Shophaus Menteng, Satu Paket Enak di Akhir Pekan

img-20170108-wa0017-01

potret dari luar

Akhir pekan, dimana waktu untuk cheating atau istilah istirahat untuk bagi orang-orang yang menjalani diet, tentu tidak ada salahnya dilakukan. Seperti biasanya, bacakopi ingin membahas tempat ngopi akhir pekan. Kalau kali ini rekomendasi tempat khusus untuk cheating day nya yang sedang diet. Berawal dari diajak salah satu temannya teman saya. Akhirnya saya dan 2 teman saya menuju ke daerah Menteng. Lalu kami mengunjungi Shophaus. Tempatnya cukup strategis, tengah kota dan ditemani pemandangan hiruk pikuknya.

“A collaboration space joint is one of the newest place model that attract so many visitors lately, bringing such a fresh concept where we can find easily several brands being in one place at the same time.” – (Kutipan dari Foodirectory.blogspot.id )

img_20170107_111238-01

Waffle Ice Cream dan Secangkir Kopi (Magic)

Bisa dibilang tempat yang satu ini menawarkan sebuah paket akhir pekan yang lengkap. Bersantai dengan ice cream, atau ingin menikmati secangkir kopi enak, atau pun kita juga bisa menikmati makanan enak lainnya. Pilihan Ice cream dengan rasa bervariasi sangat cocok untuk penghilang panas di akhir pekan, siang bolong dengan obrolan-obrolan, icip makanan sana-sini, sesekali tak apa jika awal bulan tiba.  Kopinya tidak kalah enak, saya memesan menu bernama “Magic” dengan pilihan biji kopi Panama, sesekali menikmati biji kopi dari luar Indonesia. Tempat nan santai serta sejuk, tidak kalah menariknya jika ingin mengabadikan momen bersama sahabat dan keluarga. Beberapa produk seperti Pigeonhole Coffee, Berrywell, Gelato Secrets, Mockingbird and Namelaka Patisserie  bisa dinikmat di satu tempat.

img_20170107_105218-01

Ruang bagian coffe shop

Banyak menu yang cukup enak, terutama kopi dan ice creamnya yang saya dan teman saya coba. Budget untuk 2 sekitar 150 ribu, maka anda bisa menikmati berbagai makanan dan minuman yang ditawarkan. Tidak bisa diragukan lagi bahwa tempat ini juga menjadi tujuan banyak muda-mudi untuk mengambil potret, menambah update-an di sosial media. Untuk tempat yang satu ini saya akan kembali lagi, sambil menikmati suasananya dan menikmati menu yang belum saya coba.

Filosofi Proses Santan

(sumber foto: Supermetroemall)

Seperti biasa, sore hari dengan kopi hangat nan harum. Saat itu juga saya sedang memulai percakapan via social media dengan salah satu sahabat. Dia berpesan kepada saya untuk datang di wisudanya bulan Febuari nanti. Tentu saya akan usahakan, dan percakapan berlanjut tentang apa saja yang telah terjadi tahun-tahun kemarin. Kita sama-sama setuju kalau 2 tahun belakangan ini menjadi tahun yang membuat diri kiita sama-sama berubah. berubah dalam arti lebih banyak akan merenung tentang kehidupan. Terlebih lagi saya, yang merasakan bahwa 2 tahun ini sangat banyak perubahan dalam lingkungan maupun individu.

Alih-alih saya kembali mengingat apa saja yang terjadi selama 2 tahun belakangan ini, ternyata memang banyak sekali kejadian. Kejadian tersebut memang banyak membuat saya berpikir ulang untuk melangkah, tidak sembarang melangkah. Diuji memang, sang pencipta memberi banyak kejadian untuk saya tetap merasa bersyukur.

Awal tahun kerap menjadi kebiasaan untuk diri merenung. Mendengarkan lagu, atau membaca buku baru dan menonton film-film baru selalu saya sempatkan. Jika ada rizki yang lebih, saya juga memilih untuk pergi ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi.Tujuannya agar bisa mendapatkan inspirasi baru dan tentu semangat baru, tidak sekedar menambkan perenungan di awal tahun.

Sambil membuka layar laptop, saya melihat video dari teman di Yogya yang ia share. Terselip kata-kata dari sosok laki-laki yang menjadi pembicara di video tersebut….

