Film Galih dan Ratna, Mixtape, dan Es Kopi Susu

Sumber: Rollingstone Indonesia

Hari itu saya awali dengan membuat es kopi susu sendiri. Dengan kopi Lampung lalu dicampur cream latte yang saya beli, lalu saya endapkan di lemari es ketika sudah dicampur. Sederhana namun manisnya membuat saya mengingat masa-masa SMA. Karena masa-masa itu saya belum mengenal rasa asli kopi tanpa gula, masa-masa dimana saya lebi suka kopi campuran dengan susu. Bersamaan dengan hari itu, malamnya saya menonton film Galih dan Ratna bersama teman lama, ia pengamat film yang aktif membahas film di blognya.

“Akhirnya film yang saya nantikan beberapa bulan ini bisa ditonton juga.”

Film ini sebenarnya adalah remake dari film terdahulu. Dulunya diperankan oleh Rano Karno sebagai Galih dan Yessy Gusman sebagai Ratna. Dua sedjoli ini bisa dibilang ikon dari sebuah kisah kasih sekolah pada jamannya. Gambaran cinta pertama setiap insan muda yang sedang menginjak umur yang sedang mempunyai gejolak akan cinta.

Kesan saat menonton film yang diperbarui ini memang cukup berekspektasi, dikarenakan saya sudah menonton versi lamanya. Tapi ternyata cerita yang satu ini benar-benar di luar harapan saya. Cerita khas anak muda milenial dipadukan dengan ciri khas jatuh cinta orang jadul semasa SMA. Ceritanya dibalut dengan idealisme anak muda, cita-cita, passion, serta berbagai macam bumbu yang telah diracik untuk menampilkan alur cerita yang apik nan baper. Bisa dibilang baper (bawa perasaan) karena menurut saya ada bagian cerita yang cukup menguras hati. Yaitu bagian saat dimana Galih tetap ingin mempertahankan cita-citanya. Ia ingin membuktikan pada ibunya, terutama juga ingin memperjuangkan apa yang telah almarhum ayahnya bangun. Sebuah toko kaset lama pun jadi saksi. Lalu Ratna di cerita ini menjadi pendamping yang pas, dua sedjoli ini pun sama-sama bisa membuat kita yang menonton mengingat masa-masa jatuh cinta saat SMA. Untuk soundtrack film yang satu ini, eskpektasi saya adalah adanya lagu-lagu lama yang dibuat ulang. Ternyata lebih banyak lagu-lagu baru yang fresh yang juga tidak kalah bagusnya. (Pokoknya yang belum nonton mendingan nonton deh, saya tidak mau spoiler lagi)

Belum lagi konsep mixtape dari kaset yang diselipkan di cerita ini. Lengkap sudah romansa kisah kasih namun tidak terlihat murah atau gombalan semata. Kenapa dari dulu saya tidak kepikiran juga bahwa mixtape kaset yang berisikan lagu-lagu cinta adalah terobosan cara untuk menyampaikan isi hati, dibandingkan harus menulis surat. Tapi pada era saya SMA di tahun 2010 kaset pun sudah mulai ditinggalkan saya rasa. Namun cara old school seperti itu sangat berkesan bagi saya yang termasuk generasi milenial ini saat melihatnya di film ini.

Intinya kisah Galih dan Ratna adalah cerita yang saya ibaratkan seperti es kopi susu. Rasa manis yang pas sat itu mengingatkan saya akan cerita SMA, membawa lagi kilas balik rasa manis-manisnya jatuh cinta saat pertama kali. Saya merasa sudah cukup tua saat menonton film ini dan baru sadar saat film selesai. Berikut cerita saya yang sedikit membahas film romantis yang menjadi terobosan baru juga di perfilman Indonesia.

Crematology Senopati, Secangkir Kopi, dan Mencari Inspirasi

Sumber: Infojakarta

Hari senin dimulai, dan ada saja kerjaan ataupun pertemuan membahas akan sesuatu. Hari itu diputuskan untuk mengunjungi Coffee Shop. Coffee Shop yang saya kunjungi adalah Crematology, di daerah Senopati tepatnya di Jalan Suryo No. 25 daerah JakartaSelatan. Saat masuk ke dalam coffee shop saya sudah dibuat nyaman dengan suasana yang nyaman dan tentram. Untuk ukuran di kota besar, tempat ini bisa menjadi tempat rehat sejenak sambil menikmati secangkir kopi. Rehat dari hiruk pikuk macet dan kerjaan di kantor. Coffee shop yang satu ini memang bertempat di daerah yang banyak sekali perkantoran, maka tidak heran jika tempat mengopi yang satu ini banyak dikunjungi oleh mereka yang pulang kantor.

