Critical Eleven dan Berdamai Dengan Pahit

Sumber Foto: Youtube
Sumber Foto: Youtube

Pertama-tama saya lagi jarang ke coffee shop, jadi malah bahas film dan cerita-cerita lainnya dulu. Secepatnya nanti akan ngebahas coffee shop dan hal-hal yang berbau kopi kok. Anyway, kali ini mau sedikit cerita tentang film yang saya baru tonton, film ini diangkat dari novel best seller. Yaitu “Critical Eleven” sebuah kisah romansa yang ternyata cukup membawa hati seperti naik roller coaster. Saya sebagai penonton rasanya terbawa oleh chemistry dari Ale dan Anya yang dibintangi oleh Reza Rahardian dan Adinia Wirasty.

“Sebenernya bukan karena saya baperan banget”

Tapi memang filmya mampu membawa masuk ke suasana, ditambah soundtracknya pula (Saya tidak mau spoiler lebih lanjut, bagi yang belum nonton sila ditonton!) Saya jadi ingat, di hari itu memang sepulang kantor saya menonton filmnya. Maka saya membutuhkan kopi di sore hari, rasa penasaran tentang filmnya sangat menjadi-jadi di dalam diri. Tentunya saya tidak ingin menikmati fillmnya sambil terkantuk. Maka dari itu segelas kopi pastilah ampun menghilangkan mengantuk. Di satu sisi, jadilah tercetus ide membahas film ini denga apa yang telah saya rasakan Tentunya ada sedikit hal yag berbau kopi, ya… dari prespektif berbeda.

Bisa dikatakan cerita ini mengingatkan saya akan salah satu cerita yang pernah saya buat untuk naskah yag sedang digodok. Di cerita ini menceritakan sebuah kisah sepasang suami istri yang diuji akan kekuatan cinta. Bukannya sok tau nih, tapi memang terlihat kalau cerita cinta saat setelah menikah akan benar-benar terasa diuji dibandingkan putus cinta saat pacaran. Menurut saya, putus cinta saat pacaran masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan patah hatinya cerita Ale dan Anya. Patah hati karena kisah cinta terlihat “almost perfect” ¬†yang ternyata ada badainya, ada ujian yang begitu besar.

“Mirip-mirip rasa pahit kopi, namun entah yang lebih pahit yang mana.”

Film ini juga mengingatkan saya dengan belajar menikmati kepahitan, karena tidak semua pahit(atau jelmaan badai serta masalah yang ada) itu tidak kita rangkul. Belajar berdamai dengan diri sendiri atau dengan problema yang telah dilewati itu ternyata penting. Memang tidak mudah rasanya. Namun seiring berjalannya kehidupan ada saja fase bahwa “Kita tidak baik-baik saja” dan setiap individu punya cara masing-masing untuk menyelesaikannya. Kalau saya sendiri, memfilosofikan sebuah kopi bukan sekedar minuman pahit, mungkin itu adalah salah satu cara saya berdamai dengan sesuatu hal yang memang belum tentu sejalan dengan harapan. Semoga Anda punya cara tersendiri, yang jelas harus positif agar hidup lebih bermakna.

Dan satu hal lagi, namanya juga komitmen dalam menjali kasih, sebesar apapun badainya haruslah diperjuangkan. Atau memang kekuatan cinta yang ada pada kedua insan dalam cerita tersebut sangat kuat. Entahlah….. jadi sok tau gini tentang cinta, padahal juga jomblo saya. Dari pada saya spoler lagi mending dicoba tonton saja film Critical Eleven! Selamat menonton!

Advertisements