Kumpulan Cerita Pendek dari Bacakopi

Kumpulan Cerita Pendek

 

Hai para pembaca bacakopi! Berharap kabar para pembaca selalu sehat nan baik. Akhirnya saya nulis lagi, tapi kali ini tidak membahas kedai kopi melainkan tulisan yang sedang saya kerjakan. Untuk hasil tulisan yang satu ini sampai-sampai harus menyampingkan tulisan tentang kedai kopi untuk refrensi kalian semua.

Cerita singkat tentang proyek tulisan ini berawal dari 2 tahun lalu, saya sempat mengenal kopi lebih dalam dan semakin penasaran. Lalu disamping itu saya pun juga sedang mengerjakan kumpulan cerpen (cerita pendek) untuk dijadikan sebuah buku online maupun tidak. Lama-kelamaan konsep cerita yang lama sangat garing, lalu sambil mengenal kopi akhirnya tercetus  memadukan kumpulan cerita tersebut dengan unsur secangkir kopi. Maka dari itu, tulisannya saya rombak.  Dengan pembelajaran  dunia perkopian, riset maupun mencoba berkunjung dari kedai kopi ke kedai kopi lain, saya pun mulai mendapatkan feel dari berkembangnya cerita yang saya sedang kerjakan.

Niatan awal memang ingin berbagi cerita, bisa dibilang kisah hidup yang berkesan. Pesan dari ceritanya adalah tentang semua-semua yang berujung pahit belum tentu sesial itu, selalu ada hikmah dan sisi baiknya jika kita melihatnya dari sisi yang berbeda. Terinspirasi dari kopi yang memang pahit lalu ada bumbu filosofi-filosofi dari sebuah arti menikmati perjalanan hidup seperti menikmati kopi.

Judul kumpulan cerita pendek ini adalah ” Ada Cerita Tentang Pahit” bisa disimak di platform storial dengan kategori cerita pendek. Semoga bisa dinikmati ceritanya, dibaca dengan menikmati secangkir kopi, lalu dibacanya dengan tenang di waktu luang.  Selamat membaca, jangan lupa minum ngopi!

 

 

Advertisements

Kopi Kalyan, Cold Brew, Beserta Nyamannya Ngopi Bareng

Sumber foto: @ihanifiqbal
Sumber foto: @ihanifiqbal

Saatnya menjalankan aktivitas, kegiatan beragam untuk mengisi hari sepertinya diakhiri dengan secangkir kopi yang enak. Hari itu saya harus meeting, lalu dilanjutkan bertemu teman lagi untuk sekedar sesi cerita. Maka, saya mulai mencari tempat ngopi di daerah Jakarta Selatan. Setelah iseng mencari di Instagram saya tertarik dengan salah satu menu kopi tepatnya Cold Brew di Kopi Kalyan. Langsung saja saya menuju ke daerah Jl. Cikajang Petogogan Jakarta Selatan.

Sesampainya di lokasi yang cukup ramai ini, saya mencari sudut tempat yang asik untuk berbincang . Menurut saya tempatnya nyaman, tidak usah diragukan lagi, jenis coffee shop nan kekinian namun dengan sentuhan minimalis. Cukup betah untuk menikmati kopi sambil berbincang santai. Tempat duduk pun bisa bebas memilih, mau sofa atau meja khusus untuk meletakkan laptop. Bagian smoking areanya juga nyaman untuk yang ingin mengobrol sambil menghabiskan rokok.

Sebenarnya saya mengunjungi tempat ini dua kali, yang pertama saya kehabisan menu yang membuat saya penasaran yaitu cold brew-nya. Jadilah saya memesan segelas long black, saat tiba segelasnya sudah ditemani dengan sepotong kue nan lembut. Sangat cocok jika dipadukan keduanya, yang satu manis dan segelas kopinya pahitnya pas. Setelah itu memesan menu cemilannya chips, potongan kentang goreng yang dipadu dengan bumbu- bumbu entah apa tapi saya sangat cocok dengan rasanya.

Nah! Pas sekali saat saya berkunjung untuk kedua kalinya, akhirnya dapat juga stock cold brew dengan packaging yang menarik hati. Tersedia dua jenis, yang satu latte yang satu hitam pekat. Suasana nan panas kala itu sangat cocok menikmati minuman kopi yang dingin. Saya memesan yang tidak paka susu, karena saya suka dengan pure rasa kopi yang pahit, cold brew dari Kalyan ini rekomendasi banget. Tapi bagi yang tidak begitu suka minuman kopi bisa memesan cold brew latte-nya, karena rasanya lebih cenderung ke lattenya dibandingkan kopinya. Segelasnya cuma 35 ribu, dan uniknya kedai kopi yang satu ini punya campaign menarik, jika kamu menukarkan beberapa kaleng cold brew Kopi Kalyan, kamu akan mendapatkan cold brew gratis.

