Ibarat Biji Kopi yang Dirawat hingga Tumbuh, Itulah Film Filosofi Kopi 2 Ben & Jody

 

 

(Sumber foto layar.id)

“Setiap hal yang punya rasa, selalu punya nyawa”

 

Kata-kata ini yang terngiang dari film bagian 2 dari sekuel Filosofi Kopi. Benar adanya bahwa setiap yang punya rasa adalah dari yang punya nyawa, adalah yang bukan sia-sia, dan membuat kita yang melihat sebuah kopi bukan cuma minuman yang diminum, tapi dinikmati. Sama seperti memaknai kehidupan yang kita rasakan.

Balik ke pembahasan Film Filosofi Kopi, bagi saya menonton film Filosofi kopi 1 dan ke 2 seperti melihat proses atau perjalanan biji kopi yang ditanam lalu hingga ke secangkirnya untuk dinikmati. Selalu ada proses yang khidmat dalam ceritanya. Perubahan demi perubahan bisa dilihat, tokoh Ben & Jody semakin tumbuh dengan hasil pencarian yang mereka temukan. Tidak usah diragukan lagi chemistry dua sahabat ini sangat luar biasa, sangat mumpuni ketika generasi yang akan datang mengetahui dua tokoh sahabat ini sebagai legenda dunia perkopian serta perfilman. Konflik yang hadir dalam cerita mampu membawa naik turun hati saya sebagai penonton.  Ditambah music scoring yang hadir mampu menawarkan sensasi yang apik dalam menikmati sebuah film. Menurut saya di awal bagian film memang akan terasa seperti cerita berjalan begitu adanya, tanpa ada bumbu-bumbu tambahan, sampai tiba dibagian tengah sampai akhir adalah bagian yang tidak diduga-duga dan membuat saya sangat terbawa atau bisa dibilang greget sendiri. Tokoh baru seperti Tara yang diperankan ole Luna Maya dan Brie yang diperankan oleh Nadine Alexandra dapat membawa pemanis dan menambah sebuah kejutan (Tadinya pingin spoiler, tapi kasian yang belum nonton mending nonton dah buran mumpung masih ada, atau di daerahnya tidak difilmkan nih satu film bisa langsung ke instagram @filkopmovie Ben&Jody, karena nanti akan ada buka layar buat nonton rame2 #KopiinIndonesia) .

Salut juga sama film filosofi kopi, mereka menerjemahkan sebuah kopi bukan sekedar di coffee shop yaitu  ditangan barista, namun lebih dari itu. Kopi yang nikmat dan mempunyai filosofi adalah yang berawal dari kebun, dijaga lalu dirawat seperti merawat anak sendiri. Di film yang ke 2 ini juga lebih menunjukan Indonesia yang kaya akan sejarah dunia perkopian. Selalu ada hal yang bisa dipelajari dan dilihat sisi baiknya di film ini. Belum lagi soundtrack film ini selalu selaras dan sejiwa, sangat pas dan epic!

“Sangat berterimakasih kepada sutradara Angga Sasongko karena telah membawa Filosofi Kopi lebih dari sekedar Kopi”

Dari film ini saya juga melihat beberapa sisi lain tempat ngopi, bahwa kopi enak memang berawal dari sebuah kesederhanaan, tak selalu yang ada di coffee shop yang mewah. Saya juga banyak belajar dari film yang satu ini. Belajar tentang persahabatan, kekompakan dan kerja dengan hati, cinta yang diperjuangkan, serta meredam ego dalam sebuah kelompok. Tidak cukup nonton 1 kali!

 

 

 

 

Critical Eleven dan Berdamai Dengan Pahit

Sumber Foto: Youtube
Sumber Foto: Youtube

Pertama-tama saya lagi jarang ke coffee shop, jadi malah bahas film dan cerita-cerita lainnya dulu. Secepatnya nanti akan ngebahas coffee shop dan hal-hal yang berbau kopi kok. Anyway, kali ini mau sedikit cerita tentang film yang saya baru tonton, film ini diangkat dari novel best seller. Yaitu “Critical Eleven” sebuah kisah romansa yang ternyata cukup membawa hati seperti naik roller coaster. Saya sebagai penonton rasanya terbawa oleh chemistry dari Ale dan Anya yang dibintangi oleh Reza Rahardian dan Adinia Wirasty.

