Obrolan Berfaedah di Ruang Tamu

livingroom

Sumber gambar: Pinterest

“Hari itu adalah dimana cerah muncul, dan tidak ada hujan. Tumben sekali karena beberapa bulan ini di Bekasi sering diiringi hujan”

 Sore di akhir pekan kala itu salah satu sahabatku ingin bercerita. Maka saya mengunjungi rumahnya, seperti biasa saja, memang sering saya main ke rumahnya sekedar gitaran atau berbincang random, lalu sisanya diisi dengan kegiatan makan atau entah akan lanjut pergi lagi. Tumben saya juga tidak ngopi di sore hari, karena mungkin saya sedang keasyikan membahas sesuatu yang kami berdua perbincangankan.

“Gue rencana mau bikin buku, yang nyeritain tentang perkembangan hidup gue, jadi ini buku gue mulai tulis dari sekarang. Dan bakalan gue rilis pas umur gue 30 tahun, menurut lo gimana?”

“Menarik, dan pasti punya prespektif berbeda dari tiap bagian atau cerita yang mau teman saya ceritakan.”

Pikir saya dengan jawabnya (sok lebih berwibawa biar dibilang  baik, padahal apalah aku ini #Kaliansuciakupenuhdosa)

Dari obrolan itu saya kembangkan lagi pembicaraan. Ngalor ngidul, obrolan berisikan masa lalu, masa sekarang dan sampai khayalan masa depan. Saya dan sahabat saya yang satu ini memang suka ceplas-ceplos kalau sedang berbincang membahas sesuatu. Ceplas-ceplos bukan berarti ngasal tanpa berfaedah kalau kata anak jaman sekarang, tapi ini lebih ke sesuatu yang memang kita perbincangkan dengan berpikir.

“Gila kita tahun ini udah 22 tahun njirr”

Ujung-ujungnya kita membiracakan umur, kita merasa ada resah di umur yang sekarang. Memang ada gundah atau resah tapi ini berjalan karena pola pikir kita yang memang resah ingin mencari sesuatu ingin membuat sesuatu yang menginspirasi, ataupun sedang ada ditahap yang ingin lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Wajar ada resah, karena kita sedang berproses. Banyak takut dengan sesuatu hal yang belum terjadi, namun sudah dipikiran oleh benak. Bahkan jika sesuatu yang telah terjadi itu nantinya terjadi, toh masing-masing dari kita akan bisa melewatinya dengan rasa takut yang hilang.

Perbincangan tak menentu ini akhirnya malah sampai malam, tidak terasa ketika kita membahas sesuatu dari prespektif berbeda. Ada saja cerita yang bisa dibahas, walaupun untuk hari itu saya berbincang tidak dengan segelas kopi. Intinya setiap obrolan sederhana dengan orang-orang sekitar adalah sesuatu yang selalu jadi pengingat. Mengingatkan akan hal baik, akan perubahan, harapan, serta renungan untuk diri sendiri. Diujung pamit untuk pulang ke rumah, saya bergumam dalam doa, semoga apa yang direncanakan oleh sahabat-sahabat saya akan menjadi mimpi yang terealisasikan, bisa menjadi pembuktian bahwa…

“Saya bisa melakukan ini!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s