 

 

Sumber Foto: @ihanifiqbal
Sumber Foto: @ihanifiqbal
Sumber Foto: @ihanifiqbal
Sumber Foto: @ihanifiqbal

Untuk tiap orangnya jika ingin mengopi dan makan di sini siapkan kocek sebesar 100 ribu. Sudah kenyang dan bisa menghasilkan obrolan dan kerjaan pun selesai. Salah satu yang rekomendasi sekali untuk anak Jakarta, apa lagi yang pingin reuni dan ngobrol bareng temen lama. Berikut artikel  singkat dari Bacakopi. Jikalau bisa nikmatilah kopimu dengan obrolan yang bisa membuat penat hilang, ajak teman lamamu untuk sekedar berbincang dan bertukar pikiran. Jangan lupa ngopi!

 

Proyek “Kala Gundah”

 

Memulai tahun 2017 dengan ide-ide serta cerita yang lama terpendam. Di tahun ini saya dan satu teman saya bernama Frutti akan mengadakan project kolaborasi jarak jauh, rencana akan diadakan tiap bulan. Berawal dari percakapan yang tidak sengaja terjadi. Frutti ini adalah stage photographer  (atau tukang potret musisi yang sedang berlaga di panggung)  dari salah satu musisi indie lokal di Yogyakarta. Memang kita dari satu kampus dan fakultas yang sama, tapi berbeda program studi. Isi percakapan dimulai tentang band-band indie Indonesia, lalu malah tercipta pencetusan tentang proyek ini. Saya pikir kenapa tidak untuk dimulai, karena dari pada tidak sama sekali, toh teman saya ini juga yang pertama kali mengajak kolaborasi.

Mungkin proyek ini nantinya ada sebagai eksplorasi kita terhadap sebuah karya. Nantinya, sebuah karya ini ada dalam bentuk potret, lalu dikombinasikan dengan sentuhan sastra. Entah karena cuma iseng belaka atau memang karena ingin melatih diri, jadilah hal ini akan dilakukan tiap bulan. Jika berjalan dengan lancar, dari hal ini nantinya akan menjadi hal yang tidak biasa, yang para penikmat seni fotografi dan sastra berhak mempunyai opini masing-masing setelah melihatnya (Oo.. itu jelas).

“Kalau kita gak mulai berkarya, kelak kita akan selamanya jadi pasar” – Pandji Pragiwaksono

 Entah kenapa saya mengingat kata-kata itu, syukur-syukur bisa menghasilkan sesuatu yang nantinya menjadi pasar tersendiri. Mungkin proyek ini belum tentu menghasilkan atau bahkan menciptakan pasar yang ada, tapi yang kita ingin coba hanyalah “dicoba” dan disiplin dengan komitmen. Walaupun memang hal serupa seperti ini sebelumnya sudah ada. Dan setidaknya kita atau saya dan teman saya ini ingin mengekspresikan sesuatu hal dalam bentuk karya. Tentunya dari isi dan tampilan akan berbeda dari karya yang sudah ada dan lebih terkenal. Optimis dengan proyek atau bisa disebut karya kolaborasi dari jarak jauh. Berharap suatu saat ini akan jadi hal yang bisa dipamerkan sepertinya.

Terbentur,Terbentur, Terbentur, Terbentuk

terbentur-terbentuk

 

Tiba-tiba saya teringat dengan kata-kata dari Tan Malaka, salah satu pemuda penggerak kemerdekaan. Sangat menggugah, saya merasakan dengan kata-katanya. Penekanan  bagi diri saya, yang beberapa bulan ini bekerja dan menerima sebuah tanggung jawab. Entah yang salah siapa, pihak yang memberi kepercayaan kepada saya, atau diri saya, atau sesuatu hal yang belum saya ketahui.

Ternyata yang tidak diharapkan terjadi juga, saat kepercayaan runtuh, dan runtuh begitu saja. Harap tak tentu, ingin suka tapi ya apa daya harus ditelan pahit-pahit. Seakan cita-cita saya berhenti, entah saya harus terbentur berapa kali lagi agar terbentuk. Entah sekarang cukup bingung, namun masih terselip rasa syukur. Karena dibalik sebuah kejadian akan selalu ada hikmah yang yang bisa dipetik.

Satu persatu apa yang saya rasakan ternyata lagi-lagi dihujani beribu pertanyaan, termasuk yang satu ini. Tapi melihat banyak role model yang ada, bahwa memang hidup akan terus berjalan dan tidak mudah untuk mencapai sesuatu yang selama ini memang diimpikan.