“Sebenernya bukan karena saya baperan banget”

Tapi memang filmya mampu membawa masuk ke suasana, ditambah soundtracknya pula (Saya tidak mau spoiler lebih lanjut, bagi yang belum nonton sila ditonton!) Saya jadi ingat, di hari itu memang sepulang kantor saya menonton filmnya. Maka saya membutuhkan kopi di sore hari, rasa penasaran tentang filmnya sangat menjadi-jadi di dalam diri. Tentunya saya tidak ingin menikmati fillmnya sambil terkantuk. Maka dari itu segelas kopi pastilah ampun menghilangkan mengantuk. Di satu sisi, jadilah tercetus ide membahas film ini denga apa yang telah saya rasakan Tentunya ada sedikit hal yag berbau kopi, ya… dari prespektif berbeda.

Bisa dikatakan cerita ini mengingatkan saya akan salah satu cerita yang pernah saya buat untuk naskah yag sedang digodok. Di cerita ini menceritakan sebuah kisah sepasang suami istri yang diuji akan kekuatan cinta. Bukannya sok tau nih, tapi memang terlihat kalau cerita cinta saat setelah menikah akan benar-benar terasa diuji dibandingkan putus cinta saat pacaran. Menurut saya, putus cinta saat pacaran masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan patah hatinya cerita Ale dan Anya. Patah hati karena kisah cinta terlihat “almost perfect”  yang ternyata ada badainya, ada ujian yang begitu besar.

“Mirip-mirip rasa pahit kopi, namun entah yang lebih pahit yang mana.”

Film ini juga mengingatkan saya dengan belajar menikmati kepahitan, karena tidak semua pahit(atau jelmaan badai serta masalah yang ada) itu tidak kita rangkul. Belajar berdamai dengan diri sendiri atau dengan problema yang telah dilewati itu ternyata penting. Memang tidak mudah rasanya. Namun seiring berjalannya kehidupan ada saja fase bahwa “Kita tidak baik-baik saja” dan setiap individu punya cara masing-masing untuk menyelesaikannya. Kalau saya sendiri, memfilosofikan sebuah kopi bukan sekedar minuman pahit, mungkin itu adalah salah satu cara saya berdamai dengan sesuatu hal yang memang belum tentu sejalan dengan harapan. Semoga Anda punya cara tersendiri, yang jelas harus positif agar hidup lebih bermakna.

Dan satu hal lagi, namanya juga komitmen dalam menjali kasih, sebesar apapun badainya haruslah diperjuangkan. Atau memang kekuatan cinta yang ada pada kedua insan dalam cerita tersebut sangat kuat. Entahlah….. jadi sok tau gini tentang cinta, padahal juga jomblo saya. Dari pada saya spoler lagi mending dicoba tonton saja film Critical Eleven! Selamat menonton!

Anime, Cerita Tentang Harapan, dan Coffee Latte

(Sumber Foto: walldevil)

Untuk kalian generasi 90an, tentu masa mudanya kerap dihabiskan dengan banyak kartun bukan? Salah satu kebiasaan saya pun juga dulu adalah menonton, membaca komik, ataupun mengoleksi mainan dan barang yang berbau tokoh kartun kesukaan. Saya pun sebagai generasi yang cukup mengenal kartun-kartun yang berjaya pada masanya, tentu masih mengikuti. Walaupun tidak sesering dulu. Dimulai dari membaca komik, terutama kartun dan tokoh komik dari Jepang. Kebiasaan ini berlanjut, tapi berhenti ketika saya masuk kuliah. Karena memang sudah disibukan dengan banyak kegiatan dan tugas yang menumpuk.

Namun sekarang saya lebih bisa mempunyai waktu untuk membaca, dan mengerjakan pekerjaan. Mungkin karena di satu sisi hp sepi (Jomblo) jadi masih ada kegiatan bermanfaat lainnya. Akhirnya saya mencoba lagi mengikuti komik Jepang. Awalnya memang karena ingin mengenang masa-masa berjaya dengan sebuah komik, tapi lama kelamaan ada sisi lain dari membaca komik Jepang.