Sumber foto: Instagram ihanifiqbal
Sumber foto: Instagram ihanfiqbal

Tempat duduk nan nyaman, suasana mengopi didukung dengan penuh santai. Ruangan dalamnya ada beberapa tempat duduk sofa, maka bisa sangat bersantai. Lalu di luarnya untuk yang merokok ada tempat duduk kayu, simpel namun tetap berkesan untuk tempat mengopi. Dihiasi dengan ornamen lampu-lampu yang khas membuat tempat ini semakin betah untuk saya berlama-lama. Saya memesan Manual Brew dengan biji kopi lokal dari daerah Jawa Barat. Lalu teman saya juga memesan menu serupa namun dengan berbeda metode. Saya menggunakan french press dan teman saya V60. Menu tambahannya kami memesan Croissant with butter dan juga sepotong kue brownies hitam. Tambahan selanjtunya adalah satu latte ice, menambah dahaga yang sedari tadi haus.

Sumber foto: ihanifiqbal (Instagram)

Saat sampai, menu makanan kecilnya serta kopinya sangat berpadu. Cuaca mendung siang itu ditemani hangatnya croissant dan kopi enak. Coffee shop ini sejatinya mendukung untuk ngobrol santai atau pun rapat kecil untuk membahas pekerjaan. Hari senin siang, jadilah sangat produktif namun juga tetap santai.

Un bon croissant et une tasse de café

Croissant di sini termasuk yang enak untuk dinikmati dengan kopinya, terlebih duaduanya masih sama-sama hangat. Di Coffee shop ini juga banyak orang-orang yang ingin mengerjakan tugas atau sekedar mengobrol santai. Barista yang ramah menjadi point plus untuk coffee shop ini. Bisa dibilang Crematology menjadi top 10 coffee shop wajib dikunjungi bagi saya. Menu lainnya juga sangat bervariasi untuk dinikmati, dan semua menunya rata-rata cocok dinikmati dengan secangkir kopi. Untuk harganya, rata-rata perorang bisa mengeluarkan kocek sebesar 50-100 ribu rupiah. Cukup sepadan dengan rasa kopi yang enak, jika kalian ingin makan berat di sini juga tersedia beberapa menu andalan seperti pasta, sandwich, dan beberapa menu lainnya.

Obrolan Berfaedah di Ruang Tamu

livingroom
Sumber gambar: Pinterest

“Hari itu adalah dimana cerah muncul, dan tidak ada hujan. Tumben sekali karena beberapa bulan ini di Bekasi sering diiringi hujan”

 Sore di akhir pekan kala itu salah satu sahabatku ingin bercerita. Maka saya mengunjungi rumahnya, seperti biasa saja, memang sering saya main ke rumahnya sekedar gitaran atau berbincang random, lalu sisanya diisi dengan kegiatan makan atau entah akan lanjut pergi lagi. Tumben saya juga tidak ngopi di sore hari, karena mungkin saya sedang keasyikan membahas sesuatu yang kami berdua perbincangankan.

“Gue rencana mau bikin buku, yang nyeritain tentang perkembangan hidup gue, jadi ini buku gue mulai tulis dari sekarang. Dan bakalan gue rilis pas umur gue 30 tahun, menurut lo gimana?”

“Menarik, dan pasti punya prespektif berbeda dari tiap bagian atau cerita yang mau teman saya ceritakan.”

Pikir saya dengan jawabnya (sok lebih berwibawa biar dibilang  baik, padahal apalah aku ini #Kaliansuciakupenuhdosa)

Dari obrolan itu saya kembangkan lagi pembicaraan. Ngalor ngidul, obrolan berisikan masa lalu, masa sekarang dan sampai khayalan masa depan. Saya dan sahabat saya yang satu ini memang suka ceplas-ceplos kalau sedang berbincang membahas sesuatu. Ceplas-ceplos bukan berarti ngasal tanpa berfaedah kalau kata anak jaman sekarang, tapi ini lebih ke sesuatu yang memang kita perbincangkan dengan berpikir.

