Proyek “Kala Gundah”

 

Memulai tahun 2017 dengan ide-ide serta cerita yang lama terpendam. Di tahun ini saya dan satu teman saya bernama Frutti akan mengadakan project kolaborasi jarak jauh, rencana akan diadakan tiap bulan. Berawal dari percakapan yang tidak sengaja terjadi. Frutti ini adalah stage photographer  (atau tukang potret musisi yang sedang berlaga di panggung)  dari salah satu musisi indie lokal di Yogyakarta. Memang kita dari satu kampus dan fakultas yang sama, tapi berbeda program studi. Isi percakapan dimulai tentang band-band indie Indonesia, lalu malah tercipta pencetusan tentang proyek ini. Saya pikir kenapa tidak untuk dimulai, karena dari pada tidak sama sekali, toh teman saya ini juga yang pertama kali mengajak kolaborasi.

Mungkin proyek ini nantinya ada sebagai eksplorasi kita terhadap sebuah karya. Nantinya, sebuah karya ini ada dalam bentuk potret, lalu dikombinasikan dengan sentuhan sastra. Entah karena cuma iseng belaka atau memang karena ingin melatih diri, jadilah hal ini akan dilakukan tiap bulan. Jika berjalan dengan lancar, dari hal ini nantinya akan menjadi hal yang tidak biasa, yang para penikmat seni fotografi dan sastra berhak mempunyai opini masing-masing setelah melihatnya (Oo.. itu jelas).

“Kalau kita gak mulai berkarya, kelak kita akan selamanya jadi pasar” – Pandji Pragiwaksono

 Entah kenapa saya mengingat kata-kata itu, syukur-syukur bisa menghasilkan sesuatu yang nantinya menjadi pasar tersendiri. Mungkin proyek ini belum tentu menghasilkan atau bahkan menciptakan pasar yang ada, tapi yang kita ingin coba hanyalah “dicoba” dan disiplin dengan komitmen. Walaupun memang hal serupa seperti ini sebelumnya sudah ada. Dan setidaknya kita atau saya dan teman saya ini ingin mengekspresikan sesuatu hal dalam bentuk karya. Tentunya dari isi dan tampilan akan berbeda dari karya yang sudah ada dan lebih terkenal. Optimis dengan proyek atau bisa disebut karya kolaborasi dari jarak jauh. Berharap suatu saat ini akan jadi hal yang bisa dipamerkan sepertinya.

Advertisements

Terbentur,Terbentur, Terbentur, Terbentuk

terbentur-terbentuk

 

Tiba-tiba saya teringat dengan kata-kata dari Tan Malaka, salah satu pemuda penggerak kemerdekaan. Sangat menggugah, saya merasakan dengan kata-katanya. Penekanan  bagi diri saya, yang beberapa bulan ini bekerja dan menerima sebuah tanggung jawab. Entah yang salah siapa, pihak yang memberi kepercayaan kepada saya, atau diri saya, atau sesuatu hal yang belum saya ketahui.

Ternyata yang tidak diharapkan terjadi juga, saat kepercayaan runtuh, dan runtuh begitu saja. Harap tak tentu, ingin suka tapi ya apa daya harus ditelan pahit-pahit. Seakan cita-cita saya berhenti, entah saya harus terbentur berapa kali lagi agar terbentuk. Entah sekarang cukup bingung, namun masih terselip rasa syukur. Karena dibalik sebuah kejadian akan selalu ada hikmah yang yang bisa dipetik.

Satu persatu apa yang saya rasakan ternyata lagi-lagi dihujani beribu pertanyaan, termasuk yang satu ini. Tapi melihat banyak role model yang ada, bahwa memang hidup akan terus berjalan dan tidak mudah untuk mencapai sesuatu yang selama ini memang diimpikan.

“Mumpung diumur segini, aku hanya bisa terus berjalan, terjatuh sudah biasa, namun bangkit lagi untuk nantinya terbentuk, tentu akan merasakan pembuktiaan yang paling pantas.”

Ocehan ini bukan saja hasil dari lamunan, tapi juga buah pikiran yang hanya terpikir sembari saya meminum teh hangat, dan tumben sekali meminum teh, atau kopi hanya untuk esok yang lebih baik…. semoga. Selamat terbentur untuk terbentuk!

Kutipan dari Blog, Renungan, dan Tidur Nyenyak

 

” Aku merasa aku tak dimengerti. Aku menghadapi banyak kepergian dan ditinggalkan lalu aku masih dituntut untuk mengerti? Aku saat itu  merasa muak menjadi orang yang mengambil peranan ‘mengerti’. ”

Kutipan dari blog-nya mbak Win, atau yang biasa dipanggil mbak W. Pernah mengikuti salah satu kelas nulis di writingtable, ternyata membuat aku lebih kepo sama ilmu-ilmu nulisnya mbak W. Singkat cerita mengikuti blognya, dan menemukan tulisan yang berjudul ‘menangis’.