“Jika hidup anda belum ada cobaan maka anda seharunya bersedih.”

Seperti itulah potongan kata-kata mas-mas pembicara yang ada dalam videonya. Laki-laki ini bercerita tentang proses santan saat dibuat, yang dalam ceritanya seperti separuh melawak. Tapi sangat menyentilku, tak heran benar jika ia berkata dengan greget  dan bersemangat. Bisa saya bilang bahwa ini adalah filosofi Proses Santan yang ternyata bisa menjadi sebuah pelajaran dan renungan hidup.

“Aku sudah jatuh dari tempat yang tinggi, kenapa harus dicabik-cabik lagi dengan golok? Dan aku kira hidupku sudah selesai, ternyata masih dibelah, diparut, disiram dengan air panas, lalu diperas, tahapan selanjutnya aku dimasak (menjadi gulai kambing, atau empal gentong, dan masakan lainnya)”

Begitulah seingatku kata-katanya, sang mas-mas pembicara menggambarkan bagaimana jikalau buah kelapa bisa berbicara, maka ia akan menangis dan berkata seperti itu. Namun ditambahkan percakapan dari Tuhan, yang berbunyi seperti ini…

“Aku ingin sesuatu yang paling baik dalam dirimu keluar hai kelapa, yaitu Santan!”

Sejenak menelaah arti perjalanan santan, untuk menjadi sesuatu yang luar biasa kadang memang kita harus melewati perjalanan yang menyakitkan. Hal itu agar apa yang ada dalam diri ini bisa jadi sesuatu yang baik. Karena setelah melewati 2 tahun yang cukup berat, Sang Pencipta memang ingin diri saya ini menjadi sesuatu yang baik, luar biasa, ia bukan marah tapi menguji agar saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

“Jangan goyah, Sang Pencipta memang ingin kamu menang, sabar, jangan kerap mengeluh, jadilah manusia yang banyak bermanfaat, buktikan bahwa kamu tidak bisa lagi dipandang sebelah mata” – Hanif Iqbal

Saya berkata dalam diri sendiri, sekedar menyadarkan akan apa yang telah terjadi juga. Seraya menyeruput tetes kopi terakhir saya melanjutkan membuka blog dan membagi tulisan ini, semoga bisa bermanfaat saat dibagi.

Proyek “Kala Gundah”

 

Memulai tahun 2017 dengan ide-ide serta cerita yang lama terpendam. Di tahun ini saya dan satu teman saya bernama Frutti akan mengadakan project kolaborasi jarak jauh, rencana akan diadakan tiap bulan. Berawal dari percakapan yang tidak sengaja terjadi. Frutti ini adalah stage photographer  (atau tukang potret musisi yang sedang berlaga di panggung)  dari salah satu musisi indie lokal di Yogyakarta. Memang kita dari satu kampus dan fakultas yang sama, tapi berbeda program studi. Isi percakapan dimulai tentang band-band indie Indonesia, lalu malah tercipta pencetusan tentang proyek ini. Saya pikir kenapa tidak untuk dimulai, karena dari pada tidak sama sekali, toh teman saya ini juga yang pertama kali mengajak kolaborasi.

Mungkin proyek ini nantinya ada sebagai eksplorasi kita terhadap sebuah karya. Nantinya, sebuah karya ini ada dalam bentuk potret, lalu dikombinasikan dengan sentuhan sastra. Entah karena cuma iseng belaka atau memang karena ingin melatih diri, jadilah hal ini akan dilakukan tiap bulan. Jika berjalan dengan lancar, dari hal ini nantinya akan menjadi hal yang tidak biasa, yang para penikmat seni fotografi dan sastra berhak mempunyai opini masing-masing setelah melihatnya (Oo.. itu jelas).

