Akhirnya saya menulis tentang kopi juga, setelah sekian lama vakum karena kerjaan. Jadi untuk review kali ini saya membahas tentang “Bean” kopi yang sedang saya coba beberapa hari ini. Namun, saya akan mengawali dengan pembahasan manfaat menikmati kopi asli bukan yang sachet.

Para pembaca yang budiman mulai dari sekarang terapkanlah minum kopi namun tidak mengkonsumsi kopi sachet atau jenis kopi instan lainnya. FYI, kopi sachet/instan adalah kopi yang kurang berfaedah karena kandungannya pun tidak 100% kopi asli. Campuran jagung atau pahkan perasa Karena meminumnya pun bisa mempengaruhi kesehatan kita. Selain itu, kopi instan pun tidak mengandung anti-oksidan yang dibutuhkan oleh tubuh, dan juga Anda sebagai peminum kopi kurang bisa ber-eksperimen dengan rasa kopi yang enak.

“Biji Kopi atau bubuk kopi enak kan mahal…”

Mungkin banyak yang beranggapan seperti itu, tapi coba Anda cek kembali kedai-kedai kopi lokal yang menjual biji berkualitas atau toko-toko biji kopi di beberapa pasar seperti di Pasar Tanah Abang, atau bisa saja cek ke toko-toko online. Memang sudah cukup banyak yang menjual, tinggal di pilih sesuai yang diinginkan. Untuk harga bervariasi, jadi tinggal dipilih dan dicoba.

“Yuk cobain Kopinya!”

Balik lagi nih ke biji kopi yang saya cobain, jadi saya nyobain biji kopi yang saya titip dari teman saya yang pulang kampung ke Yogyakarta. Belinya di salah satu coffee shop andalan saat saya masih kuliah di Yogya, yaitu dari Studio Kopi. Mereka salah satu kedai kopi yang menyediakan biji kopi pilihan di Yogya dengan berbagai macam jenisnya.  Saya pake grinder manual (Sudah banyak tersedia kok) demi menikmati kopi lebih baik, dan saya minum kopinya bersama kakak sepupu saya untuk mengetest rasa dan meracik kalau-kalau nanti mau buka kedai kopi nan sederhana. Jenis yang saya beli adalah dari Bali, yaitu Bali Belantih Wash (Single Origin) dan ada beberapa oleh-oleh lagi dari teman saya yang juga penikmati kopi. Biji kopi tambahan dari teman saya merupakan biji yang sudah digrinder, lalu dari daerah Jawa Barat dengan nama Manglayang dan Puntung. 3 kopi tersebut saya coba awalnya dengan metode Manual Brewing.

Untuk rasanya, dua kopi dari Jawa Barat cenderung lebih asam, dan dari Bali in cukup unik lebih ke pahit dan asamnya ada dibagian terakhir. Kalau kata kakak saya begini…

“Untuk bean Bali belantih ini memang agak terlalu spesifik, bisa dibilang untuk orang yang tidak coffee snob/pecinta kopi banget pasti kurang suka, berbeda dengan yang dari Jawa Barat, rasanya lebih bisa diterima oleh semua kalangan.”

Celetuknya begitu.  Ya…gimana lagi mungkin pendapat tiap orang agak berbeda-beda, tapi ini yang kadang bikin seru, saya jadi ada teman debat maupun bertukar pikiran saat icip-icip kopi.

Berikut sesi icip-icip kopi lokal, saya kurang potret gambar sepertinya nih, saya sangat butuh saran dan komen untuk sesi cicip kopi selanjutnya. Bisa share artikel ini dan like, dan juga komen, terimakasih pembaca nan budiman, jangan lupa juga ngopi!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s