“Ketika diri ini sedang jatuh-jatuhnya karena kenyataan dunia yang sebenarnya, saya memilih mencari harapan di cerita dalam komik Anime Jepang”

 Entah kenapa mereka-mereka yang menciptakan komik adalah seseorang maestro bagi saya. Mereka yang punya mimpi besar. Mereka yang membuat khayalan namun membawa inspirasi kepada banyak insan. Sangat amat salut, mereka yang bekerja membuat karya seperti ini patut diapresiasikan. Terlebih mereka membuat karya yang memberi semangat. Saat saya terjebak dan benar-benar jatuh dengan suatu keadaan, dengan membaca atau menonton Animasi Jepang tertentu, saya bisa semangat lagi. Bukan hanya refreshing sejenak dari kegiatan yang ada. Namun menyegarkan lagi akan sebuah harapan, bahwa cerita-cerita mereka bisa memberikan kesan yang positif, bisa membuat penikmatnya tersihir.

“Jika memang ada kesungguhan, maka disitulah akan ada harapan, dan kejadian yang bisa diimpikan akan jadi kenyataan.”

Banyak dari beberapa komik membawa pesan itu. Seperti komik yang saya baca dan mengikuti animasinya adalah Doraemon, Naruto, Bleach, One Piece, Anime-anime dari Ghibli Studio, Hunter X Hunter, Captain Tsubasa,Kimi No Na Wa dan film atau komik Anime lainnya. Menikmati bacaan dan film kartun asal negeri Jepang ini bagi saya adalah teman yang cocok untuk menikmati Coffee latte atau pun Cappucino. Hal tersebut karena saya lebih memilih sesuatu hal yang manis dan penuh rasa lain selain rasa pahit yang berlebihan, mengingatkan akan hari esok selalu ada harapan. Sama seperti cerita-cerita dengan gambar, memberi sentuhan kalau kehidupan kita bukan hanya mimpi belaka. Semua pastilah ada jalannya.

“Itulah yang saya suka dari cerita-cerita Anime Jepang, mereka membawa pesan kehidupan lain agar kita nikmati, ambil hikmahnya, dan tetap tidak menyerah dengan apa yang kita jalani.”

 

 

Catatan Resah, Iklan, dan Kopi Hitam

Ilustrasi (foto ihanifiqbal)

“I have many sleepless nights, gue khawatir terhadap mimpi-mimpi gue sendiri, mimpi-mimpi yang terlalu besar, terlalu ambisius.”

Kutipan tersebut saya dengar dari salah satu iklan kreatif, dibintangi oleh satu anak muda kreatif yang Indonesia punya. Catatan saya beberapa bulan setelah kelulusan kuliah adalah hal ini. Yang kerap terjadi pada diri saya, dan selalu terpikir di malam hari saat ada deadline kerjaan ataupun hanya ditemani musik. Belum lagi, seruputan kopi hitam pada sore hari menambah tak bisa tidur akan malamnya.

Masih muda dan bergejolaknya idealisme dalam diri, obsesi yang melambung tinggi menjadi pendukung dari keyakinan tersebut. Saya terus berjalan tanpa, tanpa menghiraukan bahwa yang terjadi ke depan terkadang tidak selalu bisa membuat semua yang diinginkan pasti berjalan dengan lancar. Jatuh bangun memang membuat saya kerap masih berpikir panjang untuk berjalan lagi, karena adanya pihak yang tak terduga misalkan. Mereka yang tidak terduga datang menampar bahwa akan realita yang ada. Banyak yang menjatuhkan namun tidak sedikit juga yang membantu. Di era sekarang, menurut saya adalah era dimana saya harus terus bertahan tanpa harus berlama-lama akan malas dari melangkah karena habis terjatuh.

“Banyak jalan menuju Roma”

Sering terdengar akan kutipan tersebut, kutipan entah dari mana pastinya. Tapi memang bisa jadi benar selama kita mau terus melangkah dan tidak lupa dengan sang pencipta. Jangan mulai berjalan jangan dengan sombong, selalu ingat dengan yang menciptakan dunia ini, itulah yang selalu ditanamkan orang tua saya. Hal ini menjadi salah satu pacuan untuk tidak mau menyerah dengan kondisi yang ada. Satu hal lagi yang bisa membuat rasa khawatir akan mimpi-mimpi besar saya hilang.Yaitu adalah saat saya bangun tidur, mengawalinya dengan pagi hari, selalu ada banyak hal sederhana yang bisa membaut saya bersyukur. Tenang dan tidak panik, lalu siap menjalani setiap harinya dengan doa.