“Kalau kita gak mulai berkarya, kelak kita akan selamanya jadi pasar” – Pandji Pragiwaksono

 Entah kenapa saya mengingat kata-kata itu, syukur-syukur bisa menghasilkan sesuatu yang nantinya menjadi pasar tersendiri. Mungkin proyek ini belum tentu menghasilkan atau bahkan menciptakan pasar yang ada, tapi yang kita ingin coba hanyalah “dicoba” dan disiplin dengan komitmen. Walaupun memang hal serupa seperti ini sebelumnya sudah ada. Dan setidaknya kita atau saya dan teman saya ini ingin mengekspresikan sesuatu hal dalam bentuk karya. Tentunya dari isi dan tampilan akan berbeda dari karya yang sudah ada dan lebih terkenal. Optimis dengan proyek atau bisa disebut karya kolaborasi dari jarak jauh. Berharap suatu saat ini akan jadi hal yang bisa dipamerkan sepertinya.

Kata-kata Ibu Jadi Pengingat

 “Kalau pulang nanti jangan lupa beli kopi di warung pojok”

“Udah shalat duha belum? kalau bisa setiap hari disempetin”

“Jangan sering-sering begadang makanya”

  Kata-kata itu yang selalu terdengar beberapa bulan ini selepas saya menetap di Jakarta. Untuk tahun 2016 ini saya sengaja memilih untuk belum merantau lagi, ingin sesekali merantau dan mencari tempat baru tapi apa daya sejak bapak meninggal saya rasa ibu butuh anak laki-lakinya ini untuk menetap bersamanya. Maka saya kurung niatan untuk berpindah-pindah lagi.

 Beruntungya tahun ini ada saja hikmah, Tuhan menyuruh saya untuk tidak sibuk dengan banyak hal dan membantu ibu sepertinya. Maka saya syukuri saja hal ini. Sosok perempuan ini kerap lelah dengan banyak pekerjaan rumah dan mungkin untuk takdir sekarang yang menyapa. Cerita terus belanjut, sang ibu masih diberi senyum, walau duka yang ada cukup membekas, saya tahu ini mungkin dari setiap ia sembayang dini hari, atau sebelum subuh.

 Dari kecil saya sudah menyukai secangkir kopi, itu juga karena ibu. Ia selalu menikmati kopi untuk memulai hari. Mungkin bakat saya untuk menjadi pecinta kopi juga turun dari sosok ibu. Ia selalu senang jika teman minum kopinya adalah roti atau sejenisnya.

 “Waktu sangat cepat berjalan, tidak terasa ibu yang dulu merawat saya kini butuh sapaan selalu. Memberi kabar jikalau saya pulang malam, menelpon jika memang harus berhari-hari jauh dengannya, dan banyak hal sederhana lainnya yang harus diperhatikan.”

Tepat tadi malam saya berbincang dengan salah satu teman, setidaknya ia mengingatkan saya akan jangan lupa mengajak ibumu berbincang, mumpung masih satu rumah. Benar adanya, karena kalau sudah jauh rindu pun kadang tak sanggup dibendung. Lalu tepat hari ini ternyata hari ibu, jujur saya agak lupa. Karena bagi saya lebih baiknnya setiap hari adalah hari ibu. Entah mungkin isi kolom yang satu ini tidaklah sejelas lamaran, apa lagi lamaran seorang pria kepada perempuan #okeskip. Namun saya hanya ingin berterimakasih untuk ibu saya. Dan catatan ini hanya untuk pengingat saya bahwa apa-apa saja yang dibilang ibu setidaknya bisa diingat. Karena kalau nanti benar-benar sibuk, setidaknya da saja catatan di blog saya yang membuat saya harus menelpon ibu kalau sedang jauh.

 Selamat hari ibumu dan semoga ibumu dan ibuku bisa menajdi besan #lah

Menikmati Secangkir Akhir Pekan Di BEAU Senopati, Manis dengan Perbincangan

Processed with VSCO with g3 preset

Salah sudut BEAU

Akhir tahun biasanya adalah waktu dimana kadang keluarga, sahabat, dan teman-teman lama mengajak saya untuk berkumpul. Bacakopi kali ini mau ngebahas satu tempat nyaman untuk menikmati secangkir kopi di akhri tahun. Nama tempatnya BEAU HQ Senopati, mungkin bagi para penggemar pastry tempat ini sudah tidak asing lagi. Tempat ini sebelumnnya sudah buka di Grand Indonesia east mall 1st  Floor, banyak menyediakan pilihan-pilihan roti khas tanah Eropa nan lezat.