“Gila kita tahun ini udah 22 tahun njirr”

Ujung-ujungnya kita membiracakan umur, kita merasa ada resah di umur yang sekarang. Memang ada gundah atau resah tapi ini berjalan karena pola pikir kita yang memang resah ingin mencari sesuatu ingin membuat sesuatu yang menginspirasi, ataupun sedang ada ditahap yang ingin lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Wajar ada resah, karena kita sedang berproses. Banyak takut dengan sesuatu hal yang belum terjadi, namun sudah dipikiran oleh benak. Bahkan jika sesuatu yang telah terjadi itu nantinya terjadi, toh masing-masing dari kita akan bisa melewatinya dengan rasa takut yang hilang.

Perbincangan tak menentu ini akhirnya malah sampai malam, tidak terasa ketika kita membahas sesuatu dari prespektif berbeda. Ada saja cerita yang bisa dibahas, walaupun untuk hari itu saya berbincang tidak dengan segelas kopi. Intinya setiap obrolan sederhana dengan orang-orang sekitar adalah sesuatu yang selalu jadi pengingat. Mengingatkan akan hal baik, akan perubahan, harapan, serta renungan untuk diri sendiri. Diujung pamit untuk pulang ke rumah, saya bergumam dalam doa, semoga apa yang direncanakan oleh sahabat-sahabat saya akan menjadi mimpi yang terealisasikan, bisa menjadi pembuktian bahwa…

“Saya bisa melakukan ini!”

Kilas Balik Mengenal Musik Lokal Indie dengan Seruputan Kopi

indie-banget
Sumber: deathrockstar.club

Seruputan kopi di siang hari saat akhir pekan.  Biasanya dari hal ini munculah beberapa kebahagiaan sederhana. Sama seperti saat saya mendengarkan lagu-lagu indie lokal Indonesia, alunannya berbeda dari pasar yang ada. Menurut saya, mereka yang menyuarakan akan musik Indie adalah mereka yang berani berekspresi. Senang jikaa mendengarkan lagu baru musisi indie lokal yang musiknya sangat membuat saya ketagihan. Sama seperti kopi yang membuat saya ketagihan.

Balik ke masa dimana saya menjalani sekolah dasar, pada saat itu industri musik dipertengahan tahun 2000 didominasi musik-musik pop melayu bernuansa cinta-cintaan. Lalu saya tidak sengaja mendengarkan beberapa musik yang berbeda. Nuansa yang mereka hadirkan sangat beragam, kaya akan sentuhan suara-suara yang melegakan hati. Melegakan hati ini bisa diartikan sebagai menghilangkan gundah dari pasar musik saat itu.  Saat itu sedang ramai-ramainya film Janji Joni, terdengar juga musik dari soundtracknya. Dari situlah saya mengenal The Adams, White Shoes & The Couples Company. Lalu saya juga tidak sengaja mendengarkan The Upstairs, Goodnightelectric, di radio atau dari teman-teman yang memberitahu.Terlebih lagi, pada saat itu Fenomena raja pensi juga mendukung akan majunya band-band indie ini.

Tidak lama kemudian munculah Efek Rumah Kaca dengan lagu andalannnya “Lagu Cinta Melulu” yang menurut saya cukup menyadarkan kebanyakan orang akan musik Indie Lokal. Belum lagi Float yang muncul dengan aduhainya, Sore yang menggebrak kegelisahan melankolia, The Sigit yang membuat saya lompat-lompat, Mocca yang menunjukan kegemberiaan dari setiap alunannya. Semakin berjalannya waktu, semakin bermunculan band-band indie unik di tahun 2009an ke atas. Waktu itu saya ingat sekali diperkenalkan oleh teman saya sebuah band bernama The Trees & The Wild, Adhitia Sofyan, Endah & Rhesa, Tika & Dessidents, Seringai, Soulvibe, dan beberapa band lainnnya yang saya agak lupa (sebutkan di kolom comment kalau ada yang bisa menambahkan) yang mereka-mereka ini termasuk generasi musisi pensi pada zamannya. Tentu adanya regenerasi dari musisi indie lainnya dirasakan di tahun-tahun tersebut.

