mumpuni menjadi coffee snob itu sendiri.

” An individual who cares about what coffee or coffee mix drink they put in their mouth. A coffee snob is not ok with starbucks, or Tim hotrons, or dunkin doughnuts, or mcdonalds…etc.” – Kutipan dari urban dictionary

Seperti itulah gambaran singkatnya si coffee snob tersebut. Entah saya bisa dibilang seperti itu atau tidak, tapi beberapa ciri-ciri yang akan dibahas ini mungkin akan mendeskripsikan seorang coffee snob lebih lanjut.

  1. Menyeruput dan Tidak dengan Diminum Langsung

Dari cara seorang coffee snob itu bisa dilihat saat dia menikmati secangkirnya. Biasanya orang ini akan menyeruput dengan bunyi “Slurp..Slurp,” begitulah sejatinya. Kerap melakukan itu karena ingin merasakan flavour yang ada, menikmatinya dengan khusyuk. Lalu dilanjutkan dengan muka-muka lagi berpikir, sangking seriusnya kalau ditanya “Gimana rasanya?” wah….. bisa dibarengi dengan penjelasan yang cukup panjang.

2. Hafal Bahasa-bahasa yang Berbau Kopi

Kalau hal yang satu ini memang sering banget nih menjadi bahan obrolan. Dengan fasihnya akan keluar dari mulut kata-kata seperti acidity, brewing, bitterness, sweatness, medium, cupping, break, tamping dan masih banyak lagi. Kalau udah bicarain hal-hal yang berbau kopi akan saling ngasih informasi dan akan amat sangat kepo tentang kopi.

3. Shopisticated

Kalau seorang coffee snob ingin memesan kopi yang dinikmati pasti harus perfect, dan bahkan memesan yang tidak ada di menu yang ditampilkan. Selera secangkir kopi yang tinggi membuatnya memang harus tidak sembarang memesan. Seorang coffee snob akan langsung memesan menu seperti Split. Atau, Magic. Atau, Tasting Flight. Quadrupple espresso. Pocahontas. Beelzebub.(Sumber tambahan: Kopikini)

4. Paham Sama Kopi yang Dia Nikmatin

Kalau mau mesan kopi atau nikmati kopi gak sembarangan beli. Misalkan seperti ini, “saya mau kopinya single origin ya” atau akan lebih memperhatikan suhu yang tepat. Menurut National Coffee Association suhu air paling baik dalam membuat kopi ideanya adalah 195°F sampai 205°F atau 90 – 96 derajat celcius. Tapi beberapa orang biasanya menggunakan suhu di bawah 90 derajat Celsius saat menyeduh dengan metode manual brew. (Sumber tambahan: ottencoffe)

5. Starbucks Itu Nggak Banget

sb
(Sumber: Eonline.com)

Seorang coffee snob akan menganggap gerai kopi dari amerika ini adalah pantangan. Mereka enggan ngopi di tempat ini. Mungkin mereka akan lebih memilih ngopi di kedai kopi lokal. Atau pilihan mereka bisa jadi membeli biji kopi yang sudah di roasting dan memang menikmatinya dengan alat grinder kepunyaan sendiri. (Padahal di dompetnya bisa saja ada kartu member, atau pun di sosial media line-nya dapet promo dan langsung dibelikan pada hari itu juga)

6. Mengoleksi Barang-Barang yang Berbau Kopi

Mengoleksi adalah bagian dari kesukaan atau hobi. Maka coffee snob sejati biasanya punya barang-barang seperti kaos, jacket, tas, buku, atau bahkan koleksi lainnya yang berhubungan dengan kopi. Tidak lupa dengan alat-alat sederhana pembuat kopi, entah penyeduhmanual. grinder, dan barang-barang lainnya.

7. Merasa Sohib Banget Sama Barista-Barista Ternama

m-aga
(Sumber: qraved)

Kalau yang satu ini lucu-lucu songong sih, merasa kayaknya udah friend banget sama barista-barista seperti Mat Perger atau Tim Wendelboe, atau kalau dari Indonesia ada Muhammad Aga.

Berikut gambaran tentang coffee snob. Artikel ini hanya sekedar untuk bacaan dan saling sharing, seru-seruan, dan menambah ilmu. Jikalau ada yang kurang mohon ditambahkan, atau pun bisa komen di blog ini. Hidup kopi Indonesia!!