Namun kali ini saya diajak teman untuk mengunjungi tempat tersebut yang berada di Jl. Cikajang No. 29, Senopati, Jakarta Selatan. Niatan pertama memang ingin mencari inspirasi untuk bahan menulis, tuntutan pekerjaan kadang membuat kita mencari inspirasi di tempat-tempat ngopi dengan sausana nyaman. Sesampainya di tempat, kita malah memutuskan untuk ngobrol, dan pekerjaan pun dikerjakan belakangan. Menurut saya dan teman  saya tempat yang satu ini lebih enak untuk benar-benar kita berbincang, tanpa handphone, dan benar-benar ngobrol berbagi cerita sana-sini.

Processed with VSCO with a6 preset

(Sumber Foto: ihanfiqbal Instagram)

Untuk harganya sangat bervariasi, dari 25 ribu sampai dengan 89 ribu. Dengan kurang dari 100 ribu per orang, bisa dibilang sudah menikmati menu yang istimewa untuk teman ngobrol. Untuk akses ke tempatnya terbilang mudah, tapi cukup hati-hati karena di jam-jam tertentu memang daerah tersebut agak padat. Tempat ini bisa disebut coffee and pastry atau banyak lagi sebutan lainnya tergantung orang akan melihatnya dari sisi mana. Salah satu menu yang dipesan ada kue pastri dengan cream yang cukup manis untuk mengakhiri akhir pekan yang pahit. Saya agak lupa isi bagian kue tersebut cream apa, tapi yang jelas itu enak asli.

“Jujur saya agak menyesal tidak memesan menu selain secangkir kopi, mungkin saya akan ke tempat ini lagi untuk mencoba beberapa pastry yang ada”

Tidak ada salahnya untuk mengajak sanak sahabat, keluarga, maupun pasangan untuk bersantai di akhir pekan di tempat ini. Selain tempatnya nyaman, sentuhan minimalis, tempat ini juga sangat ‘Instagram-able’ bagi para pencari stock foto untuk di-upload di sosial media masing-masing. Catatan saya adalah, saya harus lebih mencicipi banyak menu lagi sepertinya. Selamat berakhir pekan di akhir tahun, dan semoga tempat ini bisa menjadi pilihan kalian.

Catatan Akhir Tahun dan Lagu Coldplay yang Berjudul Fix You

Sudah tidak terasa memasuk akhir tahun, dan akan berganti ke tahun yang baru. Melihat ke belakang sejenak merupakan kebiasaanku di setiap akhir tahun. Hal itu berfungsi untuk membuatku lebih bersyukur, karena hidup selalu punya kejutan di setiap saat. Aku membuka beberapa catatan, dan melihat cerita yang terkumpul. Aku punya catatan bahwa pertengahan  kemarin aku sempat marah kepada Tuhan, bertubi-tubi diberi keadaan yang membuatku jatuh, terpuruk tanpa melihat lagi apakah esok masih ada harapan untuk manusia sepertiku. Mungkin terlalu drama, tapi percayalah bahwa beberapa bulan kemarin cukup sulit dilanda keluarga kecilku ini.

Tapi setelah banyaknya cobaan yang ada, aku tetap saja selalu termenung akan apa yang terjadi, tepatnya setelah hari ulang tahunku yang diperingati oleh kesialan terbesar. Hati ini selalu diundang sesal, apa lagi sejak saat bapak belum mengucapkan apa-apa kepadaku, sampai nafas terakhirnya berhembus. Namun, di perjalananku waktu itu di pesawat, selalu saja muncul pertanyaan bahwa apa yang telah aku lakukan sebelumnya, atau memang Tuhan hanya ingin menguji keimanan. Memang sejatinya, sekenarionya lah yang maha luar biasa, dinanti walaupun harus aku konsumsi kesabaran yang berlebih.

“Hari itu tepatnya di bulan pertama puasa menjelang, aku sampai-sampai tidak nafsu makan seharian.”

Sampai dititik itu belum selesai, ada lagi perjuangan yang tidak berjalan lancar. Resah campur aduk menjadi gumpalan ketidakyakinan. Detik demi detik membunuh dengan pasti, waktu tak ubahnya maju dan tak bisa mundur, dan aku masih saja menyisakan sesal di lemari kecil di kamar. Hari terus berjalan, sedikit demi sedikit sahabat serta keluarga membantuku dengan uluran berupa cerita, senyum, serta banyak hal. Aku beruntung masih mempunyai sedikit sahabat yang Tuhan kirimkan untuk mengubah pandangan terhadap dunia ini. Rasa sesal lama kelamaan juga terkikis, untuk apa menyesali yang sudah terjadi, apa lagi ditanam dalam-dalam. Sedikit yang bisa diajak cerita, namun sedikit itulah yang berarti.