Namun jika melihat sejarahnya, saya baru menyadari bahwa suara-suara indie tersebut dimulai dari sebuah kampus seni. Kampus seni terkenal di Ibu Kota yaitu IKJ (Institut Kesenian Jakarta) tempat ini melahirkan beberapa musisi indie ternama. Seperti Jimi Multazam (Vokalis dari The Upstairs dan sekarang juga punya project bernama Morfem), Aprilia Apsari (Vokalis White Shoes & The Couples Company), Henry Foundation (dedengkot dari Goodnightelectric) dan ada beberapa orang lagi yang memang tergabung di musik projek yang sama, serta pendukung lainnya. Mereka-mereka ini yang menggebrak dengan musik nan menggairahkan pasar musik Indonesia. Salah satu dokumenter menarik bagi saya bisa dilihat di link dibawah ini. Salah satu dokumenter singkat produksi Pijaru ini membuka mata saya, jujur sejak muncul Sound From the Corner beberapa tahun lalu saya ingin membahas perkembangan musik Indie Lokal. Adanya dokumenter tersebut semakin menambah gairah untuk menulisnya sekarang.

Kisah pendek dalam mengenal musik indie saya berlanjut ketika saya melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Pada saat itu saya dikenalkan dengan salah satu seniman folk seperti Risky Summerbee & The Honeythief. Kala itu dikenalkan oleh teman yang ternyata vokalis dari band tersebut adalah salah satu dosen saya. Berlanjut menjelajah saya mengenal Frau, Stars & Rabbit, FSTVLST, Tik Tok, dan masih ada beberapa band indie lainnya. Sangat berkesan ketika mengenal musik-musik mereka yang ternyata membuat saya betah dengan Yogyakarta. Saya mengenal sisi lain musik dari kota kelahiran Sheila On 7 ini.

Bisa dibilang musik indie lokal semakin bersuara, berkualitas dengan karyanya, dan juga tidak main-main dengan prestasinya. Salah satu cita-cita saya bisa dibilang ingin sekali masuk dalam pasar indie dalam berkarya, entah dengan musik, karya sastra, dan karya seni lainnya. Setidaknya mereka-mereka yang telah memulai berkarya dan telah membuktikannya adalah mereka yang sekarang menjadi penyemangat. Bahwa mereka telah membuktikan dengan karyanya yang dapat menciptakan pasar tersendiri bagi penikmatnya.

Catatan: Hanif Iqbal

 

Antara Cerita Bung Karno, Celetukan Tentang Cinta, dan Lagu Jazz

“Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” (Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno).

 Pagi itu secangkir kopi tubruk menemani saya, lalu sambil menikmati alunan lagu lama. Menikmati hujan yang beberapa hari ini sering mengguyur Jabodetabek. Membaca beberapa email, dan juga menikmati kata-kata yang saya cari untuk bahan tulisan. Lalu menemukan sebuah kata-kata lama dari Presiden Indonesia terdahulu, yaitu Bapak Dr.Ir. H. Soekarno atau lebih dikenal dengan nama Bung Karno.

Benar adanya jika Bung Karno adalah sosok wibawa dengan pembawaannya, ia dapat memikat banyak kaum hawa pada saat itu jatuh cinta. Cerita cintanya pun menjadi salah satu kisah tersohor. Sambil melihat foto Bung Karno yang berada di ruang tamu dengan tanda tangannya, saya menanyakan kepada ibu. Foto itu ada karena dulu kakek saya adalah seorang wartawan, ia kerap mengikuti beberapa acara dengan Bung Karno. Jadilah ia diberi kenang-kenangan berupa sebingkai fotonya. Dari banyak kisah, saya tahu bahwa beliau sangat romantis namun tetap bijaksana, bukan sekedar gombal biasa, itulah yang dilihat dari beberapa pujangganya tentang cinta. Banyak beberapa memoar tentang ceritanya dan beberapa istrinya. Cerita tersebut bisa dilihat di buku yang berjudul Bunga-Bunga di Taman Hati Soekarno, Kisah Cinta Bung Karno Dengan 9 Istrinya yang ditulis penulis Haris Priyatna, dan Total Bung Karno karya Roso Daras.