Menerima banyak saran serta kritikan adalah hal yang bisa menjadi cambuk bagi diri. Setiap saya membuat sesuatu yang menginspirasi, setiap itu juga saya harus menampung ide dan masukan dari banyak pihak. Tentu tujuannya adalah untuk menjadikan sesuatu yang kita buat, nantinya akan menjadi lebih baik. Banyaknya tantangan juga membuat saya terus berpikir untuk berinovasi, menjadi copy writer iklan seperti yang saya jalani sekarang memang tidak mudah. Tapi dari pekerjaan itu saya terus belajar untuk mengolah, untuk melatih kepekaan terhadap banyak hal.

Adapun sebuah kutipan di atas saya dapat dari iseng-isengnya mencari iklan yang menginspirasi. Jadilah saya menemukan iklan ini. Cukup menampar, namun membuat saya terhipnotis dengan keadaan sekarang. Keadaan dimana saya harus bangun dari tidur, melupakan lara yang membekas, keadaan dimana saya harus terus berkarya dengan passion, keadaan dimana saya harus membuktikan bahwa mimpi saya adalah mimpi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.  Hidup cuma sekali, saya harus memanfaatkan waktu yang ada, harus berselaras dengan tantangan. Toh tantangan yang ada adalah yang diberikan dan bisa diselesaikan.

“Dan satu lagi, terselip akan mimpi saya bisa bertemu dan berjalan dengan perempuan yang sedari sudah lama saya impikan, pokoknya adalah… saya tidak harus menyebutkan nama,lokasi, dan lain-lain, cukup dalam doa.”

Film Galih dan Ratna, Mixtape, dan Es Kopi Susu

Sumber: Rollingstone Indonesia

Hari itu saya awali dengan membuat es kopi susu sendiri. Dengan kopi Lampung lalu dicampur cream latte yang saya beli, lalu saya endapkan di lemari es ketika sudah dicampur. Sederhana namun manisnya membuat saya mengingat masa-masa SMA. Karena masa-masa itu saya belum mengenal rasa asli kopi tanpa gula, masa-masa dimana saya lebi suka kopi campuran dengan susu. Bersamaan dengan hari itu, malamnya saya menonton film Galih dan Ratna bersama teman lama, ia pengamat film yang aktif membahas film di blognya.

“Akhirnya film yang saya nantikan beberapa bulan ini bisa ditonton juga.”

Film ini sebenarnya adalah remake dari film terdahulu. Dulunya diperankan oleh Rano Karno sebagai Galih dan Yessy Gusman sebagai Ratna. Dua sedjoli ini bisa dibilang ikon dari sebuah kisah kasih sekolah pada jamannya. Gambaran cinta pertama setiap insan muda yang sedang menginjak umur yang sedang mempunyai gejolak akan cinta.

Kesan saat menonton film yang diperbarui ini memang cukup berekspektasi, dikarenakan saya sudah menonton versi lamanya. Tapi ternyata cerita yang satu ini benar-benar di luar harapan saya. Cerita khas anak muda milenial dipadukan dengan ciri khas jatuh cinta orang jadul semasa SMA. Ceritanya dibalut dengan idealisme anak muda, cita-cita, passion, serta berbagai macam bumbu yang telah diracik untuk menampilkan alur cerita yang apik nan baper. Bisa dibilang baper (bawa perasaan) karena menurut saya ada bagian cerita yang cukup menguras hati. Yaitu bagian saat dimana Galih tetap ingin mempertahankan cita-citanya. Ia ingin membuktikan pada ibunya, terutama juga ingin memperjuangkan apa yang telah almarhum ayahnya bangun. Sebuah toko kaset lama pun jadi saksi. Lalu Ratna di cerita ini menjadi pendamping yang pas, dua sedjoli ini pun sama-sama bisa membuat kita yang menonton mengingat masa-masa jatuh cinta saat SMA. Untuk soundtrack film yang satu ini, eskpektasi saya adalah adanya lagu-lagu lama yang dibuat ulang. Ternyata lebih banyak lagu-lagu baru yang fresh yang juga tidak kalah bagusnya. (Pokoknya yang belum nonton mendingan nonton deh, saya tidak mau spoiler lagi)

Belum lagi konsep mixtape dari kaset yang diselipkan di cerita ini. Lengkap sudah romansa kisah kasih namun tidak terlihat murah atau gombalan semata. Kenapa dari dulu saya tidak kepikiran juga bahwa mixtape kaset yang berisikan lagu-lagu cinta adalah terobosan cara untuk menyampaikan isi hati, dibandingkan harus menulis surat. Tapi pada era saya SMA di tahun 2010 kaset pun sudah mulai ditinggalkan saya rasa. Namun cara old school seperti itu sangat berkesan bagi saya yang termasuk generasi milenial ini saat melihatnya di film ini.