Akhirnya menginjak bulan Desember, dimana akhir tahun sudah mau habis. Tak disangka catatan ini masih banyak perlu ditulis lagi. Dari hal itu, aku bersyukur, memang benar adanya kalau saja Tuhan masih memberikan apa yang aku butuhkan. Bahwa beberapa bulan ini aku lebih melihat hal sederhana sebagai hal yang sangat luar biasa. Tuhan masih benar-benar baik, tak sepantasnya aku marah kepadanya. Buktinya ia masih memberi sebutir nasi, memberikan gula di secangkir kopiku yang pahit. Belum lagi, masih ada senyum di wajah ibuku. Begitulah Tuhan memberikan banyak hal yang aku bisa petik, dan sejatinya aku tulis.

Dengan adanya catatan ini, aku masih ingin melanjutkannya tahun demi tahun, agar kelak aku bisa melihat bahwa yang terjadi dengan diri ini terbilang sebuah cerita yang luar biasa. Catatan akhir tahun ini merangkum beberapa penyesalan yang dibalut dengan mimpi di masa depan, lalu disponsori oleh lagu Coldplay yang berjudul “Fix You” yang terdengar di radio dikala sangat malam, saat penyiarnya pun sudah tidak siaran. Masih ada cita-cita, maka aku harus hilang sesal, dan membuka cerita baru di tahun berikutnya. Sang Khalik tidak akan tidur, maka aku terus meminta agar pintanya datang, lalu diberi jawaban atas segalanya.

Buku, Negeri Senja, dan Foto Pengembara

Foto Unta & Pengembara

Foto Unta & Pengembara

Beberapa hari ini aku menghabiskan waktu dengan membaca buku yang berjudul “Negeri Senja” karangan salah satu sastrawan favoritku yaitu Seno Gumira Ajidarma. Ditemani secangkir kopi di sore hari, aku cukup khidmat membacanya. Ceritanya cukup menarik, sampai pertengahan aku kerap mengembalikan buku ke lemari, yang tampa sadar ada foto yang terpampang. Foto tersebut mengingatkan aku akan buku yang ku baca sekarang, karena menggambarkan potret gambaran seperti apa negeri senja itu.

“Ada di atas lemari buku, foto unta dan pengembara di bukit pasir. Barang ini merupakan peninggalan almarhum bapak, seingatku ia membawa foto itu sepulangnya dari Tanah Arab”

Terdapat tanda tangan di bagian depan bingkainya, dan di bagian belakang ada selembaran kertas yang berisikan profil sang fotografernya. Ia mempunyai nama Greeg Sedgwick, tertulis seperti itu. Maka aku mencoba untuk menggali lebih banyak informasi sang fotografer tersebut, dilihat dari beberapa karyanya, ia memang kerap mengambil gambar tentang dataran Timur tengah. Dari situ, aku memupuk keinginan untuk mengunjungi dataran tersebut, yang katanya paling panas di Bumi, yang juga menjadi sebuah tempat dimana para wali sedari dulu banyak yang lahir dan diperintahkan membawa pesan.

Kalau di buku yang sedang ku baca sekarang, tertulis ada Negeri Senja di dataran Timur sana. Membayangkan cerita-cerita para musafir, bahwa di Negeri itu matahari tidak pernah terbenam. Katanya, sang matahari tersangkut di Negeri yang tidak pernah ada di peta dunia ini. Hanya terlihat seperti kumpulan benteng-benteng bekas perang zaman dahulu, dan samar-samar terlihat karena kerap badai pasir selalu datang. Aku pikir ini adalah cerita yang brilian, entah dibagian mananya sang Negeri itu berada, namun kalau pun ada, maka aku berdoa, semoga bisa mendatangi tempat itu, menjadi musafir. Musafir yang ingin menghilangkan segala duka dan kesedihan yang membusuk, kasian hati ini, terikat dengan kecemasan yang berlebih. Maka suatu hari, aku akan membuang kesedihan di sana, entah dimana saja, yang jelas di sebuah tempat di belahan dunia yang lain.  Serta, aku ingin menapaki segala bentuk kisah-kisah Nabi, yang semasa kecil cuma bisa ku baca di buku-buku.