Kutipan tersebut cukup menyadarkan saya, akan beberapa renungan. Terkadang akhir pekan, tepatnya malam minggu, saya lebih sering pakai waktu itu untuk merenung di kala malam. Tapi, kadang juga aku lakukan dengan berkumpul bersama teman, dan mengerjakan pekerjaan tambahan, ataupun sekedar bersantai di akhir pekan. Maklum, kekasih saja tak punya, karena bukaan saatnya untuk memikirkan hal satu itu.

Sesekali menulis lanjutan cerita, dan kadang berujung ide yang tumpul.  Seharusnya naskah yang saya tulis memang seajadinya diselesaikan tahun ini, namun aku ngaret. Rampungnya lama, saya agak membenci komitmen, maka tak ada waktu yang ditargetkan untuk yang satu ini. Sebuah tuntutan kehilangan ternyata banyak merubah diri saya. Terlebih lagi, masalah mencari kekasih. Rasanya ingin sekali keluh kesah ini berujung penantian yang pantas, tapi entah…. mungkin Tuhan sedang baik-baiknya dengan saya.

“Sesak sudah relung diikat, diikatnya dengan beberapa masalah, terasa bukan masalah, namun hanya jejak busuk.”

Itu pikir saya, relung otak ini adalah lautan penuh sesak, tak ada oksigen, dan bahkan saya saja harus meninggalkan kepribadian yang lalu. Ada renungan yang mengalun, apa daya seperti semua-semua yang baik ternyata satu persatu diambil Tuhan yang Maha Kuasa. Dari kejadian bertubi-tubi kehilangan, lalu berujung ditinggal meninggalnya sang bapak,

“Pas sekali, tepat hari ini hujan datang dikala malam.”

Waktu terus bergulir, berlari tanpa mengenal kompromi. Terlebih, hidup memang harus berjalan apa adanya, bukan mempasrahi semua ini hanya untuk dunia semata. Apa ada yang salah, atau ada apa dibalik kisah sebelum-sebelumnya.

“Merupakan tanda tanya besar, jikalau memang masa sekarang membawaku ke doa yang tak kunjung turun.”

Hari demi hari membawa saya kembali ke ruang resah, sehingga tulisan demi tulisan hanya berisi sajak keluh. Saya bingung, namun tetap harus mengerti. Saya harus memulai kembali, memulai sesuatu yang harus dibangunkan dari tidur. Terasa sudah, tulisan mbak W menyentil sekali. Sudah malam, sudah lanjutkan dengan tidur yang nyenyak. Cukup satir, dari apa yang ada di buah pikiran, sehendaknya saya tulis, biar  tidak saya pendam. Walaupun dari paragraf ke paragraf tak ada pun menyambungnya, tapi kalau mau membacanya silakan dibaca.

 

 

Sajak: Keluh dengan Waktu

 

 Keluh dengan Waktu

Keluh dalam pikir melayang sudah.

Resah cerita akan datang mulai ada,

ada mengelabui dengan perlahan.

Terguyur waktu sudah dahaganya.

Berjalan lah sang waktu.

Ibarat dibuai, aku terbuai.

Terbuai dengan sekotak rokok dan sebotol minuman alkohol.

Seperti itu rasanya.

Kedua kali, sang waktu berkeliling.

sambil menghunus pedang di pangkal leher,

tanpa ampun, tanpa harus menunggu.

Sia-sianya berkecambuk.

Ketiga, sudah datang saja.

Ditawari dengan bergejolak semuanya.

Hidup seperti lukisan Raden Saleh,

nyata dengan bergelimang keindahan.

Lagu Lain Waktu Dari Abenk Alter Untuk Awali Pagi

 

 

Hari ini cukup beruntung untuk bisa bangun pagi dengan bersyukur akan rasanya angin pagi, walaupun cukup mendung, paginya aku habiskan dengan sebuah dendang yang amat sangat positif dan artinya patah hati dan juga melihat pandangan hidup dari sisi yang berbeda. Begini bunyi liriknya…

kau meragu saat aku memintamu tuk bersamaku
aku tahu kamu tak sendiri
ada dia yang di sana menunggu dirimu juga
namun bila aku bukan pilihanmu, dinda

cinta memang tak selalu memiliki
bukan aku tak mengapa bila kau pergi huuu
namun ku percaya kan ada saatnya di lain waktu
di lain waktu, bila engkau untukku kita kan bertemu huuu

cobalah dengar hatimu bicara
namun bila aku bukan pilihanmu, dinda hoooo

(cinta memang) cinta (tak selalu memiliki) tak selalu memiliki
(bukan aku tak mengapa) bila kau pergi woo huuu
namun ku percaya kan ada saatnya

(cinta memang) cinta memang (tak selalu) tak selalu (memiliki) memiliki
(bukan aku tak mengapa bila kau pergi) tak mengapa bila kau pergi
namun ku percaya kan ada saatnya di lain waktu
di lain waktu, bila engkau untukku kita kan bertemu huuu

 Sebuah paduan antar lirik dan lagunya mengantarkanku pada sebuah cerita lama, cerita tentang hati yang belum tersampaikan, cerita tentang patah hati yang disapa oleh angan semu, oleh beberapa senyuman yang hanya bisa disimpan. Namun, semua itu berbuah hikmah dan masih ada dibenak bahwa keyakinan akan hati pasti bertemu dengan hati yang baik untuk membangun cerita.