Memang sudah porsinya berarti, pastilah ada sulit untuk dirasakan. Bagi saya, cinta adalah sesuatu yang membuat kepayang, bingung bila dirasakan terlalu dalam. Kadang tidak mudah ditebak, firasat pun jadi teman pendukungnya. Memang tidak datang dengan mudah, namun bisa saja pergi dengan mudah. Bagi yang sedah jatuh-jatuhnya sama cinta, tetaplah mawas diri, namun bersungguh-sungguh untuk saling mendukung juga. Seperti sayap yang bisa membuat terbang.

“Tahu apa kamu tentang cinta?”

Sebenarnya tahu karena pernah merasakan beberapa cerita, tapi dibilang sangat mengerti juga tidak. Tulisan ini hanya ocehan yang ingin dibicarakan saja, karena memendam tidaklah seenak yang dipikirkan. Setelah membaca tulisan ini coba kamu klik link lagu yang berada di atas, lagu favorit dari salah satu penyanyi Youtube. Ikuti beberapa instruksinya, pejamkan mata, dan bayangkan bahwa kamu bisa sekedar melihat mata orang yang disuka.

Apasih Coffee Snob itu?

2017-02-05-14_58_11-capture
(Sumber: Coffeesmithjkt)

Di kesempatan kali ini saya ingin membahas sesuatu yang beberapa tahun belakangan ini lagi hype, yaitu pecinta kopi, atau biasanya kalangan orang-orang perkopian menyebutnya dengan coffee snob. Pecinta kopi memang bermunculan lebih menjamur, dari yang mulai mencap dirinya pecinta kopi di sosial media,sampai yang mulai menjelma karena ikut-ikutan, atau yang dengan ilmu seadanya menjelaskan perkopian yang ada. Ada juga yang sudah melalang buana demi secangkir kopi dan terbukti sangat mumpuni menjadi coffee snob itu sendiri.

” An individual who cares about what coffee or coffee mix drink they put in their mouth. A coffee snob is not ok with starbucks, or Tim hotrons, or dunkin doughnuts, or mcdonalds…etc.” – Kutipan dari urban dictionary

Seperti itulah gambaran singkatnya si coffee snob tersebut. Entah saya bisa dibilang seperti itu atau tidak, tapi beberapa ciri-ciri yang akan dibahas ini mungkin akan mendeskripsikan seorang coffee snob lebih lanjut.

  1. Menyeruput dan Tidak dengan Diminum Langsung

Dari cara seorang coffee snob itu bisa dilihat saat dia menikmati secangkirnya. Biasanya orang ini akan menyeruput dengan bunyi “Slurp..Slurp,” begitulah sejatinya. Kerap melakukan itu karena ingin merasakan flavour yang ada, menikmatinya dengan khusyuk. Lalu dilanjutkan dengan muka-muka lagi berpikir, sangking seriusnya kalau ditanya “Gimana rasanya?” wah….. bisa dibarengi dengan penjelasan yang cukup panjang.

2. Hafal Bahasa-bahasa yang Berbau Kopi

Kalau hal yang satu ini memang sering banget nih menjadi bahan obrolan. Dengan fasihnya akan keluar dari mulut kata-kata seperti acidity, brewing, bitterness, sweatness, medium, cupping, break, tamping dan masih banyak lagi. Kalau udah bicarain hal-hal yang berbau kopi akan saling ngasih informasi dan akan amat sangat kepo tentang kopi.

3. Shopisticated

Kalau seorang coffee snob ingin memesan kopi yang dinikmati pasti harus perfect, dan bahkan memesan yang tidak ada di menu yang ditampilkan. Selera secangkir kopi yang tinggi membuatnya memang harus tidak sembarang memesan. Seorang coffee snob akan langsung memesan menu seperti Split. Atau, Magic. Atau, Tasting Flight. Quadrupple espresso. Pocahontas. Beelzebub.(Sumber tambahan: Kopikini)

4. Paham Sama Kopi yang Dia Nikmatin

Kalau mau mesan kopi atau nikmati kopi gak sembarangan beli. Misalkan seperti ini, “saya mau kopinya single origin ya” atau akan lebih memperhatikan suhu yang tepat. Menurut National Coffee Association suhu air paling baik dalam membuat kopi ideanya adalah 195°F sampai 205°F atau 90 – 96 derajat celcius. Tapi beberapa orang biasanya menggunakan suhu di bawah 90 derajat Celsius saat menyeduh dengan metode manual brew. (Sumber tambahan: ottencoffe)