Atau mungkin, Negeri ini adalah sebuah kiasan, kiasan akan  tempat bersinggahnya pengembara yang mencari harapan, dan tentu melupakan kesedihan. Tapi setidaknya, dataran Timur Tengah benar adanya, dan memang banyak berbagai kisah telah diceritakan kepada banyak manusia. Sesekali aku ingin bertandang ke dataran nan jauh sana, dan memotret banyak hal, lalu memberitahukan pada dunia, bahwa matahari bisa jadi hal yang luar biasa di sana.

 

 

Terbentur,Terbentur, Terbentur, Terbentuk

terbentur-terbentuk

 

Tiba-tiba saya teringat dengan kata-kata dari Tan Malaka, salah satu pemuda penggerak kemerdekaan. Sangat menggugah, saya merasakan dengan kata-katanya. Penekanan  bagi diri saya, yang beberapa bulan ini bekerja dan menerima sebuah tanggung jawab. Entah yang salah siapa, pihak yang memberi kepercayaan kepada saya, atau diri saya, atau sesuatu hal yang belum saya ketahui.

Ternyata yang tidak diharapkan terjadi juga, saat kepercayaan runtuh, dan runtuh begitu saja. Harap tak tentu, ingin suka tapi ya apa daya harus ditelan pahit-pahit. Seakan cita-cita saya berhenti, entah saya harus terbentur berapa kali lagi agar terbentuk. Entah sekarang cukup bingung, namun masih terselip rasa syukur. Karena dibalik sebuah kejadian akan selalu ada hikmah yang yang bisa dipetik.

Satu persatu apa yang saya rasakan ternyata lagi-lagi dihujani beribu pertanyaan, termasuk yang satu ini. Tapi melihat banyak role model yang ada, bahwa memang hidup akan terus berjalan dan tidak mudah untuk mencapai sesuatu yang selama ini memang diimpikan.

“Mumpung diumur segini, aku hanya bisa terus berjalan, terjatuh sudah biasa, namun bangkit lagi untuk nantinya terbentuk, tentu akan merasakan pembuktiaan yang paling pantas.”

Ocehan ini bukan saja hasil dari lamunan, tapi juga buah pikiran yang hanya terpikir sembari saya meminum teh hangat, dan tumben sekali meminum teh, atau kopi hanya untuk esok yang lebih baik…. semoga. Selamat terbentur untuk terbentuk!

Kutipan dari Blog, Renungan, dan Tidur Nyenyak

 

” Aku merasa aku tak dimengerti. Aku menghadapi banyak kepergian dan ditinggalkan lalu aku masih dituntut untuk mengerti? Aku saat itu  merasa muak menjadi orang yang mengambil peranan ‘mengerti’. ”

Kutipan dari blog-nya mbak Win, atau yang biasa dipanggil mbak W. Pernah mengikuti salah satu kelas nulis di writingtable, ternyata membuat aku lebih kepo sama ilmu-ilmu nulisnya mbak W. Singkat cerita mengikuti blognya, dan menemukan tulisan yang berjudul ‘menangis’.

Kutipan tersebut cukup menyadarkan saya, akan beberapa renungan. Terkadang akhir pekan, tepatnya malam minggu, saya lebih sering pakai waktu itu untuk merenung di kala malam. Tapi, kadang juga aku lakukan dengan berkumpul bersama teman, dan mengerjakan pekerjaan tambahan, ataupun sekedar bersantai di akhir pekan. Maklum, kekasih saja tak punya, karena bukaan saatnya untuk memikirkan hal satu itu.

Sesekali menulis lanjutan cerita, dan kadang berujung ide yang tumpul.  Seharusnya naskah yang saya tulis memang seajadinya diselesaikan tahun ini, namun aku ngaret. Rampungnya lama, saya agak membenci komitmen, maka tak ada waktu yang ditargetkan untuk yang satu ini. Sebuah tuntutan kehilangan ternyata banyak merubah diri saya. Terlebih lagi, masalah mencari kekasih. Rasanya ingin sekali keluh kesah ini berujung penantian yang pantas, tapi entah…. mungkin Tuhan sedang baik-baiknya dengan saya.