Intinya kisah Galih dan Ratna adalah cerita yang saya ibaratkan seperti es kopi susu. Rasa manis yang pas sat itu mengingatkan saya akan cerita SMA, membawa lagi kilas balik rasa manis-manisnya jatuh cinta saat pertama kali. Saya merasa sudah cukup tua saat menonton film ini dan baru sadar saat film selesai. Berikut cerita saya yang sedikit membahas film romantis yang menjadi terobosan baru juga di perfilman Indonesia.

Obrolan Berfaedah di Ruang Tamu

livingroom
Sumber gambar: Pinterest

“Hari itu adalah dimana cerah muncul, dan tidak ada hujan. Tumben sekali karena beberapa bulan ini di Bekasi sering diiringi hujan”

 Sore di akhir pekan kala itu salah satu sahabatku ingin bercerita. Maka saya mengunjungi rumahnya, seperti biasa saja, memang sering saya main ke rumahnya sekedar gitaran atau berbincang random, lalu sisanya diisi dengan kegiatan makan atau entah akan lanjut pergi lagi. Tumben saya juga tidak ngopi di sore hari, karena mungkin saya sedang keasyikan membahas sesuatu yang kami berdua perbincangankan.

“Gue rencana mau bikin buku, yang nyeritain tentang perkembangan hidup gue, jadi ini buku gue mulai tulis dari sekarang. Dan bakalan gue rilis pas umur gue 30 tahun, menurut lo gimana?”

“Menarik, dan pasti punya prespektif berbeda dari tiap bagian atau cerita yang mau teman saya ceritakan.”

Pikir saya dengan jawabnya (sok lebih berwibawa biar dibilang  baik, padahal apalah aku ini #Kaliansuciakupenuhdosa)

Dari obrolan itu saya kembangkan lagi pembicaraan. Ngalor ngidul, obrolan berisikan masa lalu, masa sekarang dan sampai khayalan masa depan. Saya dan sahabat saya yang satu ini memang suka ceplas-ceplos kalau sedang berbincang membahas sesuatu. Ceplas-ceplos bukan berarti ngasal tanpa berfaedah kalau kata anak jaman sekarang, tapi ini lebih ke sesuatu yang memang kita perbincangkan dengan berpikir.

“Gila kita tahun ini udah 22 tahun njirr”

Ujung-ujungnya kita membiracakan umur, kita merasa ada resah di umur yang sekarang. Memang ada gundah atau resah tapi ini berjalan karena pola pikir kita yang memang resah ingin mencari sesuatu ingin membuat sesuatu yang menginspirasi, ataupun sedang ada ditahap yang ingin lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Wajar ada resah, karena kita sedang berproses. Banyak takut dengan sesuatu hal yang belum terjadi, namun sudah dipikiran oleh benak. Bahkan jika sesuatu yang telah terjadi itu nantinya terjadi, toh masing-masing dari kita akan bisa melewatinya dengan rasa takut yang hilang.

Perbincangan tak menentu ini akhirnya malah sampai malam, tidak terasa ketika kita membahas sesuatu dari prespektif berbeda. Ada saja cerita yang bisa dibahas, walaupun untuk hari itu saya berbincang tidak dengan segelas kopi. Intinya setiap obrolan sederhana dengan orang-orang sekitar adalah sesuatu yang selalu jadi pengingat. Mengingatkan akan hal baik, akan perubahan, harapan, serta renungan untuk diri sendiri. Diujung pamit untuk pulang ke rumah, saya bergumam dalam doa, semoga apa yang direncanakan oleh sahabat-sahabat saya akan menjadi mimpi yang terealisasikan, bisa menjadi pembuktian bahwa…

“Saya bisa melakukan ini!”

Kilas Balik Mengenal Musik Lokal Indie dengan Seruputan Kopi

indie-banget
Sumber: deathrockstar.club

Seruputan kopi di siang hari saat akhir pekan.  Biasanya dari hal ini munculah beberapa kebahagiaan sederhana. Sama seperti saat saya mendengarkan lagu-lagu indie lokal Indonesia, alunannya berbeda dari pasar yang ada. Menurut saya, mereka yang menyuarakan akan musik Indie adalah mereka yang berani berekspresi. Senang jikaa mendengarkan lagu baru musisi indie lokal yang musiknya sangat membuat saya ketagihan. Sama seperti kopi yang membuat saya ketagihan.