5. Starbucks Itu Nggak Banget

sb
(Sumber: Eonline.com)

Seorang coffee snob akan menganggap gerai kopi dari amerika ini adalah pantangan. Mereka enggan ngopi di tempat ini. Mungkin mereka akan lebih memilih ngopi di kedai kopi lokal. Atau pilihan mereka bisa jadi membeli biji kopi yang sudah di roasting dan memang menikmatinya dengan alat grinder kepunyaan sendiri. (Padahal di dompetnya bisa saja ada kartu member, atau pun di sosial media line-nya dapet promo dan langsung dibelikan pada hari itu juga)

6. Mengoleksi Barang-Barang yang Berbau Kopi

Mengoleksi adalah bagian dari kesukaan atau hobi. Maka coffee snob sejati biasanya punya barang-barang seperti kaos, jacket, tas, buku, atau bahkan koleksi lainnya yang berhubungan dengan kopi. Tidak lupa dengan alat-alat sederhana pembuat kopi, entah penyeduhmanual. grinder, dan barang-barang lainnya.

7. Merasa Sohib Banget Sama Barista-Barista Ternama

m-aga
(Sumber: qraved)

Kalau yang satu ini lucu-lucu songong sih, merasa kayaknya udah friend banget sama barista-barista seperti Mat Perger atau Tim Wendelboe, atau kalau dari Indonesia ada Muhammad Aga.

Berikut gambaran tentang coffee snob. Artikel ini hanya sekedar untuk bacaan dan saling sharing, seru-seruan, dan menambah ilmu. Jikalau ada yang kurang mohon ditambahkan, atau pun bisa komen di blog ini. Hidup kopi Indonesia!!

Shophaus Menteng, Satu Paket Enak di Akhir Pekan

img-20170108-wa0017-01
potret dari luar

Akhir pekan, dimana waktu untuk cheating atau istilah istirahat untuk bagi orang-orang yang menjalani diet, tentu tidak ada salahnya dilakukan. Seperti biasanya, bacakopi ingin membahas tempat ngopi akhir pekan. Kalau kali ini rekomendasi tempat khusus untuk cheating day nya yang sedang diet. Berawal dari diajak salah satu temannya teman saya. Akhirnya saya dan 2 teman saya menuju ke daerah Menteng. Lalu kami mengunjungi Shophaus. Tempatnya cukup strategis, tengah kota dan ditemani pemandangan hiruk pikuknya.

“A collaboration space joint is one of the newest place model that attract so many visitors lately, bringing such a fresh concept where we can find easily several brands being in one place at the same time.” – (Kutipan dari Foodirectory.blogspot.id )

img_20170107_111238-01
Waffle Ice Cream dan Secangkir Kopi (Magic)

Bisa dibilang tempat yang satu ini menawarkan sebuah paket akhir pekan yang lengkap. Bersantai dengan ice cream, atau ingin menikmati secangkir kopi enak, atau pun kita juga bisa menikmati makanan enak lainnya. Pilihan Ice cream dengan rasa bervariasi sangat cocok untuk penghilang panas di akhir pekan, siang bolong dengan obrolan-obrolan, icip makanan sana-sini, sesekali tak apa jika awal bulan tiba.  Kopinya tidak kalah enak, saya memesan menu bernama “Magic” dengan pilihan biji kopi Panama, sesekali menikmati biji kopi dari luar Indonesia. Tempat nan santai serta sejuk, tidak kalah menariknya jika ingin mengabadikan momen bersama sahabat dan keluarga. Beberapa produk seperti Pigeonhole Coffee, Berrywell, Gelato Secrets, Mockingbird and Namelaka Patisserie  bisa dinikmat di satu tempat.

img_20170107_105218-01
Ruang bagian coffe shop

Banyak menu yang cukup enak, terutama kopi dan ice creamnya yang saya dan teman saya coba. Budget untuk 2 sekitar 150 ribu, maka anda bisa menikmati berbagai makanan dan minuman yang ditawarkan. Tidak bisa diragukan lagi bahwa tempat ini juga menjadi tujuan banyak muda-mudi untuk mengambil potret, menambah update-an di sosial media. Untuk tempat yang satu ini saya akan kembali lagi, sambil menikmati suasananya dan menikmati menu yang belum saya coba.