“Sesak sudah relung diikat, diikatnya dengan beberapa masalah, terasa bukan masalah, namun hanya jejak busuk.”

Itu pikir saya, relung otak ini adalah lautan penuh sesak, tak ada oksigen, dan bahkan saya saja harus meninggalkan kepribadian yang lalu. Ada renungan yang mengalun, apa daya seperti semua-semua yang baik ternyata satu persatu diambil Tuhan yang Maha Kuasa. Dari kejadian bertubi-tubi kehilangan, lalu berujung ditinggal meninggalnya sang bapak,

“Pas sekali, tepat hari ini hujan datang dikala malam.”

Waktu terus bergulir, berlari tanpa mengenal kompromi. Terlebih, hidup memang harus berjalan apa adanya, bukan mempasrahi semua ini hanya untuk dunia semata. Apa ada yang salah, atau ada apa dibalik kisah sebelum-sebelumnya.

“Merupakan tanda tanya besar, jikalau memang masa sekarang membawaku ke doa yang tak kunjung turun.”

Hari demi hari membawa saya kembali ke ruang resah, sehingga tulisan demi tulisan hanya berisi sajak keluh. Saya bingung, namun tetap harus mengerti. Saya harus memulai kembali, memulai sesuatu yang harus dibangunkan dari tidur. Terasa sudah, tulisan mbak W menyentil sekali. Sudah malam, sudah lanjutkan dengan tidur yang nyenyak. Cukup satir, dari apa yang ada di buah pikiran, sehendaknya saya tulis, biar  tidak saya pendam. Walaupun dari paragraf ke paragraf tak ada pun menyambungnya, tapi kalau mau membacanya silakan dibaca.

 

 

Kopimana27, Tempat Ngopi Sepulang Kantor

Foto: Ihanifiqbal (instagram)

Foto: Ihanifiqbal (instagram)

Bacakopi bakalan ngebahas salah satu Coffee Shop yang baru didatengin, dan langsung bikin betah. Kali ini mau negbahas Kopimana27 yang berada di Jl. Prof. DR. Supomo No. 45 BZ, Kota Jakarta Selatan. Pertama tau sedari teman, yang waktu itu memang lagi terjebak macetnya Ibu Kota di jalan, alih-alih ditunjukin lalu saya berencana mencari hari untukmengajak teman mengunjungi tempat yang satu ini.

Tempatnya simpel, enak dan nyaman, mushola ada, toilet, wi-fi, dan satu lagi adalah konsep yang ditawarkannya unik.Playlist lagu di sini juga menawarkan lagu-lagu yang akrab dinikmati menurut saya.

Sudah bisa satu paket  buat berlama-lama ngobrol, nulis nyari inspirasi, atau ngisi waktu luang menikmati secangkir Kopi setelah pulang Kantor. Tapi sejadinya pulang kantor, malah saya bisa mengunjunginya lagi di akhir pekan bersama kawan perkopian. Harga berkisar 20 ribu-30, tersedia Coffee Latte, manual brewing dengan pilihan biji Kopi lokal, dan bagi yang tidak terlalu fanatik dengan Kopi di Kopimana juga menyediakan red velvet, green tea latte dan juga taro, dan beberapa menu unik seperti Kopi buatan istri.

Foto: ihanifiqbal

Foto: ihanifiqbal

Ada beberapa kutipan di Coffee Shop ini, seperti “Kenapa Kopi Hitam? Karena Abu-Abu itu Rawan Kelabu” atau saya masih penasaran kenapa “Selayaknya Istri Kopi adalah titipan” (Itu bunyinya yang terakhir kayak gitu).

 “Lain waktu, mungkin saya akan berlama-lama di Coffee Shop yang satu ini untuk berbincang dengan sosok perempuan, entah siapa, tapi pingin saja” – Kutipan dari sang penulis blog yang sangat menggilai Kopi.

 Untuk yang mencari tempat ngopi atau sekedar suasana Coffee Shop bisa mengunjungi tempat yang satu ini, merapat bersama banyak kawan, sendiri juga tidak masalah. Selamat menyeduh!