“Mumpung diumur segini, aku hanya bisa terus berjalan, terjatuh sudah biasa, namun bangkit lagi untuk nantinya terbentuk, tentu akan merasakan pembuktiaan yang paling pantas.”

Ocehan ini bukan saja hasil dari lamunan, tapi juga buah pikiran yang hanya terpikir sembari saya meminum teh hangat, dan tumben sekali meminum teh, atau kopi hanya untuk esok yang lebih baik…. semoga. Selamat terbentur untuk terbentuk!

Kutipan dari Blog, Renungan, dan Tidur Nyenyak

 

” Aku merasa aku tak dimengerti. Aku menghadapi banyak kepergian dan ditinggalkan lalu aku masih dituntut untuk mengerti? Aku saat itu  merasa muak menjadi orang yang mengambil peranan ‘mengerti’. ”

Kutipan dari blog-nya mbak Win, atau yang biasa dipanggil mbak W. Pernah mengikuti salah satu kelas nulis di writingtable, ternyata membuat aku lebih kepo sama ilmu-ilmu nulisnya mbak W. Singkat cerita mengikuti blognya, dan menemukan tulisan yang berjudul ‘menangis’.

Kutipan tersebut cukup menyadarkan saya, akan beberapa renungan. Terkadang akhir pekan, tepatnya malam minggu, saya lebih sering pakai waktu itu untuk merenung di kala malam. Tapi, kadang juga aku lakukan dengan berkumpul bersama teman, dan mengerjakan pekerjaan tambahan, ataupun sekedar bersantai di akhir pekan. Maklum, kekasih saja tak punya, karena bukaan saatnya untuk memikirkan hal satu itu.

Sesekali menulis lanjutan cerita, dan kadang berujung ide yang tumpul.  Seharusnya naskah yang saya tulis memang seajadinya diselesaikan tahun ini, namun aku ngaret. Rampungnya lama, saya agak membenci komitmen, maka tak ada waktu yang ditargetkan untuk yang satu ini. Sebuah tuntutan kehilangan ternyata banyak merubah diri saya. Terlebih lagi, masalah mencari kekasih. Rasanya ingin sekali keluh kesah ini berujung penantian yang pantas, tapi entah…. mungkin Tuhan sedang baik-baiknya dengan saya.

“Sesak sudah relung diikat, diikatnya dengan beberapa masalah, terasa bukan masalah, namun hanya jejak busuk.”

Itu pikir saya, relung otak ini adalah lautan penuh sesak, tak ada oksigen, dan bahkan saya saja harus meninggalkan kepribadian yang lalu. Ada renungan yang mengalun, apa daya seperti semua-semua yang baik ternyata satu persatu diambil Tuhan yang Maha Kuasa. Dari kejadian bertubi-tubi kehilangan, lalu berujung ditinggal meninggalnya sang bapak,

“Pas sekali, tepat hari ini hujan datang dikala malam.”

Waktu terus bergulir, berlari tanpa mengenal kompromi. Terlebih, hidup memang harus berjalan apa adanya, bukan mempasrahi semua ini hanya untuk dunia semata. Apa ada yang salah, atau ada apa dibalik kisah sebelum-sebelumnya.

“Merupakan tanda tanya besar, jikalau memang masa sekarang membawaku ke doa yang tak kunjung turun.”

Hari demi hari membawa saya kembali ke ruang resah, sehingga tulisan demi tulisan hanya berisi sajak keluh. Saya bingung, namun tetap harus mengerti. Saya harus memulai kembali, memulai sesuatu yang harus dibangunkan dari tidur. Terasa sudah, tulisan mbak W menyentil sekali. Sudah malam, sudah lanjutkan dengan tidur yang nyenyak. Cukup satir, dari apa yang ada di buah pikiran, sehendaknya saya tulis, biar  tidak saya pendam. Walaupun dari paragraf ke paragraf tak ada pun menyambungnya, tapi kalau mau membacanya silakan dibaca.

 

 

Sajak: Keluh dengan Waktu

 

 Keluh dengan Waktu

Keluh dalam pikir melayang sudah.

Resah cerita akan datang mulai ada,

ada mengelabui dengan perlahan.

Terguyur waktu sudah dahaganya.

Berjalan lah sang waktu.

Ibarat dibuai, aku terbuai.

Terbuai dengan sekotak rokok dan sebotol minuman alkohol.

Seperti itu rasanya.

Kedua kali, sang waktu berkeliling.

sambil menghunus pedang di pangkal leher,

tanpa ampun, tanpa harus menunggu.

Sia-sianya berkecambuk.

Ketiga, sudah datang saja.

Ditawari dengan bergejolak semuanya.

Hidup seperti lukisan Raden Saleh,

nyata dengan bergelimang keindahan.