Balik ke masa dimana saya menjalani sekolah dasar, pada saat itu industri musik dipertengahan tahun 2000 didominasi musik-musik pop melayu bernuansa cinta-cintaan. Lalu saya tidak sengaja mendengarkan beberapa musik yang berbeda. Nuansa yang mereka hadirkan sangat beragam, kaya akan sentuhan suara-suara yang melegakan hati. Melegakan hati ini bisa diartikan sebagai menghilangkan gundah dari pasar musik saat itu.  Saat itu sedang ramai-ramainya film Janji Joni, terdengar juga musik dari soundtracknya. Dari situlah saya mengenal The Adams, White Shoes & The Couples Company. Lalu saya juga tidak sengaja mendengarkan The Upstairs, Goodnightelectric, di radio atau dari teman-teman yang memberitahu.Terlebih lagi, pada saat itu Fenomena raja pensi juga mendukung akan majunya band-band indie ini.

Tidak lama kemudian munculah Efek Rumah Kaca dengan lagu andalannnya “Lagu Cinta Melulu” yang menurut saya cukup menyadarkan kebanyakan orang akan musik Indie Lokal. Belum lagi Float yang muncul dengan aduhainya, Sore yang menggebrak kegelisahan melankolia, The Sigit yang membuat saya lompat-lompat, Mocca yang menunjukan kegemberiaan dari setiap alunannya. Semakin berjalannya waktu, semakin bermunculan band-band indie unik di tahun 2009an ke atas. Waktu itu saya ingat sekali diperkenalkan oleh teman saya sebuah band bernama The Trees & The Wild, Adhitia Sofyan, Endah & Rhesa, Tika & Dessidents, Seringai, Soulvibe, dan beberapa band lainnnya yang saya agak lupa (sebutkan di kolom comment kalau ada yang bisa menambahkan) yang mereka-mereka ini termasuk generasi musisi pensi pada zamannya. Tentu adanya regenerasi dari musisi indie lainnya dirasakan di tahun-tahun tersebut.

Namun jika melihat sejarahnya, saya baru menyadari bahwa suara-suara indie tersebut dimulai dari sebuah kampus seni. Kampus seni terkenal di Ibu Kota yaitu IKJ (Institut Kesenian Jakarta) tempat ini melahirkan beberapa musisi indie ternama. Seperti Jimi Multazam (Vokalis dari The Upstairs dan sekarang juga punya project bernama Morfem), Aprilia Apsari (Vokalis White Shoes & The Couples Company), Henry Foundation (dedengkot dari Goodnightelectric) dan ada beberapa orang lagi yang memang tergabung di musik projek yang sama, serta pendukung lainnya. Mereka-mereka ini yang menggebrak dengan musik nan menggairahkan pasar musik Indonesia. Salah satu dokumenter menarik bagi saya bisa dilihat di link dibawah ini. Salah satu dokumenter singkat produksi Pijaru ini membuka mata saya, jujur sejak muncul Sound From the Corner beberapa tahun lalu saya ingin membahas perkembangan musik Indie Lokal. Adanya dokumenter tersebut semakin menambah gairah untuk menulisnya sekarang.

Kisah pendek dalam mengenal musik indie saya berlanjut ketika saya melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Pada saat itu saya dikenalkan dengan salah satu seniman folk seperti Risky Summerbee & The Honeythief. Kala itu dikenalkan oleh teman yang ternyata vokalis dari band tersebut adalah salah satu dosen saya. Berlanjut menjelajah saya mengenal Frau, Stars & Rabbit, FSTVLST, Tik Tok, dan masih ada beberapa band indie lainnya. Sangat berkesan ketika mengenal musik-musik mereka yang ternyata membuat saya betah dengan Yogyakarta. Saya mengenal sisi lain musik dari kota kelahiran Sheila On 7 ini.

Bisa dibilang musik indie lokal semakin bersuara, berkualitas dengan karyanya, dan juga tidak main-main dengan prestasinya. Salah satu cita-cita saya bisa dibilang ingin sekali masuk dalam pasar indie dalam berkarya, entah dengan musik, karya sastra, dan karya seni lainnya. Setidaknya mereka-mereka yang telah memulai berkarya dan telah membuktikannya adalah mereka yang sekarang menjadi penyemangat. Bahwa mereka telah membuktikan dengan karyanya yang dapat menciptakan pasar tersendiri bagi penikmatnya.

Catatan: Hanif Iqbal