Cerpen: Cangkir Putih yang Hancur

 

Ilustrasi (Foto by@ihanifiqbal)

Ilustrasi (Foto by@ihanifiqbal)

 

Sebuah Kedai Kopi yang terletak diujung kawasan perkantoran, di antara sebuah Ruko-ruko  yang cukup ramai oleh pekerja kantoran yang selalu mampir, tepat disinilah aku menjalani hidup sekarang. Aku adalah sebuah cangkir berwarna putih,  mempunyai cukup ruang untuk dinikmati dengan berbagai macam minuman hangat, berukuran sedang, berdampingan dengan wadah cangkir serta sendok kecil, dan tidak terlalu besar jika harus dipegang dengan satu tangan. Di Kedai Kopi bernama “Kopi Mind”  inilah aku menetap. Nama itu tertulis di pintu depan serta di tiap meja, begitulah nama Kopi Mind selalu terpampang jelas. Sebelumnya aku lahir disebuah pabrik cangkir-cangkir mahal, sampai akhirnya aku tumbuh dilingkungan sebuah lingkungan restoran bintang lima. Lalu sekarang, aku berpindah lagi ke sebuah Kedai Kopi.

Dulu, sering kali aku diisi dengan teh manis hangat. Begitulah aku, berjalan dengan diam suasana restoran bintang lima. Lalu saat restorannnya akan pindah aku dijual bersama beberapa cangkir-cangkir lainnya, karena kata salah satu petugas restoran mereka ingin mengganti semua perabotan lama dengan yang baru. Aku kira aku dan beberapa temanku akan terlantar atau diletakan begitu saja berdebu ditoko barang bekas. Tapi ternyata, ada sosok perempuan yang membeliku. Perempuan itu berparas sejuk, diikat rambutnya dan kadang terhempas begitu saja, memakai kaca mata sederhana, dan selalu tersenyum ketika membawa aku dan beberapa temanku. Saat tiba di tempat bernama Kedai Kopi itu,  aku merasa sangat hidup, ketika aku diambil dan diletakan dengan indah disebuah rak cangkir yang terletak di sudut Kedai Kopi, disitu aku merasakan langsung sentuhan tangan halusnya yang secara perlahan meletakanku dengan sabar.

Merasa beruntung, saat hari demi hari berjalan dengan indahnya. Karena hari berjalan dengan sosok perempuan yang biasa dipanggil mbak barista ini selalu menggunakan aku sebagai gelas andalannya. Sekarang ruangku ini bukan lagi diisi dengan teh, tapi diisi dengan olahan biji Kopi yang segar, sedemikian rupa dijadikan bubuk harum lalu dicampur dengan 98 persen air dan  mempunyai temperatur 96 derajat Celsius, kadang hanya berupa hitam pekat saat dilihat, dan kadang juga dicampur dengan cream latte yang bisa membuat ruangku ini terlihat lebih indah untuk dinikmati dari pada cuma sekedar hitam.

Diam dalam ramainya suasana Kedai ini, membuatku tenang mengamati, mengamati mereka selalu berkunjung membawa bahan obrolan untuk diperbincangkan. Dari hal yang paling menyenangkan, menyedihkan, sampai hal yang tak pantas dibicarakan. Aku kadang hanya bisa mengamati dan tertawa jika melihat mereka yang sedang membicarakan orang lain, seakan mereka tidak tahu bahwa Tuhan mereka tidak tidur, dan malaikat pun pastilah mencatat perbuatan sebengis ini. Namun ada satu hal yang paling aku amati dengan baik, yaitu mbak barista yang selalu memegangku dengan hati-hati. Ia selalu membawaku ke tempat dimana aku dibersihkan, ia membersihkanku dengan kesabarannya, lalu meletakanku kembali dengan rapih dan membuat aku tentunya nyaman walaupun ia harus meninggalkanku.

Tiba juga saat dimana Kedai mulai dibuka, cukup pagi Kedai Kopi sudah dibuka. Terdengar suara pintu Kedai yang terbuka. Tak disangka aku pun diambilnya dari rak cangkir. Aku serasa kekasih yang dipegang tangannya lalu diajak berlari mengelilingi taman. Tapi ternyata, pagi itu aku diberikan ke tangan seorang lelaki, kasar tidak halus dan harum seperti tangan mbak barista. Diisilah ruangku ini dengan air putih yang dingin, tidak seperti biasanya. Bertanya-tanya sendiri pun tidak menemukan jawabannya, sampai aku tahu bahwa terdengar suara lelaki ini memanggil nama.

“Nama itu terucap dan terdengar dengan sebutan Anjani…”

 Sampai tiba mbak barista yang biasa kukenal ini menghampiri lelaki yang memang tidak aku suka dari awal aku melihatnya. Lelaki yang akhirnya meletakanku dipinggir meja. Terlihat tidak enak bagiku, seperti wajan yang sudah gosong karena berkali-kali dipakai masak. Sampai saat ia tersenyum dan memegang tangan perempuan yang kukenal sedari dulu, mereka berpelukan hangat dalam syahdu, saling berciuman dengan perasaan dunia milik mereka berdua, hingga tidak sadar keduanya bersandar pada  meja. Meja pun bergeser dan membuatku yang diletakan dipinggirnya terjatuh.

 “Pyarrr…..”

 Aku terjatuh pecah, menimbulkan suara bising,  berserakan sudah semua bagian tubuhku, sakit dan remuk semua organ dalam tubuhku, ruangku pun sudah hilang dan hancur lebur. Karena selama ini ruangku memang kosong dan selalu diisi dengan Kopi yang dituangnya, dan kini benar-benar hancur. Sudah berakhir semua, lalu aku hanya disapu.  Dengan hati-hati memang menyapunya, namun tidak sehati-hati biasanya ketika aku diletakannya di meja.

” Aku lebih baik menelan Kopi pahit yang selalu disediakan diruang cangkirku, yang selalu aku telan pahit-pahit dari pada harus terjatuh dan pecah seperti ini.”

  Aku memang benda mati, namun saat itu aku lebih mati dari benda mati sekalipun. Disapu dengan keadaan yang sekarat, lalu dibuang begitu saja.  Samar-sama terlihat perempuan ini, terselip rasa bersalah dari raut wajahnya. Aku melihat wajahnya yang cemas, mungkin sekedar cemas yang sebentar. Melihat parasnya terakhir kali adalah keuntunganku sebelum benar-benar pergi dengan mati dan meninggalkan tempat ini. Tapi, ada rasa syukur di hari itu, karena di akhir hidupku tak ubahnya aku senang bisa mendengar nama aslinya, walaupun tidak dari bibirnya sendiri yang terucap.